
Selamat membaca ...
...****************...
Di sebuah ruangan dengan cahaya temaram, seorang pria tengah berusaha keluar dari ruangan tersebut. Deon, seorang pria yang sudah menjadi asisten Arsen, kini ada di dalamnya sambil memberontak.
“Ck! Apa yang kau lakukan, kau itu hanya membuang banyak tenaga jika tidak mau diam,” ucap Max sambil terkekeh dengan nada mengejek.
“Lepaskan aku atau kau akan menyesali perbuatan kalian ini!” bentak Deon di dalam sana.
“Cih! sudah mau beda alam juga masih saja tidak sadar,” ucap Max yang semakin suka mengejek pria itu di dalam sana.
“Max, apa kau juga tidak bisa diam?” tanya Galen datar di sampingnya, membuat pria yang akrab di sapa Max itu langsung mengatupkan mulutnya, ditambah dengan gerakan mengunci mulut dengan tangannya.
“Kalian akan menyesali ini seumur hidup,” ucap Deon mendesis tanpa dihiraukan oleh dua orang yang ada di luar ruangan tersebut.
Bosan dengan keributan antara Deon dan Max, akhirnya Galen menghubungi sang tuan untuk segera membereskan masalah ini.
“Halo, selamat malam bos,” sapa Galen pada sosok pria di sebrang sana.
“Hmm, apa kau sudah membawa bajingan itu?” tanya Deva di sebrang sana.
“Sudah bos, tapi ...,” ucap Galen menggantung kalimatnya, yang mana hal itu membuat Deva mengernyitkan dahinya tanda pria itu bingung.
“Tapi apa?” tanya Deva dengan nada penuh selidik.
“Dia selalu saja mengoceh bagai burung beo, ditambah lagi Max yang suka mengejeknya. Tangan saya sudah gatal ingin segera menghabisinya,” jawab Galen dengan tak kalah kesal.
“Tunggu aku besok pagi, aku akan segera menyelesaikannya,” ucap Deva yang segera memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
...----------------...
Di rumah sakit, di sebuah ruangan seorang wanita yang tengah terbaring lemah. Seorang pria yang selalu setia menunggu istrinya, berharap wanita cantik itu segera sadar dan kembali hidup untuk membuka lembaran baru bersamanya.
__ADS_1
“Davina, kau jangan khawatir, aku pasti akan membunuh pelaku penembak itu hingga membuat dirimu, aku dan juga baby kita menjadi seperti ini. Apa kau masih ingin istirahat dari rasa lelah mu selama ini bersama ku, sayang,” ucap Deva sambil menciumi telapak tangan milik Davina dengan air mata penyesalan yang tak akan pernah ada habisnya.
“Aku akan tetap menunggu dan menjaga mu, tidak akan pernah aku lepaskan dirimu dengan membawa kebencian ini, aku akan berusaha dan membuktikan rasa penyesalan ku padamu benar adanya, aku ingin meminta maaf darimu, aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu Vin, tapi apakah kau akan meninggalkan aku dan juga putra kecil kita,” ucap Deva sambil terisak.
Namun, pada saat itu terdengar suara pintu terbuka, membuat Deva segera mengusap lelehan bening yang sejak tadi mengalir deras di pipinya. Seorang wanita dengan jas putihnya masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Maaf tuan saya sudah mengganggu waktunya, saya hanya ingin memeriksa kondisi istri anda,” ucap sang dokter tak enak hati.
“Ya silakan dok,” ucap Deva santai.
“Keadaannya semakin membaik dari sebelumnya, semoga istri anda cepat sadar,” ucap sang dokter setelah memeriksa kondisi Davina.
“Apakah istri saya akan segera sembuh dok?” tanya Deva dengan raut wajah yang tak dapat diartikan.
“Saya doakan agar istri anda sembuh secepatnya, tapi saya juga belum bisa memastikan kapan nona Davina akan sadar. Saya permisi,” ucap sang dokter tersenyum dan segera bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Deva kembali duduk di samping pembaringan istrinya setelah dokter itu pergi dari sana. Pria itu merasa lelah dan malah ikut naik ke atas pembaringan istrinya, beruntung tempat pembaringan itu cukup besar hingga Deva bisa ikut naik di atas sana.
