
Selamat membaca ...
...****************...
Tak butuh waktu lama, akhirna Deva sudah sampai di Markas miliknya. Di sana sudah ada Galen dan Max yang berdiri di depan ruangan eksekusi Arsen.
“Selamat datang bos,” sapa Galen yang memang belum lama datang ke sana.
“Hm, sekarang ayo kita ke dalam sana,’” ucap Deva sambil melangkahkan kakinya mendahului Galen dan Max.
Melihat sang bos masuk ke dalam ruang eksekusi tersebut, Galen dan juga Max langsung ikut membuntuti Deva.
“Apa kau masih bisa bernapas?” tanya Deva dengan santai di hadapan Arsen, membuat pria itu yang tengah menunduk kini langsung mendongakkan kepalanya menatap Deva dengan sinis.
“Cuih! Hari ini mungkin saja aku yang akan mati, tapi kita lihat saja besok, siapa yang akan mati menyusul ku, jiwa mu atau raga mu,” ucap Arsen dengan tajam.
“Apa aku perlu memikirkan hal itu. Ck! Kau tidak perlu repot memikirkan nasib ku ke depannya akan seperti apa, tapi justru pikirkan kesalahan mu dan bersiaplah menemui ajal mu,” ucap Deva sambil menampilkan senyum smirk nya dan mengeluarkan dua senjata api dari jaket hitam miliknya.
__ADS_1
Dorr!
Arghh!
Satu tembakan melesat dari salah satu senjata milik Deva, hingga mengenai lengan kiri Arsen, membuat pria itu meringis kesakitan.
“Bos, apa perlu saya membantu meringankan pekerjaan bos?” tanya Max yang merasa tangannya sudah gatal ingin menguliti tubuh Arsen.
“Max, apa kau ingin tidur?” tanya Galen sambil melirik Max dengan tatapan tajamnya.
“Ti-tidak,” jawab Max gugup.
“Siap bos,” ucap Max dengan tegas.
“Kau pikir aku akan takut dengan ancaman murahan mu itu, huh? Percayalah, hidup mu akan jauh lebih menyakitkan daripada kematian ku,” ucap Arsen sambil senyum mengejek.
Bughh!
__ADS_1
Deva menendang wajah Arsen hingga pria itu mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya.
“Kau masih berani mengucapkan kalimat itu di hadapan ku, pada saat kematian mu sudah dekat. Bahkan aku belum memulai sedikit pun untuk membalaskan rasa sakit adikku dan juga istriku,” ucap Deva geram.
“Aku hanya ingin mengingatkan dirimu, tentang rasa sakit dan kematian. Bukankah kau yang mengatakan jika Davina adalah wanita yang cerdas, dan aku yakin dia tidak akan pernah mau memaafkan dirimu seumur hidupnya. Anak yang ada dalam kandungannya tidak bisa menjadi jaminan jika dia mau bertahan dengan pria sepertimu,” ucap Arsen dengan puas sambil terkekeh dengan nada mengejek.
“Bos, apa perlu saya menghentikan pria itu untuk berbicara lagi?” tanya Max yang sudah kesal mendengar ucapan Arsen yang selalu menyudutkan sang bos.
Dorr!
Satu tembakan kembali melesat mengenai lengan kanan milik Arsen, membuat pria itu kembali teriak kesakitan, bahkan darahnya sudah mengalir dengan deras dari kedua lengan tersebut.
“Max, kau terlalu berisik. Jika kau sudah tidak sabar, bawakan aku pisau,” ucap Deva dengan nada perintah, hingga Max akhirnya mengeluarkan pisau kecil yang pernah Deva pakai untuk menyayat dada kiri Davina dari jaket hitamnya.
“Ini bos,” ucap Max sambil menyodorkan sebuah pisau kecil tersebut dan langsung disambar oleh Deva.
Deva melangkahkan kakinya dengan perlahan ke arah Arsen, membuat pria itu sedikit ketakutan dan memundurkan tubuhnya ke arah belakang hingga membentur tembok yang ada di belakangnya.
__ADS_1
...****************...
Terima kasih.