
Selamat membaca ...
...****************...
“Momm, tolong kembalikan ponselku,” pinta seorang pria tampan berusia lima belas tahun tersebut pada sang Ibu.
“Memangnya siapa yang mengambil ponsel mu?” tanya sosok Ibu yang tak lain adalah Davina.
“Ponsel ku direbut Vira. Aku mau main game,” rengek sosok pria tampan yang tak lain adalah putra sulung dari pasangan Deva dan Davina, yaitu Derry.
“Biarkan saja dulu, dia adikmu. Kau panggil saja Daddy dan ajak adik bungsu,” ucap Davina dengan nada perintah.
“Hmm, baiklah,” ucap Derry dengan nada malas, sambil menghela napasnya panjang.
Derry melangkahkan kakinya keluar dari dapur sambil membawa kekecewaan dalam hatinya. Pria tampan itu memang sangat suka sekali bermain game dalam ponsel miliknya, hingga membuat Davina khawatir. Takut sang putra akan kecanduan oleh hal yang tidak baik jika terus menerus dilakukan.
Beberapa tahun menjalani rumah tangga bersama Deva. Akhirnya Davina sudah di karuniai empat orang anak. Satu putra sulung bernama Derry Ghazanvar, yang kini sudah berusia lima belas tahun. Anak kedua, terlahir seorang putri bernama Davira, yang biasa dipanggil dengan sebuatn Vira, berusia sepuluh tahun.
Anak ketiga Davina pun lahir seorang putri kembali, bernama Danita, biasa dipanggil Nita. Gadis kecil yang imut itu kini sudah berusia 6 tahun. Kini, anak bungsu Deva dan Davina lahir seorang putra yang bernama Dafa Ghazanvar, yang masih berusia satu tahun.
“Nyonya, sebaiknya biarkan para koki saja yang menyiapkan makan siang kita. Nyonya kembali saja ke kamar,” ucap sosok pelayan yang selalu setia melayani keluarga Deva.
“Aliya, aku hanya ingin bergerak saja, apa itu juga tidak boleh. Kalian terlalu berlebihan menjaga ku,” gerutu Davina sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
“Em, kalau begitu, saya permisi Nyonya,” ucap Aliya yang tiba- tiba pergi dari sana. Davina yang melihat hal itu mengernyitkan dahinya sangat heran dengan tingkah Aliya.
__ADS_1
Namun, lamunannya segera buyar, saat ada seseorang yang memeluknya dari arah belakang. Davina merasakan tangan kekar yang ia kenali itu begitu lembut saat menyentuhnya. Hembusan napas segar dari arah belakang membuat telinganya memerah saat merasakannya.
“Dev, lepaskan aku. Apa kau tidak melihat, aku sedang membuat bubur untuk Dafa?” tanya Davina tanpa menoleh ke arah belakang.
“Aku sangat mencintai mu, sayang,” bisik Deva tepat di telinga istrinya, dan menghiraukan pertanyaan dari Davina. Tak lupa juga pria itu menciumi ceruk leher jenjang milik Davina, hingga membuat Davina merasa geli.
“Aku tahu itu. Sekarang cepat lepaskan aku. Apa kau meninggalkan Dafa sendirian?” tanya Davina yang mengingatkan, karena sudah menjadi kebiasaan Deva yang sangat ceroboh.
“Dafa sudah tidur, Derry sedang mengajak Nita bermain, tapi raut wajahnya seperti sedang kesal. Sedangkan Vira, dia sedang bermain game di ponsel Derry,” jawab Deva yang sangat pusing saat mengingat anak- anaknya selalu ribut karena masalah hal sepele.
Davina terkekeh saat mendengarkan Deva sedang menjelaskan kegiatan anak- anaknya. Pria itu sudah seperti seorang guru yang sedang mengabsen anak muridnya saja. Tentu saja Davina tahu alasan putra sulungnya terlihat kesal. Itu karena sebuah ponsel yang sedang dipakai oleh Vira adiknya.
“Sayang kenapa kau tertawa?” tanya Deva sambil menampilkan raut wajah bingung, saat mendengar istrinya terkekeh tanpa sebab.
“Tidak apa- apa. Aku bertanya hanya ingin mengalihkan air mata mu itu, saat mengatakan cinta padaku,” jawab Davina dengan santai. Tak terasa Davina sudah selesai memasak bubur dan tinggal menyiapkannya saja jika Dafa sudah terbangun.