“Aku ingin membuka lembaran baru bersama mu, sekarang aku sudah sadar jika aku tidak bisa hidup tanpa dirimu di sampingku, apa kau tahu? Aku sudah jatuh ke dalam permainan ku sendiri, aku sudah masuk ke dalam cintamu tanpa aku sadari, jatuh terlalu dalam hingga aku tidak mampu untuk bangkit kembali. Aku mohon segera sadar Vin, aku janji akan menjaga dirimu dan anak-anak kita,” ucap Deva tak henti-hentinya berharap istrinya mau mendengarnya dan segera sadar.
Tanpa terasa, Deva terlelap memejamkan matanya menyelami alam mimpi, berharap esok hari sang istri sudah sadar dan memukulnya karena sudah berani ikut tidur bersamanya.
...----------------...
Deva terbangun karena mendengar di sekelilingnya sangat berisik dan segera membuka matanya. Pria itu terkejut karena sudah ada seorang dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam sana. Namun, pria itu bersikap seolah baik-baik saja dan turun dari atas pembaringan tersebut.
“Tuan maaf kami membangunkan anda, kami ingin membersihkan tubuh nona Davina,” ucap sang dokter.
“Hmm, kalau begitu saya keluar dulu,” ucap Deva yang segera bergegas pergi dari sana.
Setelah mencuci wajahnya, Deva pergi ruangan khusus bayi, di sana ia diam melamun sambil menatap bayi mungil yang ada di dalam sana. Deva berpikir bagaimana jika Davina tak sadarkan diri dalam waktu yang lama, bagaimana dengan putra mereka, ia tidak ingin putranya kekurangan kasih sayang sedikit pun.
Deva ingat masih ada pekerjaan yang harus ia kerjakan saat ini, ia segera bersiap menuju Markas untuk menemui seseorang yang menyebabkan anak dan istrinya di dalam bahaya.
__ADS_1
Namun, ia harus segera meminta beberapa orang pengawal dari Mansion nya untuk menjaga Davina dan juga baby Derry, sebelum ia pergi.
...----------------...
Di sisi lain, seorang wanita yang baru saja melangkahkan kakinya memasuki Mansio mewah milik Deva, berharap pria itu ada di dalam Mansion tersebut.
Aliya yang sudah pulang sejak pukul lima pagi, sudah rapih dan sedang bersiap untuk kembali ke rumah sakit membawa keperluan Deva. Sedangkan, para pengawal sudah sejak tadi berangkat ke rumah sakit tersebut.
“Selamat pagi, Aliya,” sapa seorang wanita yang tak lain adalah dokter Emma sambil melirik Aliya dengan heran karena membawa tas.
“Selamat pagi dokter,” sapa Aliya ramah.
“Aliya, kau mau kemana? kenapa membawa tas?” tanya dokter Emma penasaran.
“Saya mau ke rumah sakit dok,” jawab Aliya datar.
“Ru-rumah sakit, memangnya siapa yang sakit?” tanya dokter Emma yang sudah cemas, takut jika Deva sakit dan ia tidak ada di sisi pria itu.
“Nona Davina terkena tembakan penyusup kemarin malam, tuan Deva juga ikut tertembak. Kondisi tuan Deva sudah pulih, tapi nona Davina sekarang mengalami koma, setelah melakukan operasi,” jawab Aliya panjang panjang lebar.
Dokter Emma yang mendengar hal itu langsung terkejut dan menganga tak percaya, ia juga seorang wanita, dan merasakan apa yang Davina rasakan, apalagi wanita itu tengah hamil besar.
“Lalu bayi mereka?” tanya dokter Emma penasaran.
“Bayinya sudah sehat,” jawab Aliya.
“Aliya, apa aku boleh ikut?” tanya dokter Emma penuh harap.
“Boleh,” jawab Aliya.
“Baiklah, kalau begitu kita ke rumah sakit itu dengan mobilku saja,” ucap dokter Emma yang segera bergegas pergi ke sana bersama Aliya.
...****************...
__ADS_1