Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Kembali


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Davina menghentikan langkah kakinya saat Deva memanggil sambil memegang tangannya. Wanita itu hanya diam kaku seperti sikap sebelumnya pada sang suami. Deva yang hanya diam saja, membuat Davina mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti dengan apa yang Deva inginkan.


“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Davina datar tanpa mau melihat sedikit pun ke arah Deva.


“Vina, ikut aku,” ucap Deva sambil menarik tangan Davina ke kamar milik Deva.


Davina yang ditarik tanpa persetujuan darinya, langsung menepis genggaman tangan Deva. Namun, Deva kembali menarik tangan Davina dan langsung menggendong wanita tersebut.


Davina menatap tajam ke arah Deva sambil terus memukul dada bidang milik suaminya, meskipun pukulan itu tidak tidak ada artinya bagi Deva, tapi pria itu tidak berani menatap wajah Davina yang sedang melayangkan tatapan mautnya.


“Deva apa yang ingin kau lakukan, cepat lepaskan aku!” teriak Davina yang terus memberontak.


Hingga wanita itu membulatkan matanya sempurna, saat Deva membawanya masuk ke dalam kamar milik pria yang sedang gila tersebut. Namun, yang membuat Davina merasa lebih takut adalah, Deva mengunci kamar tersebut dan membuang kunci itu ke sembarang arah.


Deva menurunkan Davina dari gendongannya di atas sofa yang berukuran besar. Davina langsung bangkit dan menampar pipi Deva dengan sangat kasar, hingga pria itu mengusap pipinya yang terasa sangat panas.


“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Davina sekali lagi, sambil menatap Deva dengan tatapan sinisnya. Namun, Deva hanya diam tak bergeming sambil menundukkan kepalanya.


“Apa kau bisa mendengar ku tuan?!” tanya Davina dengan suara lantang dan menatap Deva seperti ingin memangsa pria yang ada di hadapannya tersebut.

__ADS_1


“Maaf,” ucap Deva lirih tanpa melirik ke arah Davina.


“Ke mana kau membuang kunci itu, aku ingin segera keluar,” ucap Davina sambil mendorong tubuh Deva.


Melihat Davina yang ingin melangkahkan kakinya menuju pintu, akhirnya Deva segera berlutut di kaki Davina sambil menangis dan memohon.


“Vina, maafkan aku. Aku tidak ingin hubungan kita terus seperti ini. Setiap hari kau menatap ku dengan tatapan jijik, kau memandang ku seolah aku tak layak hidup di sisi mu. Aku mohon berikan aku kesempatan untuk memulai hidup baru bersama mu, dan juga anak kita,” ucap Deva sambil memeluk kaki istrinya, meskipun Davina berusaha untuk melepaskan diri agar Deva tidak melakukan hal bodoh itu lagi.


“Deva bangun lah,” ucap Davina sambil mencoba membangunkan Deva dari kakinya.


Deva mendongakkan kepalanya, menatap ke arah Davina. Pria itu bangun dan diajak duduk di samping Davina. Wanita itu terlalu lembut meskipun sikapnya dingin terhadap Deva.


“Vina,” ucap Deva dengan lirih sambil menunduk. Pria itu duduk di samping Davina sambil menghadap ke arah istrinya.


“Aku sudah memberikan jalan untuk mu selama ini Dev, tapi kau selalu ketakutan di hadapan ku. Katakan padaku, di mana letak kesalahan ku?” tanya Davina datar sambil menatap Deva dengan tatapan tak habis pikir.


“Ap-apa kau mau memberikan kesempatan itu lagi?” tanya Deva sambil mengusap lelehan bening di pipinya dengan tatapan bahagianya.


Davina hanya menganggukan kepalanya pelan tanpa senyuman di wajahnya, membuat Deva hanya menahan senyum karena merasa malu di hadapan istrinya.


“Apakah aku boleh tidur bersama baby boy kita?” tanya Deva penuh harap.


...****************...

__ADS_1


(Di kasih hati minta bobo bareng eeaaak)


Kalo ceritanya sedikit somplak, suka gak man teman?


Ini dia keluarga Cemara


Daddy




Mommy




Baby boy



__ADS_1


__ADS_2