Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Semoga kau bahagia


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Dua jam telah berlalu, seorang pria baru saja keluar dari ruang eksekusi, dengan tangan yang sudah berlumur darah dan pakaiannya menjadi merah. Deva yang sejak tadi memikirkan istrinya yang masih terbaring lemah, ingin segera bergegas kembali ke rumah sakit tersebut.


Deva segera membersihkan diri dan mengganti pakaian yang sudah tersedia di Markas tersebut, membuat pekerjaannya menjadi lebih mudah dan nyaman.


“Galen, Max, kalian urus sisanya hingga bersih, aku akan ke rumah sakit. Jika ada sesuatu yang terjadi, cepat hubungi aku,” ucap Deva dengan nada perintah.


“Baik bos, siap laksanakan,” ucap Galen dan Max serempak.


Setelah mendengar jawaban dari Galen dan Max, akhiranya Deva segera bergegas menuju rumah sakit dengan cepat, karena tidak ingin membuang banyak waktu, ia sudah tidak sabar untuk bertemu sang istri tercinta. Entah kenapa rasa rindunya semakin berat, rasa cintanya semakin bertambah, tapi Deva sangat senang dengan perasaan yang kini sedang ia rasakan.


Deva mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar bisa segera sampai di tempat sang istri berada.


...----------------...


Di sisi lain Aliya dan dokter Emma sudah sejak tadi menunggu kedatangan Deva, karena mereka tidak di izinkan masuk ke dalam ruangan perawatan Davina selain petugas rumah sakit.


Deva yang tidak ingin mengambil resiko, harus menjaga Davina dengan sangat ketat, ia tidak ingin hal ini terulang kembali, yang bisa saja membahayakan nyawa sang istri.


“Kalian, cepat izinkan kami masuk, kami hanya ingin menjenguk nyonya kalian,” ucap dokter Emma kesal karena sejak tadi hanya mondar mandir di depan ruangan tersebut, tapi tak kunjung mendapat izin oleh pengawal kiriman Deva.


“Maaf nona, kami hanya menjalankan kewajiban kami,” ucap salah satu pengawal yang ada di depan sana, membuat dokter Emma semakin mendengus karena kesal.


“Aku ini teman bos kalian, dia pasti percaya padaku, aku tidak akan berbuat macam-macam, aku hanya ingin menjenguk istri teman ku,” ucap dokter Emma penuh harap.


“Lalu kenapa jika kau adalah teman ku?” suara bariton membuat semua orang yang ada di sana langsung menoleh ke arah sumber suara.


“De-deva,” ucap dokter Emma dengan lirih dangan tatapan yang sudah tidak dapat di artikan.


“Kenapa?” tanya Deva dingin dengan raut wajah datarnya, membuat dokter Emma semakin heran dengan sikap Deva beberapa bulan terakhir ini berubah menjadi lebih dingin pada dirinya.

__ADS_1


“Deva, apa yang kau tanyakan, aku hanya ingin melihat kondisi istrimu, apa itu salah? Bukankah kau sangat mempercayai aku, kita sudah berteman sejak lama. Katakan padaku bahwa kau sangat percaya padaku Dev,” pinta dokter Emma tak habis pikir, dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Deva langsung menarik tangan dokter Emma ke arah yang lebih tenang.


...----------------...


“Emma Arabella, tidak ada yang percaya dengan kalimat teman diantara kita, aku tidak ingin menyakiti dan melukai istriku dengan kehadiran mu di kehidupan kami. Jadi, aku mohon jangan ikut campur lagi dalam urusan rumah tangga kami,” pinta Deva dingin sambil menatap wanita cantik dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Dev, apa yang kau katakan, kita akan tetap menjadi teman kan? Kau hanya bercanda kan?” tanya dokter Emma sambil menggelengkan kepalanya tanda tak habis pikir dengan apa pria yang ada di hadapannya tersebut.


“Cih! Jangan naif. Emma, tidak ada pertemanan yang benar-benar menjadi teman diantara seorang pria dan wanita. Aku tidak pernah suka bercanda dengan hal apapun, aku rasa kau juga sudah tahu hal ini, sebaiknya kita menjauh,” ucap Deva dengan tegas, membuat lelehan bening yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata Emma, kini luruh seketika membasahi pipi indahnya.


“Lalu apakah kau tidak mempercayai aku saat ini?” tanya dokter Emma dengan lirih, berharap ini semua hanya mimpi belaka.


“Tidak,” jawab Deva singkat.


“Kenapa? Aku adalah teman mu, setidaknya kau masih mengganggap ku seseorang yang sudah menemani mu sejak dulu. Lalu, kemana sekarang Deva yang aku kenal?” tanya dokter Emma tak habis pikir.


“Terkadang orang terdekat adalah orang yang paling berbahaya. Apa kau tahu, seberbahaya apa itu?” tanya Deva yang dijawab sebuah gelengan kepala oleh dokter Emma dengan cepat.


“Kau tidak akan pernah mengerti,” ucap Deva dingin.


