
Selamat membaca ...
...****************...
Deva meninggalkan Mansionnya dengan segera, setelah mendapatkan jawaban dari Aliya. Deva tidak akan percaya dengan apa yang Aliya ucapkan, karena menurutnya, bunga dan sekedar dinner adalah hal yang paling mudah.
Deva mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar bisa cepat sampai ke kantor perusahaan tersebut. Berharap ketika ia sampai di sana, asistennya juga ada.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Deva sudah sampai di perusahaannya. Deva melangkahkan kaki memasuki ruangannnya dengan cepat.
“Siska, apa Galen sudah sampai ke kantor?” tanya Deva pada sang sekretaris.
“Belum bos,” jawab Siska tegas sambil menunduk.
Deva mendengus kesal saat mendengar bahwa Galen belum sampai ke kantor. Tak ingin membuang waktu, akhirnya Deva segera masuk ke dalam ruangannya. Deva membantingkan tubuhnya di atas kursi kebesarannya sambil membuang napasnya kasar.
“Kenapa Galen sangat lama sekali, apa dia tidak bisa melihat waktu,” gerutu Deva sambil terus melirik jam yang ada di tangannya.
__ADS_1
“Apa aku coba cari di situs online saja,” ucap Deva tampak sambil berpikir, dan segera mengambil benda pipih yang ada di dalam saku jas miliknya.
Deva mulai mengetikkan sesuatu di layar ponsel miliknya, hingga pria itu mengernyitkan dahinya saat melihat hasil dari pencariannya.
“Apa yang diucapkan Aliya benar adanya, kenapa rasanya ini sangat mudah,” gumam Deva sambil merenungkan apa yang membuatnya keheranan sejak tadi pagi.
Seketika pria tampan itu menelan salivanya kasar, saat mengingat jika hal tersulit baginya saat ini adalah Davina. Wanita yang kini menjadi istri tercintanya, seperti singa yang sedang menghadang musuh.
Saat sedang memikirkan situasi horor nanti bersama sang istri, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Deva yang mendengar ketukan yang cukup keras itu ikut terkejut dan refleks mengizinkan orang tersebut untuk masuk ke dalam ruangannya.
“Selamat pagi bos, apa bos mencari saya?” tanya seorang pria yang barus saja masuk, yang tak lain adalah sang asisten, Galen.
“Maaf bos, tadi ada sedikit kendala,” ucap Galen mencari alasan.
“Aku ada tugas untuk mu, tapi ini harus sesuai rencana yang matang dan tidak boleh gegabah,” ucap Deva yang tiba-tiba sangat serius, seolah ingin merencanakan sesuatu untuk menyerang musuh.
“Tugas apa itu bos?” tanya Galen penasaran dengan wajah yang tak kalah serius.
__ADS_1
“Aku ingin memberikan kejutan untuk Davina, apa kau punya rencana?” tanya Deva dengan santai sambil menampilkan wajah tanpa dosa. Galen yang mendengar hal itu langsung merubah raut wajahnya menjadi datar kembali, sambil menghela napas panjang.
“Sebaiknya bos berikan perhatian dulu pada nona Davina, jika tidak berhasil, lakukan pada tuan muda kecil. Bos harus sering mencari perhatian dan selalu sigap menghadapi sikap nona saat ini. Lakukan hal kecil untuk putra kecil anda, agar nona terpesona dengan anda,” jawab Galen dengan asal.
Karena, sebenarnya ia juga tidak tahu apa yang harus di lakukan oleh sang tuannya tersebut.
“Aku rasa itu bukan hal yang buruk,” ucap Deva percaya.
...****************...
Tiga bulan telah berlalu ...
Hari yang Deva lalui selama tiga bulan terakhir ini seperti sedang uji nyali. Ia selalu bersikap hati-hati saat sedang bersama sang istri, karena istrinya tersebut, masih dalam keadaan tak mau memaafkan Deva.
Kamar terpisah bersama sang putra, membuat Deva tak tahan untuk mengakhiri masalah ini.
“Vina, aku mau bicara dengan mu,” ucap Deva mencekal tangan istrinya saat hendak ke kamar Davina.
__ADS_1
...****************...