Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Derry Ghazanvar


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Selang beberapa menit dalam suasana hening diantara Galen dan Aliya, akhirnya Deva sudah kembali setelah mengobati luka tembakan tersebut.


“Galen, apa istriku masih lama di dalam sana?” tanya Deva dengan memasang wajah cemasnya.


“Semoga nona baik-baik saja dan bayi yang ada dalam kandungannya juga selamat,” ucap Aliya yang langsung mendapatkan tatapan dari Deva.


Tatapan yang sulit diartikan, tatapan pilu sebuah harapan dan kekecewaan yang bercampur menjadi satu, ditambah mata yang memerah karena menahan lelehan bening di pelupuk matanya. Aliya yang melihat pertama kali hal itu, ikut merasakan sakit dan iba sekaligus.


“Hm, semoga saja,” ucap Deva dengan suara melemah, hatinya terasa teriris saat ia tahu hal itu hanya angannya semata.


“Bos, sebaiknya anda duduk dulu dan tenangkan diri anda,” ucap Galen menghampiri Deva.


“Aku harus menunggu anak dan istriku, aku tidak bisa duduk tenang dan bersantai saja. Apa ini masih berlangsung, kenapa sangat lama. Apa aku bisa masuk ke dalam, aku sudah tidak tahan,” gumam Deva resah.


“Tenang bos, mungkin operasinya sebentar lagi selesai,” ucap Galen menenangkan sang tuan.


“Galen, kau ajak Max untuk mengurus bajingan itu. Tahan dia di Markas, sampai aku menemuinya,” ucap Deva dengan nada perintah.


“Baik bos, akan segera saya laksanakan. Kalau begitu saya pamit undur diri,” ucap Galen patuh dan segera bergegas pergi meninggalkan rumah sakit tersebut untuk menangkap bajingan itu.


“Davina, bertahanlah sayang, aku akan melakukan apapun untuk mu asal kau selamat. Davina, aku merindukan dirimu,” gumam Deva sambil terisak.


“Tuan, apa tuan baik-baik saja?” tanya Aliya dengan khawatir.


“Aliya, bagaimana bisa aku merasa baik-baik saja, sedangkan anak dan istriku tengah berjuang dan bertarung diambang kematian. Katakan padaku jika Davina akan baik-baik saja,” ucap Deva dengan suara serak menahan tangisnya.


“Nona pasti akan selamat dan baik-baik saja tuan. Sekarang tuan harus menenangkan diri anda dulu dan menjaga kesehatan,” ucap Aliya berusaha menenangkan pria yang penampilannya sudah kusut tapi tetap terlihat tampan dan gagah.

__ADS_1


Namun, Aliya merasa dejavu dengan kalimat Deva, kalimat itu yang sering Davina ucapkan pada saat setelah disiksa oleh pria yang kini tengah menangis di hadapannya. Deva, pria yang sering menyakiti istrinya saat ini tengah meratapi penyesalan untuk seumur hidupnya.


Dua jam telah berlalu ...


Deva sudah cemas karena sampai saat ini operasi masih berlangsung, hatinya berantakan tak karuan, pikirannya sudah melayang membayangkan hal buruk apa yang tengah menimpa istrinya.


Suara pintu terbuka, menampilkan seorang dokter wanita yang telah mengoperasi sang istri dan buah hatinya. Deva yang melihat hal itu, langsung menghampiri dokter tersebut dengan perasaan harap-harap cemas, ditambah rasa takut yang melanda hatinya.


“Dokter, bagaimana keadaan istri saya dok? Apa istri saya baik-baik saja?” cecar Deva dengan memasang raut wajah penuh rasa cemas.


“Anda tenang dulu, saya akan menyampaikan kabar baik dan buruk ini,” ucap sang dokter sambil menghela napasnya panjang.


“Ma-maksud anda apa dok?” tanya Deva gugup.


“Kami sangat bersyukur dengan adanya keajaiban ini. Istri dan bayi laki-laki anda selamat, meskipun keadaan bayi anda melemah beberap saat, tapi saat ini sudah dalam keadaan membaik. Namun, kabar buruknya istri anda mengalami koma, dan belum bisa dipastikan kapan akan sadar,” jawab sang dokter dengan rasa sesal.