“Aku tidak punya waktu, aku harus segera menemui istriku,” ucap Deva menolak.


“Apa kau meninggalkan aku demi wanita itu?” tanya dokter Emma sambil terus meneteskan lelehan bening dari pelupuk matanya.


“Bukan urusan mu,” jawab Deva dingin.


“Cih! kau sudah mencintai istrimu itu? Apa kau tahu, jika dia tidak akan pernah mencintai dirimu? Wanita yang menjadi tawanan mu dan tengah mengandung anak darimu, meminta aku untuk menggantikan posisinya. Apa kau tahu artinya itu?” tanya dokter Emma berharap Deva mau membuka mata dari kenyataan yang ada dan membuka pintu hati untuknya.


“Akan, dia pasti akan mencintai ku. Seperti aku yang kini sudah mencintainya, maka dia juga akan mencintai diriku. Aku akan berusaha untuk meraih hatinya dan mendapatkan cintanya,” jawab Deva datar, meskipun dalam hatinya terbesit keraguan untuk mendapatkan cinta itu.


“Kau benar-benar sudah terjatuh. Boleh kah aku mengungkapkan isi hatiku untuk mu,” ucap dokter Emma sambil terkekeh pilu. Namun, Deva hanya diam tak menanggapi ucapan doketr Emma.


“Aku mencintai dirimu Dev, apa kau bisa mempertimbangkan ini. Apa aku juga bisa dicintai oleh dirimu?” tanya dokter Emma sambil terisak.

__ADS_1


“Kau mencintai pria beristri? Apa kau sudah gila,” ucap Deva sarkas, membuat dokter Emma terkekeh miris saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Deva, pria yang sangat ia cintai.


“Aku? Gila? Kau benar Dev, aku sudah gila mencintai pria yang tidak pernah menganggap kehadiran ku di sisinya selama ini. Aku mencintaimu jauh sebelum kau menemukan wanita itu, dengan sangat percaya dirinya aku mengira jika kau akan membalas cintaku di kemudian hari, tapi kau malah membawa wanita lain ke hadapan ku dan mengenalkan dirinya sebagai istrimu. Aku sakit Dev, hatiku hancur pada saat itu, apa kau tidak pernah sadar akan hal itu, atau kau benar-benar tidak ingin tahu dengan perasaan ku,” ucap dokter Emma sambil menangsi tersedu-sedu.


“Aku adalah pria yang tidak pantas untuk mu, kau wanita cantik dan memiliki segalanya. Sedangkan aku hanya seorang anak jalanan yang tumbuh di tengah kerasnya kehidupan, maka untuk itu aku tidak ingin mencintaimu. Pergilah dan cari pendamping hidup yang jauh lebih baik dari aku,” ucap Deva sambil menundukan wajahnya.


Dokter Emma hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan ucapan Deva, dadanya bergemuruh merasakan sakit. Jika ia bisa memilih, maka ia juga tidak ingin hidup dengan bergelimang harta, agar Deva tidak mempunyai pikiran seperti itu.


“Katakan kau mencintaiku, maka aku akan pergi dari kehidupan mu,” pinta dokter Emma penuh harap. Ia hanya ingin mendengar kalimat itu dari pria yang sangat ia cintai.


“Aku sangat mencintai Davina, dia istriku dan juga ibu dari anak-anakku,” ucap Deva yang dijawab sebuah gelengan tak percaya dari wanita yang ada di hadapannya itu.


“Katakan Dev,” pinta dokter Emma sekali lagi.


“Aku hanya mencintai istriku, Davina,” ucap Deva datar, membuat dokter Emma akhirnya tersenyum miris saat mendengar hal itu dari mulut Deva.


“Terima kasih, kau sudah menegaskan agar aku tidak pernah mempunyai harapan lagi padamu. Aku akan pergi dari kehidupan mu dan juga keluarga kecil mu, semoga kau selalu bahagia. Suatu hari nanti, aku pasti akan kembali untuk memastikan kebahagiaan mu,” ucap dokter Emma pasrah.


“Aku pasti akan bahagia bersama istri dan juga anak-anak ku,” ucap Deva datar, tapi tak dapat di pungkiri, ia juga merasa sakit telah menyakiti wanita yang sudah menemaninya sejak dulu, sahabatnya yang paling pengertian.


“Aku pamit, jaga dirimu dan juga keluarga kecil mu, bahagiakan mereka. Aku sangat mencintaimu Dev,” ucap dokter Emma yang segera membalikkan tubuhnya dan meninggalkan tempat itu.


“Emma, jaga dirimu baik-baik, semoga kau bahagia bersama pria yang mencintai mu,” ucap Deva dengan lirih, sambil melihat punggung wanita itu yang semakin hilang di telan jarak.


Kini, rasa sakit Deva menjadi berkali-kali lipat karena orang yang ia sayangi terluka akibat dirinya.


...****************...


Bonus picture


Deva hot Daddy


__ADS_1




__ADS_2