
Selamat membaca ...
Saat ini Deva sedang istirahat setelah di periksa oleh seorang dokter pria, tapi Deva masih tetap menyebut nama Davina meskipun dengan mata yang tertutup. Deva mengalami demam karena beberapa hari terakhir ini tidak mengurus dirinya sendiri dan selalu menemani Davina di rumah sakit.
Galen yang juga ada di sana menjadi sangat khawatir, takut sang tuan mengalami hal yang sama seperti dulu setelah kehilangan adiknya, Erika. Deva yang baru di tinggalkan oleh Erika juga mengalami depresi ringan hingga satu bulan lamanya.
“Kenapa kau juga belum pergi? Apa kau ingin menunggu Deva di sini?” tanya Davina menatap Galen dengan tatapan penuh selidik.
“Saya ingin bicara dengan anda,” jawab Galen dengan datar, membuat Davina mengernyitkan dahinya.
“Katakan saja,” ucap Davina santai dengan menampilkan wajah acuh tak acuhnya.
“Sebelumnya saya ingin mengakui kesalahan saya, dan saya sendiri ingin meminta maaf, meskipun hal itu adalah mustahil bagi anda untuk memaafkan saya, tapi saya mohon dengan sangat, tolong jangan tinggalkan tuan saya. Sebagai seorang pria, saya ikut merasakan apa yang tuan saya rasakan, apalagi jika harus kehilangan anak dan istri,” ucap Galen berhenti sejenak sebelum ia melanjutkan kembali kalimatnya.
“Salah dan dosa tuan, biarkan dia yang menanggungnya, tapi jangan sampai anda mengorbankan bayi yang tak berdosa untuk ikut merasakan rasa sakitnya kehilangan keluarga. Tuan muda kecil adalah putra anda dan juga tuan saya, maka dari itu saya meminta agar anda mau membatalkan rencana anda untuk bercerai,” ucap Galen dengan datar, pria itu dengan bahasa formalnya yang membuat Davina ikut serius mendengarkan ucapan pria tersebut.
“Tahu apa kau tentang arti rasa sebuah kehilangan keluarga, apa kau lupa, karena ulah siapa, keluarga ku sekarang hancur tak tersisa, bahkan bisa saja aku masih menikmati hidup ku di luaran sana jika tidak kalian hancurkan tanpa perasaan. Cukup! Jangan membela diri dan memberikan pandangan, seolah aku paling bersalah di sini,” ucap Davina geram sambil menatap Galen dengan tatapan tajamnya.
“Saya tahu dan pernah merasakan hal yang sama dengan anda, keluarga saya mati mengenaskan tepat di depan mata saya, hingga saya menjadi anak jalanan yang di angkat menjadi asisten oleh seorang pria hebat seperti tuan Deva. Tetapi, saya tidak pernah ingin membalaskan dendam dengan mengorbankan orang-orang yang tak bersalah, apalagi itu adalah seorang bayi yang baru lahir beberapa hari yang lalu, apa anda tega memisahkan anak anda dengan ayahnya sendiri, yang mana, seorang anak butuh kasih sayang seorang ayah,” ucap Galen sambil menatap Davina dengan tatapan penuh harap, agar wanita itu mengerti dengan apa yang ia ucapakan.
“Apa kau sudah selesai bicara?” tanya Davina dengan datar sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Terima kasih atas waktu yang sudah anda berikan, kalau begitu saya pamit undur diri,” ucap Galen yang bangkit dan segera bergegas keluar dari kamar tersebut.
Setelah kepergian Galen, Davina menghela napasnya panjang dan menunduk sejenak, matanya terasa panas hingga menggenang lelehan bening di pelupuk matanya, hingga luruh tak terbendung lagi karena merasa dadanya begitu sesak, hatinya remuk, jantungnya seolah berhenti berdetak, dan dunianya seakan hancur secara tiba-tiba.
Tak dapat di pungkiri, Davina merasa tertampar dengan ucapan Galen, apa ia harus mengorbankan kembali hidupnya demi sang buah hati, atau meninggalkan Deva demi kebahagiaannya dan mengorbankan putra kecilnya.
