Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Arsen


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Deva yang melihat istrinya berubah seketika itu langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan, membuat Davina terkejut sekaligus heran dengan apa Deva lakukan. Davina menoleh ke arah Deva dengan tatapan sayu. Namun, Deva yang melihat itu justru menatap Davina dengan tatapan dingin.


“De-deva, ada apa? Apa yang terjadi? kenapa kau menghentikan mobilmu, apa kita sudah sampai?” tanya Davina bertubi-tubi.


“Setelah aku pikir-pikir, kita akan makan di Restoran yang kau lihat tadi,” jawab Deva dengan santai tanpa menampilkan raut wajah apapun, membuat Davina semakin takut.


“Deva, di sana sepertinya sangat ramai. Bukankah kau tidak menyukai keramaian?” tanya Davina berharap Deva mau mendengarkannya.


“Aku tahu itu, maka aku akan menambah keramaian di sana. Bukankah mereka menyukai keramaian,” ucap Deva sarkas, membuat Davina semakin takut jika Deva akan melakukan hal gila di tempat itu.


Deva segera memarkirkan mobilnya di depan Restoran tersebut. Davina yang melihat Deva sudah turun merasa tubuhnya bergetar ketakutan. Di sisi lain ia ingin kembali pada masa lalunya, di sisi lain juga ia merasa khawatir jika ia kembali, akan ada banyak korbannya.

__ADS_1


Deva menggandeng istrinya memasuki Restoran tersebut, dengan wajahnya yang dingin dan datar. Orang-orang yang melihat adanya seorang pemilik perusahaan besar yang ada di sebrang sana menganga tak percaya, karena memasuki Restoran sederhana tersebut.


Ya, semua orang tahu jika Deva adalah seorang CEO, tapi tidak ada yang mengetahui jika pria tampan dan gagah itu juga seorang Mafia berdarah dingin.


Deva segera mencari tempat duduk yang ada di dekat jendela, agar istrinya merasa jauh lebih nyaman. Tanpa menunggu lama lagi, akhirnya mereka makan setelah datang pesanannya. Namun, betapa terkejutnya Davina, saat ada seseorang yang menepuk bahunya.


“Davina, kau di sini?” tanya sosok pria yang baru saja muncul dari arah belakang. Davina yang mendengar hal itu, langsung menepis tangan tersebut dan langsung membalikkan tubuhnya.


Degg!


“A-arsen,” gumam Davina yang tak bisa melanjutkan ucapannya. Lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan sesuatu, apalagi saat melihat Deva yang hanya diam dan memperhatikan keduanya secara bergantian.


“Siapa kau?” tanya Deva dingin dengan tatapan tajamnya ke arah Arsen, membuat pria itu menoleh ke arah Deva dengan tatapan herannya.


“Aku yang harusnya bertanya, siapa kau dan kenapa kau bersama kekasih ku?” tanya Arsen tak terima sambil menatap sinis ke arah Deva, membuat Deva terkekeh dan menampilkan senyum smirk nya.

__ADS_1


“Deva, berikan aku waktu bicara padanya. Aku mohon jangan sakiti dia,” pinta Davina sambil memegangi lengan Deva dengan wajahnya yang memelas.


“Vina, apa yang kau lakukan, kenapa kau sampai memohon pada pria itu. Katakan siapa dia, aku akan melindungi dirimu,” ucap Arsen sambil menatap Davina dengan tatapan tak habis pikir.


“Katakan saja di sini,” ucap Deva dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari Arsen.


“Ta-tapi--,” ucap Davina gugup.


“Katakan atau aku akan membunuhnya!” bentak Deva yang mampu membuat Davina tersentak kaget. Davina menoleh ke arah Arsen dengan mata yang berkaca-kaca, sungguh ia ingin lari ke pelukan pria yang ia cintai saat ini.


“Dengan alasan apa kau berani mengancam untuk membunuh ku dan membentak Davina. Kau sama sekali tidak pantas berada di sekeliling Davina,” ucap Arsen yang tak kalah tegas sambil menatap Deva dengan tatapan tajamnya.


...****************...


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2