
Selamat membaca ...
...****************...
Arsen yang mendengar penuturan dari sang asisten, kini harus mengatur strategi ulang agar bisa merebut Davina dari suaminya. Namun, dengan sangat percaya dirinya, ia mengira bahwa Davina akan selalu mencintainya.
“Sepertinya aku tidak perlu terlalu mencemaskan Davina, aku sangat yakin dia pasti akan selalu mencintaiku. Ya, aku hanya perlu meyakinkan Davina agar mau pergi dari suaminya,” gumam Arsen sambil menghela napasnya panjang.
...----------------...
Hari sudah semakin sore, tapi Deva masih berkutat di komputer untuk mengerjakan pekerjaannya yang masih menumpuk. Pria itu sesekali melirik ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja dekat dirinya, ia sedang menunggu kedatangan Max yang membawa ponsel baru milik istrinya.
Hingga tanpa ia sadari, seorang pria bertubuh kekar sudah masuk ke dalam ruangannya, hingga membuat Deva terkejut.
“Selamat sore, bos,” sapa seorang pria bertubuh kekar tersebut yang tak lain adalah Max. Tenyata Max sudah cukup lama di luar pintu ruangan Deva, hingga pria itu masuk saat Deva tengah sibuk menatap layar monitor miliknya.
“Kau! Sejak kapan kau berdiri di depan sana?” tanya Deva penuh selidik.
“Belum lama bos. Maaf jika saya lancang, tapi sekretaris di depan sana yang menyuruh saya masuk, dia bilang jika saya boleh masuk atas perintah bos,” jawab Max panjang lebar membela diri.
“Banyak alasan. Apa kau sudah mendapatkan ponsel itu?” tanya Deva tanpa basa basi.
“Sudah bos, ini,” jawab Max sambil menyodorkan sebuah bingkisan yang ia bawa dan langsung disambar oleh Deva.
“Apa ada lagi yang harus saya kerjakan, bos?” tanya Max dengan tegas.
“Kau pulanglah ke Mansion, atur ulang penjagaan di area belakang Mansion. Penjagaan harus seketat mungkin, tapi kau tidak perlu mengubah penjaga di area depan, asalkan penjuru Mansion ku di kelilingi penjaga saja,” ucap Deva memberi perintah.
“Baik bos, akan segera saya laksanakan. Kalau begitu, saya pamit undur diri,” ucap Max patuh dan segera bergegas pergi meninggalkan ruangan Deva.
“Davina, aku ingin melihat seberapa ikhlas kamu hidup bersama ku, dengan segala siksaan mu itu. Cih! apakah cintamu untuk pria brensekk itu akan tetap bertahan,” gumam Deva sambil tersenyum penuh arti.
Setelah cukup lama, akhirnya Deva memutuskan untuk pulang, karena hari juga sudah semakin gelap. Pria itu membelah jalan yang cukup ramai pengendara lainnya, hingga ada beberapa sedikit kendala macet.
Namun, akhirnya Deva bisa melewati kemacetan dan segera menancapkan pedal gas mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena ia ingin segera menemui sang istri di Mansion miliknya.
__ADS_1
...----------------...
Tak butuh waktu lama, akhirnya Deva sudah sampai di Mansion, dan segera melangkahkan kakinya memasuki bangunan mewah dan megah tersebut.
“Selamat datang tuan,” sapa Aliya yang sudah menunggu kepulangan Deva.
“Aliya, bagaimana keadaan wanita itu?” tanya Deva saat melihat Aliya ada di sana.
“Keadaan nona cukup baik dan tidak melakukan hal yang aneh tuan, hanya saja, nona makan dengan porsi yang sangat banyak, hingga para koki sibuk seharian karena keinginan nona,” jawab Aliya memberikan informasi.
“Lalu, di mana dia sekarang?” tanya Deva lagi.
“Nona sedang istirahat, tuan. Nona bilang tidak mau makan malam karena sudah kenyang,” jawab Aliya kembali.
Setelah mendengar penjelasan dari Aliya, akhirnya Deva segera menaiki satu persatu anak tangga untuk menemui sang istri. Deva membuka pintu kamarnya, hingga terlihat seorang wanita yang sedang berdandan di depan cermin, membuat Deva heran dibuatnya.
Davina yang mengetahui kedatangan Deva, langsung membalikan tubuhnya sambil menampilkan senyuman terbaik untuk menyambut kedatangan suaminya tersebut.
“Apa kau baru saja pulang?” tanya Davina saat Deva sudah memeluknya sambil mengelus puncak kepala Davina.
