
Selamat membaca ...
...****************...
Malam ini seorang pria tengah berbaring di samping seorang wanita, yang tak lain adalah istrinya, Davina. Deva yang sudah diizinkan untuk tidur bersama, saat ini hanya bisa bersyukur sambil terus melebarkan senyumannya yang sangat cerah, bahkan mengalahkan cerahnya rembulan malam ini.
Baby Derry yang baru saja tidur setelah meminum ASI, membuat Davina bernapas lega karena sudah bisa memejamkan matanya, untuk menyelami alam mimpinya. Namun, saat wanita itu hendak tidur, sebuah tangan besar dan kokoh mulai memeluk tubuhnya dengan sangat erat, hingga membuat Davina kesulitan bernapas.
“Deva, apa kau mau membunuh ku secara perlahan?” tanya Davina dengan suara perlahan agar sang baby tidak terganggu.
Deva yang mendengar pertanyaan dari Davina, langsung melonggarkan pelukannya dan merasa bersalah, ia melakukan itu secara tak sadar karena terlalu merasa senang sudah diizinkan untuk tidur bersama lagi.
“Maaf, aku tidak sengaja. Apa baby sudah tidur?” tanya Deva dibalik leher jenjang sang istri.
“Apa sejak tadi kau tidak memperhatikan putra mu?” bukan menjawab, Davina justru bertanya balik dengan nada penuh selidik, membuat Deva terdiam karena sejak tadi ia hanya memperhatikan istrinya.
“Aku hanya memperhatikan sebentar, sebelum kau memberikan ASI, setelah itu aku tidak melihatnya,” jawab Deva berkilah.
“Sekarang tidurlah, malam sudah semakin larut,” ucap Davina yang kini sudah memejamkan matanya.
“Apa aku boleh memeluk mu?” tanya Deva meminta izin.
Namun, tak ada jawaban sedikit pun dari Davina, membuat Deva tersenyum penuh arti dan memeluk Davina sesuka hati. Davina yang sebenarnya belum tidur hanya menghela napasnya pelan, karena tingkah Deva yang seperti anak kecil.
__ADS_1
Tak berselang lama, akhirnya Davina tidur pulas untuk menyelami alam mimpinya. Deva kembali membuka matanya dan mengambil sebuah ponsel untuk menghubungi seseorang.
Jari Deva mulai berselancar bebas di atas layar benda pipih yang ada di tangannya tersebut. Ia sedang mencari nomor seseorang untuk ia hubungi saat ini. Senyumnya kembali berkembang, saat mendapati nomor yang ia cari sejak tadi.
“Galen, apa kau sudah menyiapkan semua rencana ku?” tanya Deva pada sang asisten di sebrang sana.
“Sudah bos, tinggal usaha bos saja yang menentukan nilai akhirnya,” jawab Galen dengan tegas pada sang bos.
“Hm, aku mengerti. Aku akan berusaha untuk itu, kau siapkan saja sisanya. Jangan lupa juga, bawakan gaun istriku besok sore ke Mansion,” ucap Deva dengan nada perintah.
“Baik bos, akan segera saya laksanakan,” ucap Galen dengan patuh. Setelah mendengar jawaban sang asisten, Deva langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
Deva yang baru saja selesai menghubungi sang asisten, kini menekan sebuah tombol yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya, untuk memanggil kepala pelayannya, Aliya.
Tak butuh waktu lama, terdengar suara ketukan dari arah luar, membuat Deva langsung terperanjat dan bangkit untuk membuka pintu tersebut secara perlahan, agar istrinya yang tengah tidur tidak terganggu dan membuka matanya.
“Hm, Aliya, suruh beberapa orang pelayan lain untuk memindahkan barang-barang Davina, ke kamar milikku, lakukan sebelum besok pagi dan jangan sampai Davina tahu. Jaga putra ku malam ini,” ucap Deva dengan nada perintah.
“Baik tuan, akan saya laksanakan,” ucap Aliya patuh.
Pria itu memang sudah merencanakan perpindahan sang istri dari kamar itu ke kamarnya, agar ia tidak bisa berpisah lagi dengan wanita yang sudah menjauhinya beberapa bulan terakhir ini.
Deva segera kembali ke arah tempat tidur dan menggendong istrinya untuk di bawa ke kamar utama. Sedangkan, sang putra di tinggal bersama Aliya, karena Deva takut putranya akan terbangun dan menangis.
__ADS_1
Untuk masalah Davina di hari esok, Deva hanya perlu menyiapkan mental yang kuat dan harus menyiapkan tampang memelasnya, agar sang istri bisa memaafkan kesalahannya malam ini.
...----------------...
Deva sudah sampai di kamar miliknya dan dengan perlahan membaringkan sang istri di atas tempat tidur berukuran king size tersebut.
“Vina, kenapa aku baru menyadari perasaan ku setelah semua hancur dan menyakiti dirimu. Aku tahu, aku tidak akan pernah bisa di maafkan sampai kapan pun, tapi aku akan terus berusaha agar bisa layak di sisi mu,” ucap Deva sambil menatap Davina dengan penuh rasa penyesalannya.
“Aku sangat mencintai mu, sangat Vin,” ucap Deva mengecup kening istrinya dan mengikuti sang istri untuk menyelami alam mimpinya. Berharap esok hari ada sebuah keajaiban, jika istrinya bisa mengucapkan kalimat cinta untuknya.
...****************...
Halo, apa ada yang rindu sama Mommy and Daddy baby boy?
Hai, bagaimana kabar kalian, Mimin harap semuanya sehat ya, dan bisa menemani Mimin dan tulisan receh ini. Salam hangat dari Mimin yang Rajin menabung ...
Mommy
Daddy
__ADS_1