Davina mulai menangis tersedu-sedu saat membayangkan betapa jahatnya ia saat memilih kebahagiaannya sendiri, tanpa memikirkan kehidupan sang putra. Apa aku harus berkorban lagi, begitu pikir Davina.
Davina yang menangis terisak di samping Deva, membuat pria itu terusik dan sadarkan diri sambil mengerjapkan matanya berulang kali.
__ADS_1
“Vina,” ucap seorang pria dengan lirih, membuat Davina terkejut dan langsung menghapus lelehan bening yang sejak tadi meluncur bebas di pipinya.
“Hm, apa kau masih merasa sakit?” tanya Davina lembut sambil mengusap dahi suaminya yang suhunya masih panas.
“Asalkan kau bersama ku, sudah pasti aku akan baik-baik saja,” jawab Deva dengan lemah.
“Kau harus baik-baik saja, ada atau pun tidak adanya aku Dev. Aku mohon, berjanjilah kau akan baik-baik saja,” ucap Davina dengan lembut sambil tersenyum, membuat Deva seketika ikut menghiasi wajah pucatnya dengan senyuman manisnya.
“Sudah aku katakan, asal kau bersama ku, aku akan tetap baik-baik saja,” ucap Deva lemah.
“Istirahatlah, aku akan keluar dulu,” ucap Davina yang hendak bangkit, tapi Deva sudah sigap menahan tangan Davina, hingga wanita itu terduduk kembali.
“Jangan pergi, aku mohon jangan pergi,” ucap Deva dngan lemah dan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Aku hanya ingin membuatkan bubur untuk mu,” ucap Davina tersenyum berusaha meyakinkan Deva.
“Kau pasti berbohong, kau ingin meninggalkan aku sendiri di sini, dan membawa baby boy kita.” Ucap Deva sambil menggelengkan kepalanya tak mengizinkan Davina untuk keluar.
“Aku percaya,” ucap Deva pasrah dan melepaskan tangan Davina.
Setelah tangannya di lepaskan oleh Deva, akhirnya Davina bisa keluar dari kamar suaminya, sesaat dia pergi ke kamar baby untuk melihat keadaan putra kecilnya itu.
“Nona, apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Aliya saat melihat Davina berdiri di ambang pintu.
“Tidak ada Aliya, aku hanya ingin melihat putraku saja, apa dia rewel?” tanya Davina penasaran.
“Tidak nona, tuan muda kecil masih tertidur sejak tadi,” jawab Aliya jujur.
“Hm, bagus jika begitu, aku ingin memasak bubur untuk suamiku, kau jaga putraku saja,” ucap Davina dengan nada perintah.
Tak ingin membuang banyak waktu, akhirnya Davina sudah berkutat di meja dapur untuk menyiapkan bubur. Hingga beberapa menit kemudian, Davina sudah selesai dengan pekerjaannya dan segera mengantar makanan tersebut.
__ADS_1
...----------------...
Davina membuka pintu kamar suaminya, hingga terlihat seorang pria yang masih terbaring lemah dengan wajah pucatnya, membuat ia merasa iba pada sosok suaminya tersebut.
“Dev, ayo buka mata mu,” ucap Davina membangunkan Deva, hingga pria itu membuka matanya perlahan.
“Vin, kau benar-benar kembali, kau tidak membohongi aku,” ucap Deva dengan lemah.
“Aku tidak berbohong, sekarang ayo kita makan,” ucap Davina sambil membantu Deva untuk duduk.
“Aku tidak ingin makan,” ucap Deva tiba-tiba.
“Kenapa? Kau harus makan yang banyak agar bisa cepat sembuh, lagipula ini aku yang memasak khusus untuk mu,” ucap Davina membujuk.
“Benarkah?” tanya Deva tak percaya.
“Tentu saja, jadi ayo buka mulut mu, aku akan menyuapi mu,” ucap Davina sambil menyendokkan bubur tersebut.
“Apakah rasanya enak?” tanya Davina.
“Sangat enak,” dusta Deva, karena sebenarnya mulut dan lidahnya terasa sangat tidak enak.
“Apa kau akan tetap meninggalkan aku?” tanya Deva berubah murung kembali.
...****************...
Daddy lagi sakit
__ADS_1