Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Penyesalan besar


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Deva yang panik saat istrinya tak sadarkan diri, langsung menggendong ibu hamil besar tersebut, tapi sebelum itu, ia meminta anak buahnya untuk menyekap Arsen di dalam ruangan khusus eksekusi musuh.


Namun, pada saat Deva membalikan tubuhnya dan ingin melangkahkan kakinya keluar untuk membawa pulang sang istri, tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkah kakinya.


“Kau jangan terlalu percaya diri, karena meskipun aku yang akan mati, belum tentu istrimu juga mau memaafkan dirimu. Apa kau terlalu percaya diri, setelah dia sadar, belum tentu sikapnya akan sama seperti sebelumnya, meskipun kau siksa dia hingga mati,” ucap Arsen dengan santai sambil menampilkan senyum mengejek dan hal itu membuat Deva hanya diam mematung tanpa berniat untuk menanggapi ucapan Arsen.


Setelah mendengar hal itu, Deva langsung kembali melangkahkan kakinya keluar dari Markasnya, ia tidak peduli dengan semua ucapan Arsen, yang ia pikirkan saat ini adalah kondisi istrinya yang tak sadarkan diri di tengah hamil besar.


...----------------...


Tak butuh waktu lama, akhirnya Deva sudah sampai di Mansion megah nan mewah miliknya. Deva langsung membawa sang istri ke kamar miliknya untuk membaringkan wanita lemah itu.


Wajah Davina yang pucat, membuat rasa cemas Deva semakin bertambah, dan semakin membuat rasa takutnya menjadi-jadi. Deva langsung menghubungi dokter Emma untuk memeriksa kondisi istrinya.


“Davina, maafkan aku. Aku bersalah, aku mohon maafkan aku, aku sudah salah paham dan melakukan kesalahan yang sangat besar hingga membuat mu terluka. Bahkan, aku sudah sangat keji memperlakukan dirimu dan juga keluarga mu. Bolehkan aku egois saat ini, jika aku tidak ingin kehilangan mu, aku akan melakukan apapun agar kau mau memaafkan aku, sayang,” ucap Deva di sisi Davina sambil mengelus kepala istrinya dan menciumi wajah cantik itu.


Deva sudah tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, tapi ia tidak peduli, karena saat ini yang paling penting adalah kondisi anak dan istrinya.


Lelehan bening yang tidak pernah ia keluarkan untuk wanita yang telah menjadi istri sekaligus tawanannya, kini harus luruh membasahi pipi dan bulu halus di wajah tampan miliknya.


Tokk! Tokk! Tokk!


Suara ketukan pintu dari arah luar mengagetkan dirinya hingga pria itu refleks mengusap air matanya, dan meminta seseorang di luar sana untuk masuk ke dalam kamarnya.


“Tuan, di bawah sudah ada dokter Emma,” ucap Aliya yang memberi informasi pada sang tuan.

__ADS_1


“Suruh dia masuk ke sini,” ucap Deva dengan nada perintah.


“Baik tuan, kalau begitu saya permisi,” ucap Aliya pamit undur diri.


Beberapa saat kemudian, datang seorang wanita dengan penampilan yang sangat cantik. Dokter Emma tersenyum penuh hangat pada sosok pria yang masih setia menemani sang istri yang tengah berbaring menutup mata, pria itu hanya menampilkan wajahnya yang dingin tanpa ekspresi apapun saat melihat dokter Emma.


“Cepat periksa keadaan istriku,” ucap Deva dengan nada perintah dengan dingin.


“Baik,” ucap dokter Emma patuh dan segera melakukan tugasnya.


“Istrimu mengalami shok hingga membuat dia tidak bisa mengendalikan diri, apalagi dia sedang hamil dan hal itu mempengaruhi juga. Apa yang terjadi dengan Davina, Dev? Apa kau kembali menyiksa dia?” tanya dokter Emma penasaran.


“Apa itu sangat berbahaya untuk untuk ibu dan anak?” tanya Deva yang tidak ingin membahas apapun selain kondisi istrinya.


“Jika dibiarkan terus menerus, ini bisa sangat berbahaya, sebaiknya kau menjaga suasana hatinya atau menenangkan dia. Kau belum menjawab pertanyaan ku, apa kau sudah tidak menganggap aku sebagai teman mu lagi?” tanya dokter Emma dengan menampilkan raut wajah yang memelas.


