Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Keputusan Deva


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Deva menampilkan senyum devil nya sambil menatap Arsen dengan tatapan yang sudah tak dapat diartikan.


“Apa kau merasa takut padaku sekarang?” tanya Deva yang sudah jongkok di hadapan Arsen sambil mengangkat pisau kecil di tangannya.


“Aku hanya berharap suatu saat nanti istri cantik mu itu meninggalkan mu, bahkan jika perlu, anak yang kau sayangi juga benci lalu pergi meninggalkan Ayahnya,” ucap Arsen dengan suara menahan rasa sakit dari kedua lengannya.


Srekk!


Arghh!


Deva menyayat wajah Arsen dengan perlahan, membuat pria meringis kesakitan. Namun, Deva yang mendengar hal itu malah tertawa lepas bagaikan iblis.


“Apa kau teriak bahagia?” tanya Deva dengan santai sambil memasang wajah tanpa dosa.


“Ck! Aku rasa nasib ku jauh lebih baik daripada dirimu. Lihat perubahan Davina setelah dia sadar, dan aku akan sangat bahagia dengan hal itu, apalagi jika aku masih menyaksikan secara langsung,” ucap Arsen sambil terkekeh mengejek.


“Bos, sepertinya kita sudah salah membuat perhitungan, dia semakin banyak berbicara dan membuat telingaku menjadi tidak nyaman,” ucap Galen yang kini sudah angkat bicara.


Dorr! Dorr! Dorr!


Deva langsung menembak Arsen tepat di arah jantungnya sebanyak tiga butir timah panas dengan jarak dekat, membuat pria itu langsung mengeluarkan banyak darah dari dadanya dan juga darah dari mulutnya.


Arsen terjatuh dari duduknya karena langsung meregang nyawa di tempat setelah di tembak.


“Kau benar, dia terlalu banyak bicara. Max, kau kuliti saja dia,” ucap Deva dengan nada menyesal.


“Bos, tapi dia sudah mati, pasti rasanya sangat hambar jika dia tidak kesakitan,” protes Max tak terima jika Arsen di berikan padanya setelah mati.


“Kau lakukan saja tugas mu, dan kau Galen, urus mayatnya bersama Max setelah selesai, aku akan pulang dan melihat kondisi istriku,” ucap Deva dengan nada perintah.

__ADS_1


“Siap bos, kami akan melakukan dengan sangat rapih dan bersih,” ucap Max dan Galen bersamaan.


“Hm, bagus,” ucap Deva dan segera bergegas pulang ke Mansion miliknya untuk melihat keadaan sang istri.


Deva mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pria itu sudah tidak sabar ingin segera melihat istrinya yang ia tinggalkan dalam keadaan tak sadarkan diri itu. Hari juga sudah semakin gelap setelah seharian ini mengurus si pria brengsekk itu.


“Davina, aku harap kau baik-baik saja,” gumam Deva dengan penuh rasa cemasnya.


...----------------...


Tak butuh waktu lama, akhirnya Deva sudah sampai di Mansion tersebut dan segera melangkahkan kakinya memasuki bangunan megah dan mewah itu.


“Selamat datang tuan,” sapa Aliya menyambut kedatangan sang tuan.


“Hm, Aliya, bagaimana keadaan istriku? Apa dia sudah sadar?” tanya Deva penasaran dengan perasaan yang tak karuan.


“Sudah tuan, nona sudah sadar sejak satu jam yang lalu,” jawab Aliya.


“Apa dia sudah makan?” tanya Deva kembali.


Deva yang mendengar jawaban dari Aliya, langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar miliknya. Deva tidak peduli akan sikap Davina yang akan ia terima, yang terpenting saat ini adalah kondisi istri dan calon anaknya.


...----------------...


Deva membuka pintu kamarnya secara perlahan, hingga menampilkan sosok wanita yang tengah meringkuk di atas tempat tidur berukuran king size miliknya. Dengan perlahan akhirnya Deva memasuki kamar tersebut ke arah istrinya.


“Davina, apa kau sudah bangun sayang?” tanya Deva sambil mengelus puncak kepala milik Davina, setelah ia naik ke atas tempat tidur tersebut.


Namun, Davina yang merasakan sentuhan Deva langsung menepis tangan suaminya dengan keras dan segera menjauhkan diri dari Deva.


‘Sayang? Apa aku sedang mengigau hingga mendengar dia memanggil ku dengan sebutan menjijikan itu. Ah! Hatiku terlanjur sakit karena rasa kecewa yang terlalu dalam,’ batin Davina sambil mengusap lelehan bening yang sejak tadi terus mengalir.


