
Selamat membaca ...
...****************...
“Ternyata kau juga sangat mencintai istrimu ini. Aku rasa dia juga sangat cantik dan ... ,” ucap Daren menggantung ucapannya sambil melihat tubuh Davina dari atas sampai bawah.
Deva yang melihat hal itu langsung naik pitam sambil menggertakkan giginya, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena pelatuk senjata api milik Daren sudah siap untuk di tembakkan.
“Berhenti menatap istriku dengan tatapan menjijikan mu itu!” bentak Deva marah.
“Tembak suami mu,” ucap Daren di telinga Davina sambil memaksa Davina untuk memegang senjata api miliknya.
“Tidak Daren, jangan lakukan itu,” ucap Davina sambil berusaha menolak, tapi Daren langsung mencekik leher wanita itu dengan lengan kekarnya. Deva yang melihat hal itu tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menatap wajah istrinya yang sedang kesakitan.
“Deva, sekarang kau harus memilih, nyawamu, atau nyawa istrimu?” tanya Daren sambil menampilkan senyum smirk nya.
“Deva, pergilah. Aku akan baik-baik saja,” ucap Davina terisak. Ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan suaminya.
Deva yang yang mendengar hal itu hanya menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang Davina ucapkan.
“Tidak Vin. Apa yang kau ucapkan, kita akan pulang bersama, putra kita sudah menunggu,” ucap Deva dengan mata yang sudah memerah karena menahan lelehan bening di pelupuk matanya.
__ADS_1
“Ck! Aku suka pemandangan ini. Davina, ayo cepat tembak suami mu atau kau akan kehilangan putra mu,” ancam Daren yang membuat Deva semakin yakin jika ia harus berkorban.
“Vina, ayo tembak aku,” ucap Deva dengan lirih.
“Tidak Dev, baby sangat membutuhkan mu,” ucap Davina sambil terisak.
“Baby lebih membutuhkan mu, lagipula, aku jauh lebih baik mati daripada hidup tanpa dirimu. Sekarang, ayo cepat tembak aku,” ucap Deva lirih.
Daren mengarahkan senjata api di tangan Davina, ke arah Deva.
Dorr!
Satu tembakan melesat di tangan Deva, membuat senjata api yang ada di tangannya jatuh seketika seiring menetesnya darah segar milik Deva.
Namun, beberapa saat kemudian, datang segerombolan pria berbaju hitam yang memegangi tubuh Deva dan memukuli pria itu hingga tak berdaya. Davina semakin berteriak histeris sambil terus memanggil nama Deva.
“Bawa dia ke hadapan ku,” ucap Daren pada anak buahnya, agar membawa Deva ke hadapannya.
“Apa kau puas, melihat suami mu tak berdaya seperti ini?” tanya Daren sambil tersenyum Devil.
“Lepaskan dia, ku mohon,” ucap Davina memohon sambil terisak.
__ADS_1
“Tembak dia atau kau harus melayani aku,” ancam Daren marah. Deva yang masih setengah sadar, langsung mendongakkan kepalanya.
“Vin, bu-bunuh, a-aku,” ucap Deva lemah tak berdaya.
Dorr! Dorr! Dorr!
Daren menekan pelatuk senjata api di tangan Davina hingga menembus dada Deva sebanyak tiga timah panas.
“Devaaaa!” teriak Davina memberontak dan berbalik hingga menjadi liar tak berperasaan.
Dorr! Dorr! Dorr!
Davina berbalik badan dan menembak Daren tepat bagian jantungnya, hingga pria itu jatuh dan tak sadarkan diri. Melihat anak buah Daren ingin menangkapnya, Davina segera menarik pelatuk senjata api tersebut.
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Kini anak buah Daren pun sudah bersimbah darah. Tangan yang dulu ia gunakan untuk membantu orang lain menjalani sebuah operasi, kini malah menjadi penyebab kematian orang lain.
Davina merasa tubuhnya lemas hingga luruh ke bawah sana sambil mengusap wajah suaminya yang sudah kaku. Apakah secara tak langsung ia sudah membalaskan dendamnya pada Deva. Davina hanya menangis sambil memangku kepala sang suami yang sudah tak sadarkan diri.
...****************...
__ADS_1
...TAMAT ......