Davina yang sudah berbalik ke arah Deva, bisa melihat tatapan sayu mata Deva. Davina tahu jika pria itu sudah banyak menderita karena rasa penyesalannya di masa lalu. Ia sudah cukup merasakan cinta yang begitu besar dari suaminya. Ia tidak ingin Deva hidup dalam rasa bersalahnya lagi.
Davina tahu, suaminya sering menangis di malam hari saat memeluk dirinya. Kini, tidak ada cinta yang begitu besar melainkan cinta Deva pada anak- anaknya. Deva akan melakukan apapun agar istri dan anak- anaknya selalu bahagia.
“Aku menyukai apapun yang ada pada dirimu, suamiku. Aku hanya ingin kau berhenti menyalahkan dirimu sendiri. aku sudah bahagia bersama dengan mu, dan bersama anak- anak kita. Semua sudah jalan takdir kita, lagipula kejadian itu sudah berlalu selama lima belas tahun yang lalu. Kau sudah lama menderita dalam rasa bersalah mu,” jawab Davina sambil tersenyum lembut, dengan mata yang sudah berkaca- kaca.
Deva hanya menunduk saat mendengarkan ucapan lembut dari mulut istrinya. Lelehan bening yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya, kini luruh seketika. Deva masih diam tak bergeming mendengar ucapan Davina yang memang benar adanya.
“Maaf.” Hanya satu kata yang keluar dari mulut Deva untuk menanggapi ucapan sang istri. Justru hal itu membuat Davina semakin tidak tega pada suaminya.
__ADS_1
“Lagi dan lagi, aku hanya bisa menyakiti mu. bahkan air mata ku juga membuat mu merasa sakit. Kau begitu baik dan sempurna bagiku. Entah balasan apa yang akan datang padaku di masa depan, atas segala perbuatan ku di masa lalu. Aku hanya berharap, semua rasa sakit itu, aku saja yang menanggungnya. Aku tidak akan pernah membiarkan mu dan juga seluruh keturunan kita merasakan akibat ulahku di masa lalu,” ucap Deva dengan lirih dan terus menunduk.
“Kau sudah hebat Dev. Cukup jangan ulangi kesalahan yang sudah berlalu, dan lakukan yang terbaik untuk keluarga kita. Pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup mu, dan bijaklah dengan tidak mengulangi kesalahannya. Aku menerima mu dengan segala kekurangan dan kelebihan mu,” ucap Davina sambil mendekap wajah Deva dengan kedua telapak tangannya.
Terlihat cairan bening itu sudah membasahi pipi Deva yang dipenuhi dengan bulu- bulu halus. Davina mengusapnya dengan sangat lembut sambil tersenyum. Senyumannya seolah mengatakan arti, ‘semuanya akan baik- baik saja’.
“Hmm, aku percaya pada istriku yang sangat baik ini,” ucap Deva yang kini sudah tersenyum lembut, dan kemudian mengecup kening istrinya.
...----------------...
Tak butuh waktu lama, makan siang pun sudah selesai. Kini, seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di ruang tengah untuk bersantai. Hari ini Deva bekerja setengah hari saja di kantornya, dan bisa bersantai untuk menghabiskan waktu bersama istri dan juga anak- anaknya.
“Kakak, aku pinjam ponsel kakak lagi,” pinta Vira pada kakaknya, Derry. Namun, pria itu menoleh ke arah Vira dengan tatapan kesalnya.
“Tidak, aku tidak akan memberikannya. Aku baru saja main,” tolak Derry kesal.
“Kakak sebentar saja,” rengek Vira sambil menarik- narik tangan Derry.
“Momm! Dadd! Kakak tidak mau meminjamkan ponselnya,” rengek Vira mengadu dengan menghampiri Deva dan Davina yang sedang duduk santai, sambil memperhatikan anak- anaknya yang tidak pernah akur.
To Be Continue ...
Terima kasih.
...****************...
__ADS_1
Halo, bagaimana kabar kalian? Mimin harap semua sehat dan baik-baik saja. Mimin mau lanjut karya ini beberapa bab lagi, semoga kalian tidak bosan ... salam hangat dari Mimin.