Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Kebimbangan


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Setelah selesai menyuapi Davina dan menemani wanita itu tidur kembali, akhirnya Deva bisa keluar dari kamar tersebut. Pria itu menuju ruangan pribadi miliknya, karena ingin melakukan sesuatu.


Deva duduk di kursi kebesaran miliknya, sambil meluncurkan jarinya di layar benda pipih untuk mencari sesuatu. Hingga Deva menemukan nomor telepon seseorang dan menghubunginya.


“Halo bos, apa ada yang bisa saya lakukan?” tanya seorang pria yang ada di sebrang sana.


“Max, aku punya tugas untuk mu,” jawab Deva datar dan dingin.


“Tugas apa itu bos?” tanya Max penasaran.


“Carikan istriku ponsel terbaru di luar Negeri, carikan yang paling bagus dan berkualitas,” titah Deva dengan tegas.


“Baik bos,” ucap Max patuh.


“Malam ini, aku sudah meminta David membawa mu dengan jet pribadi milikku. Jadi, pergilah dengan beberapa pengawal lain dan pulang secepatnya,” ucap Deva yang segera memutuskan sambungan telepon tersebut secara sepihak.

__ADS_1


“Haiss! Davina, kau sudah merubah segalanya, kau membuat hatiku bimbang dengan kehadiran anakku. Aku tidak ingin anakku membenci ayahnya karena sudah membunuh ibunya. Davina, kau membuat ku merasa ada diantara hidup dan mati,” gumam Deva sambil memejamkan matanya sambil menghela napasnya panjang.


Deva kembali mencari sesuatu dalam ponsel miliknya tersebut dan kembali menghubunginya.


“Halo bos,” sapa seorang pria yang ada di sebrang sana.


“Ada tugas untuk mu,” ucap Deva dingin.


“Tugas apa bos?” tanya seorang pria tersebut yang tak lain adalah Galen.


“Beli Restoran beserta lahannya yang ada di dekat kantor perusahaan ku, kau ledakan bangunan itu, tapi sebelum kau bertindak, kau cek CCTV-NYA dan serahkan padaku,” ucap Deva dengan nada perintah.


“Bagus, aku tunggu hasilnya besok malam. Segera selesaikan urusan senjata di sana, dan cepatlah kembali sebelum ada yang mencurigai kita,” ucap Deva memberi peringatan pada sang asisten.


“Siap bos, saya akan mempercepat urusan di sini agar bisa kembali ke perusahaan,” ucap Galen menyetujui perintah Deva.


“Ingat, jangan membuang waktu ku,” ucap Deva yang segera memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


“Apa anakku akan marah jika ayahnya seorang Mafia, bahkan Davina tidak tahu apa pekerjaan utama ku,” gumam Deva yang justru memikirkan pendapat anak dan istrinya.

__ADS_1


“Sekarang tugasku adalah membuat pria kurang ajar itu menerima akibat perbuatannya secara perlahan. Aku ingin melihat permainan apa yang akan dilakukan pria brengsekk itu. Arsen, saat ini kau masih selamat, tapi suatu hari nanti, aku akan menyaksikan lidah dan matamu dalam genggaman ku,” gumam Deva sambil menampilkan senyum smirk nya.


Deva yang merasa malam sudah semakin larut, akhirnya kembali ke kamar miliknya. Ia membuka pintu kamarnya dan melihat wanita cantik yang ada di dalam sana sedang terduduk sambil mengerucutkan bibirnya.


Deva menghampiri Davina yang masih belum melepaskan pandangan tajamnya dari arah Deva, membuat pria itu merasa terintimidasi oleh tatapan tersebut.


“Kau dari mana saja?” tanya Davina penuh selidik. Entah sejak kapan Davina mulai berani bersikap seperti itu pada Deva, atau mungkin karena ada bayi di dalam kandungannya yang membuat wanita itu semakin berani.


“Kenapa kau bangun?” bukannya menjawab, Deva malah mengalihkan topik pembicaraan dengan mengajukan pertanyaan balik pada Davina.


“Kau belum menjawab pertanyaan ku,” ucap Davina ketus.


“Aku dari ruangan ku, lalu kenapa kau terbangun?” tanya Deva sambil mengusap puncak kepala Davina.


“Karena aku merasa takut setelah tahu kau tidak ada di samping ku,” jawab Davina sambil mengerucutkan bibirnya.


...****************...


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2