Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Temani aku


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Davina mulai menyelimuti tubuh Deva yang masih demam, hingga pada saat Davina ingin bangkit dan pergi dari sana, Deva langsung mencekal tangan Davina untuk mencegah wanita itu agar tidak pergi.


“Ada apa?” tanya Davina penuh selidik.


“Jangan pergi, temani aku. Aku tidak bisa tidur,” pinta Deva dengan lirih dan menampilkan wajahnya yang memelas.


“Aku harus pergi ke kamar ku, baby sedang tidur dengan Aliya saja,” ucap Davina berat hati, karena ia juga sudah merindukan putra kecilnya itu.


“Baby sudah tidur, lagipula dia bersama dengan Aliya. Sedangkan, aku hanya sendiri, ini juga kamar mu Vin,” ucap Deva yang sebenarnya tidak ingin ditinggalkan oleh istrinya.


Jika dulu ia bisa mengancam sesuka hati dan memaksa semua keinginannya. Namun, sekarang keadaannya sudah jauh berbeda. Untuk meminta agar istrinya tidur bersama dengan dirinya saja susah, apalagi untuk memaksa, bisa-bisa ia menjadi duda dadakan besok pagi.


Davina yang mendengar hal itu, merasa ada benarnya juga, lagipula Deva masih sakit, bagaimana jika pria itu membutuhkan sesuatu, begitu pikir Davina. Davina duduk kembali di bibir tempat tidur samping Deva. Davina mengelus puncak kepala Deva dengan lembut, agar pria itu tidur dan ia bisa cepat pergi dari kamar suaminya.


Namun, tiba-tiba tubuh Davina terhuyung dan terjatuh dalam pelukan Deva, pada saat pria itu menarik dan memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Davina terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba ini.


Davina merasa tubuhnya sesak karena Deva menghimpit dengan erat, membuat ia kesulitan untuk bernapas. Wanita itu sesekali mencoba untuk mendorong dada Deva dengan sangat kuat, meskipun hasilnya nihil. Tenaganya tidak cukup kuat untuk menyingkirkan lengan Deva yang kekar dan kokoh.

__ADS_1


“Deva, apa yang kau lakukan?” tanya Davina sambil membentak pria yang sedang memeluknya dengan erat.


“Aku kedinginan,” ucap Deva lirih, membuat Davina tidak jadi bersungut-sungut untuk memarahi suaminya.


“Apa kau masih merasa tidak nyaman, atau tubuh mu masih panas?” tanya Davina sambil menyentuh dahi Deva.


“Aku hanya ingin memeluk mu Vin, aku ingin meresapi setiap detik harumnya tubuh mu yang sudah aku sia-siakan selama ini,” jawab Deva sambil mencium kening Davina dengan lembut.


“Kau terlalu banyak bicara, sebaiknya cepat tidur agar kau bisa cepat pulih,” ucap Davina yang sudah malas untuk membahas hal yang sudah tidak perlu di bahas lagi.


Tanpa terasa, Davina yang berniat ingin segera keluar dari kamar tersebut, kini malah tertidur pulas dalam pelukan Deva, membuat Deva senang dan dan tersenyum lebar. Hingga pria itu tertidur sambil tersenyum tanpa melepaskan dekapan tangannya pada tubuh Davina.


...----------------...


“Dev, apa kau sudah bangun,” ucap Davina sambil menempelkan telapak tangannya di kening pria yang masih memejamkan matanya tersebut.


“Syukurlah, demamnya sudah turun. Astaga, aku melupakan putra kecil ku,” ucap Davina yang segera bangkit dari atas tempat tidur tersebut dan segera bergegas pergi menuju kamarnya.


Deva yang sebenarnya sudah terbangun dari tidurnya, merasa senang karena Davina ternyata sangat peduli pada buah hati mereka. Deva sempat takut jika Davina tidak akan pernah mau menerima anak dari benihnya, karena dulu Davina sempat ingin menggugur janin tersebut.


“Baby, Daddy akan menjaga mu dan Mommy,” gumam Deva yang segera bangkit untuk mencuci wajahnya.

__ADS_1


...****************...


Hai, gimana kalo novel ini Mimin tamatkan secepatnya?


Mommy





Daddy





Mommy and Daddy bersama Baby

__ADS_1



__ADS_2