“Tidak, hari ini aku merasa sangat senang,” Jawab Davina dengan manja.
“Baguslah, memang seharusnya begitu, jadi aku tidak perlu menghukum mereka yang ada di Mansion ini,” jawab Deva dengan datar tapi terdengar begitu mengerikan di telinga Davina.
‘Benar kan, Deva tidak akan pernah berubah. Sebenarnya siapa suamiku ini, kenapa pria ini sangat kejam dan tidak ada belas kasihan sama sekali. Deva, aku hanya berharap suatu saat nanti, aku sudah tidak bersama mu saat kau mulai berubah,’ batin Davina yang merasa sedikit gelisah.
“Aku membawakan ponsel milik mu, sesuai janji ku padamu,” ucap Deva sambil membuka bingkisan tersebut untuk Davina.
Wanita itu sangat terkejut dengan apa yang Deva bawa, ia seolah tak percaya jika Deva benar-benar memberikan apa yang ia inginkan.
“Deva, ini kan ponsel edisi terbatas. Terima kasih, Dev,” ucap Davina senang.
“Tapi kau jangan berani macam-macam dengan ponsel yang aku berikan ini, atau kalau tidak, aku akan menarik kembali apa yang sudah menjadi milik mu,” ucap Deva memberikan peringatan untuk istrinya, agar tidak melakukan hal yang bisa saja membuatnya murka.
“Baiklah, aku berjanji. Sebagai ucapan terima kasih ku, malam ini aku akan mematuhi perintah mu,” ucap Davina sambil menampilkan senyumnya dengan lembut.
__ADS_1
“Aku ingin menjenguk baby kita,” bisik Deva dengan nada sensual di telinga Davina sambil membungkuk, membuat wanita itu membulatkan matanya dengan sempurna dan merasakan bulu kuduknya meremang seketika.
“Em, tapi baby kita masih rentan jika kita melakun hubungan itu,” ucap Davina berkilan mencari alasan.
“Aku akan pelan-pelan, aku sangat merindukannya,” bisik Deva kembali, membuat Davina menelan salivanya kasar.
“Kalau begitu, kau bersihkan diri dulu, kau baru saja sampai setelah bekerja seharian. Aku khawatir baby kita sakit,” ucap Davina dengan nadap perintah, agar bisa mengulur waktu.
“Baiklah, kalau begitu aku akan membersihkan diri dulu. Kau tunggu aku di atas tempat tidurku, dan ingat! Kau jangan tidur duluan sebelum aku keluar dari sana,” ucap Deva memberikan perintah dengan panjang lebar, membuat Davina hanya bisa menghela napasnya panjang dan pasrah.
Setelah mengatakan hal itu, akhirnya Deva segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan, Davina yang melihat sang suami sudah memasuki kamar mandi tersebut, segera membuka ponsel barunya.
“Semoga nomor ponselnya masih aktif,” gumam Davina yang segera mengetikkan nomor ponsel seseorang.
Setelah tahu jika nomor ponsel tersebut masih aktif, Davina langsung menghubungi nomor tersebut dengan hati yang berdegup dengan kencang. Di sisi lain Ia takut suaminya tahu, dan di sisi lain juga, ia sangat bahagia bisa menghubungi pria yang ia cintai.
“Halo, Arsen,” sapa Davina dengan pelan.
“Davina, ini benar dirimu kan? Aku sangat bahagia. Apa kau baik-baik saja setelah hari di mana kita bertemu?” tanya Arsen di sebrang sana dengan nada khawatir.
“Aku baik-baik saja, kau jaga dirimu baik-baik, jangan sampai suamiku menyakiti mu, dia sangat kejam. Oh iya, ini nomor ponsel ku yang baru, lain kali aku akan menghubungi dirimu lagi. Aku matikan dulu sambungannya,” ucap Davina yang hanya ingin memberi kabar dan peringatan untuk pria tersebut.
Davina sangat terkejut saat melihat Deva sudah keluar dari dalam kamar mandi sana, dengan menggunakan sehelai handuk yang melilit di pinggangnya.
“Ka-kau, sejak kapan kau ada di sana?” tanya Davina gugup.
“Baru saja. Sebaiknya ayo kita lakukan malam kita yang indah. Aku sudah tidak sabar untuk menjenguk anakku,” bisik Deva yang kini sudah menarik dan memeluk pinggang Davina dengan posesif.
...****************...
terima kasih.
Maaf ya Mimin telat up.
__ADS_1