
Selamat membaca ...
...****************...
Deva maupun Davina menghela napasnya panjang, saat mendengar rengekan putri keduanya. Deva harus bisa bersabar menghadapi setiap rengekan dari ke empat anaknya tersebut. Deva yang notabennya adalah seorang Mafia yang kejam, sangat mustahil bisa setenang itu. Namun, kenyataannya adalah ia justru sangat senang, saat bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang ayah bagi ke empat anaknya itu.
‘Dev, setelah ini, apa kau masih mau merengek lagi padaku, untuk melahirkan anak ke lima,’ batin Davina terkekeh dalam hati.
Deva yang melirik sekilas ke arah sang istri, malah mendengus kesal saat melihat seulas senyum yang terbit dari bibir indah Davina, hingga ia langsung menghela napasnya panjang. Ia tahu jika Davina sedang menahan tawa saat melihat dirinya tengah bingung menghadapi sikap anak-anaknya.
“Daddy ... aku mau itu,” rengek Vira sambil menggoyangkan tangan sang Daddy, yang sejak tadi hanya diam tak bergeming sama sekali.
“Sayang, kau tadi sudah meminjam ponsel kakak mu. Kalian gantian dulu ya.” Kini Davina yang angkat suara untuk menenangkan putri keduanya tersebut, karena ia tahu jika Deva tidak akan pernah sanggup menolak setiap keinginan anak-anaknya. Apapun itu!
Derry si sulung itu hanya mencebik penuh kemenangan saat melihat ke arah adiknya yang sedang mengadu pada kedua orang tuanya. Benar saja, Vira yang melihat sang kakak tersenyum penuh kemenangan itu membuat ia semakin kesal, dan membuat ia merengek kembali pada sang Daddy.
“Dadd ... lihatlah. Kakak sedang menertawakan aku,” rengek Vira sambil menunjuk ke arah Derry yang sudah seperti semula, yang mana hal itu membuat Vira menjadi sangat kesal.
__ADS_1
“Sudah, sudah. Sebaiknya kalian cepat tidur siang dulu. Vira sayang, jangan terlalu banyak main ponsel ya, itu tidak baik. Mommy akan mengizinkan kalian memegang ponsel sendiri jika sudah waktunya,” bujuk Davina yang juga sudah mulai kualahan saat melihat anak-anaknya tidak ada yang akur.
“Tapi Momm, aku baru saja main ponsel.” Kini Derry yang membuka suara, karena tak terima jika waktunya sudah habis untuk bermain ponsel.
“Apa kalian ingin membantah ucapan Mommy, hm!” ucap Deva sarkas dengan tegas, yang mana hal itu membuat Derry maupun Vira terdiam seketika.
“Selamat istirahat Momm, Dadd.” Derry patuh dan memberikan ponsel yang ada di tangannya pada sang Daddy. Begitu pun dengan Vira. Gadis kecil itu sudah pergi lebih dulu setelah mencium pipi kedua orang tuanya.
“Hmm, Good boy. Ingatlah, daddy melakukan ini karena sangat menyangi kalian semua,” ucap Deva sambil mengacak rambut milik si sulung. Derry mengangguk dan segera bergegas pergi dari hadapan kedua orang tuanya.
***
Kini Davina sudah ada di dalam kamar, setelah menidurkan si bungsu Daffa di kamarnya. Wanita itu juga tengah bersiap untuk merebahkan dirinya di atas tempat tidur yang berukuran besar tersebut. Jujur saja ia merasa sangat lelah seharian penuh ini mengurus si bungsu yang sangt aktif, dan juga anak-anaknya yang lain, yang terus berselisih.
Namun, pada saat ia hendak memejamkan mata. Tiba-tiba saja terdengar suara pintu terbuka dan menampilkan sosok pria yang sudah menjadi suaminya selama beberapa belas tahun ini, yang tak lain adalah Deva.
“Sayang, apa kau sangat lelah?” tanya Deva yang sudah naik ke atas tempat tidur dan mengelus puncak kepala milik istrinya dengan sangat lembut. Tak lupa juga pria itu mengecup rambut Davina yang sangat wangi di indera penciumannya.
__ADS_1
“Hmm, sedikit,” jawab Davina pelan, dan membuka matanya secara perlahan untuk melihat ke arah Deva.
“Diam lah, aku akan memijat kaki mu,” ucap Deva yang kini sudah terduduk untuk memijat kaki Davina. Wanita itu segera bangkit untuk duduk.
“Dev, kau juga pasti lelah setelah bekerja di kantor. Sebaiknya kita segera istirahat saja,” ucap Davina memberi saran.
“Tidak ada yang melelahkan bagiku, selama ada kamu dan dan anak-anak.” Deva tersenyum sambil memijat kaki istrinya itu.
Pria itu menghela napasnya kasar. “Aku hanya berharap kalian akan bahagia. Ada atau tanpa aku di sisi kalian,” ucap Deva yang masih saja memijat kaki milik Davina.
Wanita itu tertegun dan menatap Deva dengan tatapan tak habis pikirnya. Davina menghentikan gerakan Deva dan langsung menarik kakinya.
“Apa yang kau katakan. Kita akan tetap bersama dan bahagia bersama anak-anak kita. Kau jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal lagi,” ucap Davina yang segera memeluk Deva dengan erat. Ia berusaha menenangkan Deva agar pria itu tidak selalu merasa cemas.
“Hm, aku hanya merasa takut. Aku sangat takut kehilangan mu dan anak-anak,” ungkap Deva membalas pelukan Davina.
“Anak-anak kita sudah banyak dan juga sudah besar. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan mu,” tukas Davina lagi berusaha tidak membuat Deva cemas.
__ADS_1
...****************...