“Davina, aku minta maaf. Aku tahu aku salah, aku mohon tolong berikan aku kesempatan,” ucap Deva memohon sambil terus memeluk istrinya, meskipun wanita itu berusaha melepaskan diri dari suaminya.

__ADS_1


“Maaf? Kau terlalu mudah untuk mendapatkan kata maaf itu dari mulut ku, bahkan rasa sakit ku yang berkali-kali lipat ini sudah tidak mampu memberikan maaf untuk siapapun itu, termasuk kamu,” ucap Davina dengan suara seraknya karena menahan tangisnya.


“Aku akan menebusnya asal kau mau memaafkan aku, aku mohon Vin,” ucap Deva yang kini sudah mulai meneteskan lelehan bening dari sudut matanya.


“Benarkah? Apa kau akan sanggup jika menebusnya? Aku rasa kau tidak akan mampu menebusnya, karena apapun yang kau lakukan untuk meyakinkan aku, tetap saja kesalahan mu begitu besar hingga tidak bisa aku maafkan. Kau akan tetap salah di mata, hati, dan juga dalam kehidupan ku, aku akan tetap membenci mu untuk seumur hidup ku,” ucap Davina yang kini sudah terduduk dan ingin meninggalkan Deva di atas tempat tidur tersebut.


Namun, Deva yang melihat Davina ingin turun, langsung menahan tangan mungil istrinya. Ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan maaf dari wanita yang akan menjadi ibu dari calon buah hatinya.


“Davina, aku berjanji padamu, aku akan melakukan apapun untuk menebus segala dosa dan kesalahan ku, asal kau mau memaafkan aku. Aku mohon sayang,” ucap Deva dengan suara serak karena menangis.


“Aku sudah mengatakannya, aku tidak akan pernah memaafkan mu, apapun alasannya. Sekarang lepaskan aku dari jeratan gila mu ini,” pinta Davina dengan datar tanpa melirik ke arah Deva sedikit pun.


Deva terkejut dengan permintaan istrinya yang jelas-jelas tidak akan ia kabulkan sedikit pun. Bagaimana bisa ia berpisah dengan wanita yang selama ini sudah menemani hari-harinya, apalagi ada calon bayi, darah dagingnya sendiri.


“Davina aku mohon, tolong jangan katakan itu. Aku tidak bisa melepaskan mu, dan juga anakku. Aku mohon jangan pernah meminta pergi dari sisiku. Apalagi anak kita akan segera lahir, aku tidak bisa jauh darimu dan anak kita,” ucap Deva memohon sambil menciumi tangan mungil Davina dengan lelehan cairan bening yang terus mengalir dari sudut matanya.


“Kau tidak akan pernah mau menerima apapun bentuk ketulusan dari kata maaf mu itu. Apa aku bisa membunuh mu seperti kau membunuh semua keluarga ku?” tanya Davina sambil terkekeh sinis.


Jantung Deva seakan berhenti berdetak setelah mendengar pertanyaan dari istrinya. Benar apa yang dikatakan Davina, ia harus menerima konsekuensi apa yang telah ia lakukan terhadap keluarga Emery.


Beberapa saat Deva hanya diam tak menanggapi pertanyaan istrinya, dengan perasaan tak karuan dan mata yang semakin memerah membayangkan konsekuensi perbuatannya sendiri, akhirnya Deva memutuskan keputusan akhir dalam hidupnya.


“Berjanjilah padaku, bahwa kau akan bahagia. Berjanjilah padaku, jika kau akan merawat anak kita dengan baik. Aku hanya berharap suatu saat anakku tidak akan pernah memanggil pria lain sebagai ayahnya, tapi ini adalah balasan dari perbuatan ku,” ucap Deva dengan nada yang melemah karena menahan tangis rasa sakitnya.


“Pegang lah, bunuh lah aku. Aku tahu kau bisa melakukan itu. Aku harap, dengan kematian ku, rasa sakit mu akan sedikit berkurang,” ucap Deva dengan lemah sambil menggenggam kan sebuah senjata api di tangan Davina.


“Asal kau tahu, hidup ataupun mati dirimu, semuanya tidak akan pernah berubah, aku akan tetap membenci dirimu. Tetapi, rasanya tidak adil jika kau masih hidup di dunia ini, maka bersiaplah,” ucap Davina yang sudah berdiri menghadap ke arah Deva sambil menodongkan senjata api tersebut.


Deva memejamkan matanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan Davina.


Klekk!


Dorr! Dorr! Dorr!

__ADS_1


...****************...


__ADS_2