Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Lupakan dia


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Deva yang mendengar hal itu dari mulut Arsen, langsung menggertakkan giginya sambil menatap tajam ke arah pria yang sudah berani di hadapannya tersebut. Namun, Davina yang mendengar hal itu mencoba untuk menenangkan Deva dengan mengelus lengan suaminya, Deva.


“Deva, kau tenangkan dirimu, aku akan memberitahunya,” bujuk Davina dengan memelas, membuat Arsen tak tahan dengan sikap Davina yang begitu patuh pada pria lain.


Arsen ingin mencekal lengan Davina, tapi Deva langsung melayangkan persatuan lima jarinya ke arah perut pria yang sudah berani mau menyentuh istrinya. Arsen meringis kesakitan saat Deva memukul perutnya, membuat Davina meneteskan lelehan bening yang sejak tadi sudah ia tahan.


“Arsen, aku sudah menikah, dan pria ini adalah suamiku. Aku mohon, setelah ini jangan ganggu kehidupan ku lagi,” ucap Davina terisak sambil terus memegangi lengan kokoh dan kekar milik Deva.


“Ap-apa, kau sudah menikah?” tanya Arsen gugup tak percaya, yang dijawab sebuah anggukan oleh Davina sebagai jawaban.

__ADS_1


“Tidak, ini tidak benar kan Vin. Kau tahu aku sangat mencintai mu, kita saling mencintai, tapi kenapa kau malah menikah dengan pria yang sangat kasar dan tidak mencintai mu sama sekali,” ucap Arsen mengutarakan isi hati dengan segala opininya.


“Kau tidak berhak menilai ku, karena hanya aku yang tahu bagaimana cara memperlakukan orang lain dengan layak atau tidak,” ucap Deva geram tak terima dengan opini yang Arsen berikan.


“Ya! aku tahu, Davina tidak berarti bagimu hingga kau memperlakukan dia dengan kasar. Jika kau tidak sanggup membahagiakan dia , lepaskan Davina sekarang juga,” ucap Arsen yang kalah sengit.


“Cukup! Arsen, aku mohon kau cepat pergi dari sini. Aku mohon, lepaskan saja aku, ini demi kebaikan kita,” ucap Davina memohon dengan wajahnya yang memelas.


Setelah kepergian Arsen, Davina menangis tersedu-sedu, membuat Deva tak tahan dan segera menarik tangan wanita itu keluar dari sana. Deva membawa Davina ke dalam mobilnya, dengan suara isakan kecil yang keluar dari mulut Davina, membuat Deva geram mendengarnya.


“Apa kau sedang menangisi pria brengsekk itu?” tanya Deva kesal karena Davina tak kunjung berhenti.


“Memangnya kenapa jika aku menangisi pria yang sudah menjadi kekasih ku, dan yang paling penting adalah, dia pria yang sangat aku cintai. Untuk apa lagi kau bertanya?” tanya Davina disela tangisannya.

__ADS_1


“Cih! kau begitu mencintainya,” decih Deva sambil menampilkan senyum smirk nya.


“Tentu saja. Aku tahu kau tidak pernah merasakan cinta dari wanita manapun, karena kau adalah pria paling kejam yang pernah aku temui,” ucap Davina dengan sedikit meninggikan volume suaranya.


“Jangan pernah berteriak di hadapan ku. Sebaiknya kau lupakan pria yang tidak jelas asal usulnya itu,” ucap Deva dengan santai memberikan perintah pada Davina, membuat wanita itu menganga tak percaya sambil menatap Deva dengan tatapan yang tak dapat diartikan.


“Kenapa, dengan alasan apa kau menilai buruk pria sebaik dia, kenapa kau selalu mudah menilai orang lain?” tanya Davina tak habis pikir.


“Suatu saat kau akan mengerti dengan ucapan ku, selain itu, aku tidak ingin anakku tahu, jika ibunya pernah menangisi pria lain di hadapan ayahnya,” ucap Deva datar dan segera menancapkan pedal gas mobilnya.


...****************...


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2