Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Melarikan diri


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Tiga puluh menit telah berlalu, tapi Davina belum juga kembali, membuat pria yang tengah duduk di sebuah meja di depan sana menjadi cemas.


Deva sesekali melirik ke arah sebuah lorong, di mana sang istri hilang ditelan jarak saat hendak ke sebuah toilet tadi.


“Davina, aku tidak akan pernah membiarkan mu pergi dariku. Sejauh apapun kau melangkah, aku akan tetap menemukan mu, walaupun sampai ke ujung dunia,” gumam Deva yang kini sudah menghubungi seseorang untuk mengerahkan semua anggota organisasi miliknya.


“Galen, pulang secepatnya dan cari istriku di dekat Restoran Star. Kau kepung lokasinya, istriku sepertinya berusaha kabur lagi. Aku akan mengirim lokasi ku padamu,” ucap Deva dengan nada perintah dan segera memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.


Deva bangkit dari tempat duduknya dan segera bergegas menuju toilet di mana sang istri berada. Deva tidak bisa melacak ponsel istrinya, karena wanita itu meninggalkan dompet kecil dengan ponsel miliknya di atas meja sana.


Deva terkejut saat ada seorang wanita yang mengenakan gaun sama persis dengan istrinya. Tak ingin membuang banyak waktu, akhirnya Deva melangkahkan kakinya menuju seorang wanita tersebut.

__ADS_1


“Dari mana kau mendapatkan gaun itu?” tanya Deva denga tegas tanpa basa basi, sambil menatap seorang wanita tersebut dengan penuh selidik.


“A-anu, tuan,” jawab seorang wanita itu gugup.


“Jawab! Atau aku akan membuat mu menyesali kehidupan mu sendiri. Di mana dia?” tanya Deva dengan tatapan yang sudah di penuhi kabut amarah.


“Dia, sudah pergi, sekitar tiga puluh menit yang lalu tuan. Tuan, tolong jangan lakukan apapun, saya tidak mengetahui apapun,” pinta wanita itu dengan memelas.


Deva yang sudah tidak bisa menahan amarahnya bukan ingin menghukum wanita itu, tapi lebih ingin melampiaskan kepada istrinya. Deva langsung bergegas pergi sambil membawa amarahnya yang menggebu-gebu.


Deva tidak menyangka pada wanita yang kini sudah menjadi istrinya tersebut, yang telah berani membohongi dirinya dan meninggalkannya bersama bayi yang ada dalam kandungan Davina. Mengingat hal itu, amarah Deva kembali membuncah, seperti gunung yang ingin menyemburkan lava panas yang ada di dalamnya.


Kebaikan dan kepatuhan Davina yang Deva lihat selama ini ternyata hanya alibi untuk mencari celah, agar bisa melarikan diri dari suaminya.


...----------------...

__ADS_1


Di sisi lain, seorang wanita yang tengah berlari menyusuri jalanan yang lumayan sepi, agar bisa terhindar dari jeratan suaminya kembali. Wanita itu berharap Deva tidak akan pernah menemukan dirinya lagi.


Saat ini Davina sudah memilih jalan yang ada di pinggir hutan, ia tahu sekarang suaminya pasti sudah sadar jika ia melarikan diri. Davina terus berlari sekuat tenaga dan sekencang-kencangnya, agar bisa jauh dari jarak Restoran tersebut.


“Akhh! Perut ku kram. Sayang, kau harus kuat, kau mau kan membantu Mommy agar jauh dari Daddy mu,” gumam Davina yang berhenti sejenak di bawah pohon besar yang ada di pinggir jalan tersebut.


“Maafkan Mommy yang tidak bisa menerima Daddy mu. Apa kau tahu betapa besar kesalahan Daddy mu? Ya, Daddy mu sudah membunuh kakek, Nenek, dan juga paman mu. Kau mau mengerti kan dengan keadaan Mommy,” gumam Davina yang kini sudah terisak kala mengingat kembali, bagaimana keluarganya dibunuh dan dihancurkan di depan mata kepalanya sendiri, bahkan hal itu terjadi bersamaan dengan Deva yang merenggut kesuciannya.


...----------------...


Deva yang sudah tidak tahan dengan kehilangan istri dan juga calon anaknya, kini harus turun tangan untuk mencari wanita itu. Bahkan, pria itu sudah mengganti jas dengan jaket hitam organisasi miliknya yang ada di dalam mobil.


Deva juga sudah menyiapkan beberapa senjata api yang biasa ia bawa kemana pun ia pergi. Galen yang sudah dalam perjalanan pun sudah diberikan tugas, untuk berpindah posisi, karena perkiraan Deva, istrinya sudah jauh dari jangkauan Restoran itu, tapi belum jauh keberadaannya dari sisi kota tersebut.


“Davina, aku akan memberi mu sebuah pelajaran yang tidak akan pernah kau lupakan,” gumam Deva sambil menancapkan gas mobilnya menelurusi pinggir kota.

__ADS_1


...****************...


Terima kasih.


__ADS_2