‘Pasangan? Aku hanya ingin kamu yang menjadi pasangan ku Deva, apa kau tidak pernah mengerti tentang perasaan ku, tentang semua sikap dan perlakuan ku selama ini. Deva, aku sangat mencintai dirimu meskipun aku tahu kau sudah beristri dan juga calon buah hatimu dengan wanita lain. Akan tetap mencintai mu bersamaan dengan napas dalam hidup mu,’ batin dokter Emma sambil tersenyum getir.


“Aku akan mendapatkannya suatu saat nanti,” jawab dokter Emma sambil tersenyum manis pada Deva.


Deva yang sebenarnya tahu perasaan dokter Emma untuk dirinya hanya diam dan tidak ingin menanggapi wanita itu. Setelah selesai pemeriksaan, akhirnya dokter Emma pulang dan meninggalkan sepasang suami istri tersebut.


Deva langsung menghubungi seseorang di sebrang sana setelah dokter Emma keluar dari kamarnya.


“Galen, kita ke Markas sekarang juga,” ucap Deva pada sang asisten lewat sambungan teleponnya.


“Baik bos,” ucap Galen patuh karena ia paham apa yang akan terjadi setelah ini.


“Aku akan datang dua puluh menit lagi,” ucap Deva yang segera memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.

__ADS_1


“Vina, aku akan membalaskan rasa penyesalan ku pada pria brengsekk itu, aku tidak peduli apapun yang akan terjadi setelah ini, karena aku hanya ingin membalaskan dendam salah sasaran ku, aku tidak ingin kehilangan kalian berdua,” ucap Deva sambil mengelus perut buncit milik istrinya.


Deva tertegun saat merasakan tendangan dari perut istrinya, hatinya terenyuh dan terasa hangat saat merasakan hal itu, bahkan napasnya terasa sesak. Hatinya berdebar tak karuan bercampur haru hingga meneteskan lelehan bening dari pelupuk matanya kembali.


“Baby, maafkan Daddy yang sudah menyakiti Mommy mu, Daddy janji tidak akan pernah mengulangai kebodohan Daddy lagi. Kamu mau kan menjaga Mommy untuk Daddy. Daddy sangat menyayangi kalian berdua,” ucap Deva yang kini sudah menciumi perut buncit Davina.


“Vina, aku akan pergi mengurus pria brengsekk itu, aku janji aku tidakakan lama. Aku tidak akan pernah meninggalkan kalian berdua, bertahanlah di sisiku,” bisik Deva di telinga Davina yang masih belum sadarkan diri.


Tak lama kemudian, Deva memanggil Aliya untuk datang ke kamar miliknya dan menjaga Davina.


“Aliya, aku percayakan istriku padamu, aku harap kau tidak lengah dan mengecewakan aku. Aku akan keluar mengurus urusan penting sebentar,” ucap Deva memberikan tugas pada Aliya.


“Baik tuan, saya akan menjaga nona dengan baik,” ucap Aliya patuh.


“Kabari aku jika dia sudah sadar, tapi jika dia belum sadarkan diri selama dua jam lebih, maka kau harus menghubungi aku juga. Apa kau mengerti,” ucap Deva memberi instruksi.


“Baik tuan, saya mengerti,” ucap Aliya kembali.


Setelah memberikan tugas dan kepercayaannya pada Aliya, akhirnya Deva pergi dengan sedikit tenang, ia bisa segera keluar dari Mansion miliknya dan berangkat ke Markas tersebut.


Deva mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai di Markas itu, tapi ia juga selalu berhati-hati dan mengutamakan keselamatan.


Hati Deva sudah terasa sesak dan panas saat mengingat kembali bagaimana cara ia membunuh keluarga Emery dan memperkosa Davina, hingga rasa penyesalan yang begitu besar kini hadir di hidupnya.


“Arsen, aku akan menghabisi dirimu dengan tangan ku sendiri. Davina, aku harap kau mau memaafkan aku, meskipun rasanya mustahil bagiku,” gumam Deva sambil mencengkeram kemudinya.


...****************...


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2