Deva yang mendengar hal itu entah harus senang atau sedih. Senang, karena akhirnya buah hati yang ia tunggu selama ini dalam keadaan sudah membaik, tapi di sisi lain sedihnya, karena Davina mengalami koma.


Deva mulai terisak tanpa harus menahan lelehan bening di pelupuk matanya lagi, ia hanya ingin mengungkapkan isi hatinya yang tidak dapat di gambarkan.


“Untuk menemui anak anda bisa tuan, tapi jika menjenguk istri anda itu belum bisa. Kami akan memantau dulu kondisi istri anda, setelah kami benar-benar sudah memastikan kondisi istri anda baik-baik saja, kami akan memindahkannya ke ruang perawatan,” jawab sang dokter tegas demi kebaikan bersama.


“Lalu kapan saya bisa bertemu istri saya dok?” tanya Deva penasaran.


“Dua jam lagi kami akan mengurus perpindahannya. Untuk bayi anda, bisa masuk di sebelah kanan ya,” ucap sang dokter memberi saran dan segera bergegas pergi dari sana.


...----------------...


Deva akhirnya bisa menemui putra kecilnya di dalam sana. Air matanya tak terasa mengalir saat melihat wajah putranya yang mirip dengan dirinya.


“Baby yang kuat ya sayang, agar bisa menjaga Mommy bersama Daddy. Putra kecil Daddy pasti sangat kuat kan,” ucap Deva dengan lirih tanpa mengalihkan pandangannya dari putra kecilnya.

__ADS_1


“Davina, putra kecil kita sudah lahir dengan selamat, semoga kau bisa merasakan kehadiran baby boy kita,” gumam Deva sambil menatap putranya dengan pilu.


Tak terasa waktu sudah berlalu dengan cepat, akhirnya Davina sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Deva yang sejak tadi menunggu istrinya tanpa melangkahkan kakinya sedikit pun dari sana, langsung menemui istrinya di dalam ruangan sana.


...----------------...


“Davina,” ucap Deva dengan lirih sambil melangkahkan kakinya mendekati seorang wanita cantik yang tengah terbaring tak berdaya, dengan lelehan bening yang sudah ia tahan sekuat mungkin.


Cup!


Satu kecupan berhasil ia daratkan di kening istrinya, berharap wanita itu seperti putri tidur yang akan sadar setelah mendapatkan sebuah kecupan dari sang pangeran. Deva terkekeh pilu membayangkan hal itu.


Bagaimana Deva bisa brepikir jika ia adalah seorang pangeran untuk putri tidur, sedangkan istrinya saja tidak pernah mengharapkan akan kehadirannya di dunia ini.


“Davina, terima kasih. Aku hanya ingin mengatakan hal itu, apa kau bisa mendengarnya? Aku minta maaf selama ini sudah menghancurkan hidup mu. Maukah kau menerima maafku yang begitu besar? Aku tahu dengan jawaban mu itu. Kesalahan ku tidak akan pernah bisa di maafkan sedikit pun, bahkan seiring berjalannya waktu, aku tahu kau tidak akan pernah memaafkan aku,” ucap Deva dengan lirih.


“Baby kita sudah lahir dengan selamat dan sempurna, terima kasih sudah melahirkan putra tampan kita, apa kau ingin melihatnya, dia sangat imut dan tampan. Apa kau sudah mempunyai nama untuk baby kita?” tanya Deva pada wanita yang masih memejamkan matanya, meskipun ia tahu hal itu sia-sia.


“Derry Ghazanvar akan menjadi nama putra kecil kita, apa kau setuju? Dia terlihat sangat cocok dengan nama itu,” ucap Deva lagi.


“Cepat sadar dan temui putra kecil kita, dia pasti sangat merindukan dirimu, termasuk aku. Aku sangat merindukan dirimu, sayang,” ucap Deva yang kini sudah mengeluarkan lelehan bening tersebut.


...----------------...


Malam sudah semakin larut, tapi di sisi lain beberapa orang sedang berkelahi saling tembak menembak. Galen dan Max sudah menemui titik keberadaan Deon sang asisten Arsen.


Dorr! Dorr!


Galen menembak kedua kaki Deon hingga membuat pria itu jatuh seketika. Max yang melihat hal itu langsung berlari mengamankan Deon untuk dibawa ke Markas mereka sesuai titah sang tuan.


...****************...

__ADS_1


Baby Derry Ghazanvar



__ADS_2