Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Lebih dari musuh


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Deva berjalan menghampiri Davina untuk menjelaskan pada wanita itu, bahwa bukan dirinya penyebab putra mereka menangis kencang. Deva merasa putranya ini tengah ikut membalaskan rasa sakit ibunya di masa lalu, hingga putra kecilnya juga ikut menyudutkan sampai Davina melayangkan tatapan tajamnya.


Ia sudah dibenci oleh Davina karena kesalahannya di masa lalu, dan apa ini, sekarang putranya sedang berusaha membuat ia di marahi oleh ibunya dua kali lipat. Deva segera memasang wajah memelas berharap agar Davina mau memaafkan dan percaya pada ucapannya.


“Vi-vina, ini tidak seperti yang kau lihat,” ucap Deva gugup berusaha menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


Ia seolah sedang tertangkap basah berselingkuh dengan wanita lain, hingga membuatnya gugup tak berani menatap wajah istrinya.


Namun, tanpa Deva sadari, Davina langsung mengambil baby boy yang ada dalam gendongan Deva, dan lansgung membawanya kembali ke tempat tidur, untuk diberikan ASI.


“Vin, apa kau marah padaku? Aku mohon percayalah,” ucap Deva memohon dan memelas agar Davina tidak mendiamkan dirinya seperti ini.


Baru saja ia sembuh dari sakitnya dan menahan rindu pada anak dan istrinya. Namun, sekarang ia malah menerima rasa sakit yang lain dan harus mencegah rasa rindunya ini.

__ADS_1


“Apa kau tidak bisa diam!” desis Davina sambil melayangkan tatapan tajamnya ke arah Deva.


Seketika Deva terdiam tanpa aba-aba lagi, saat mendengar suara sang istri bagai singa yang tengah mengaum.


“Maaf,” ucap Deva lirih dan hendak duduk di bibir tempat tidur berukuran king size tersebut. Baru saja Deva ingin duduk, tapi suara Davina langsung menghentikan gerakannya.


“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Davina dengan dingin.


“A-aku ingin duduk,” jawab Deva dengan polos, karena Deva benar-benar tidak tahu.


Deva yang mendengar hal itu hanya menganga tak percaya, jika Davina kini terlihat jauh lebih menyeramkan dibandingkan dengan musuhnya di luaran sana. Dulu, ia bisa saja membentak Davina tanpa rasa takut sedikit pun dan bisa berbuat sesuka hati.


Namun, sekarang kondisinya sudah jauh berbeda, karena kini ia sangat mencintai istrinya, apalagi sudah ada baby boy di tengah-tengah mereka. Jangankan untuk membentak, melihat tatapan tajam Davina saja, kini nyali Deva sudah menciut duluan. Apakah ini kekuatan cinta, begitu pikir Deva.


“Ba-baiklah, aku akan sarapan dulu.” Bahkan, Davina tidak menyuruhnya untuk sarapan terlebih dahulu, dan malah memintanya agar segera berangkat ke kantor.


“Terserah saja,” jawab Davina cuek dengan tatapan yang tak lepas dari putra kecilnya.

__ADS_1


Deva berjalan dengan lunglai menuruni satu persatu anak tangga menuju meja makan.


Aliya yang sudah satu minggu terakhir ini mengurus Deva, merasa heran dengan sikap Deva yang tiba-tiba murung.


“Tuan, apa anda masih tidak enak badan?” tanya Aliya penasaran.


“Tidak,” jawab Deva dengan singkat. Aliya yang mendengar jawaban dari Deva, hanya diam tak berniat bertanya apapun lagi.


“Aliya, apa yang disukai wanita?” tanya Deva dengan tiba-tiba, membuat Aliya mengernyitkan dahinya tanda heran.


“Banyak tuan. Contoh kecilnya adalah bunga, dinner, atau hadiah lainnya,” jawab Aliya menyebutkan yang terbesit dalam pikirannya.


“Benarkah, apa hanya itu?” tanya Deva tak percaya.


“Benar tuan,” jawab Aliya singkat.


“Kenapa sangat mudah? Pasti kau sedang menipu ku kan. Kenapa tidak ada yang meminta rumah, mobil dan pulau? Aku harus meminta Galen untuk mencari tahu kebenarannya,” ucap Deva yang masih tak percaya dan malah ingin meminta pria kaku Galen, untuk menyelidikinya.

__ADS_1


__ADS_2