Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Selamatkan istriku


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Suara benda terjatuh bersama suara ringisan dari seorang wanita tersebut, membuat Deva kembali membuka matanya. Matanya memerah dengan jantung yang berdegup kencang seolah ingin keluar dari tempatnya.


Sebuah kaca jendela hancur berkeping-keping karena tembakan dari arah luar, hingga mengenai bahu kanan Davina. Sedangkan, Davina reflek menembakan sebuah timah panas tersebut hingga mengenai lengan kiri Deva.


Ternyata, ada seorang pengintai dari arah luar balkon kamar Deva, hingga berhasil menembak bahu Davina, membuat wanita itu diam mematung dengan wajah yang sudah pucat.


Deva yang juga terkena tembakan istrinya, tidak peduli dengan sebuah peluru di lengannya. Ia hanya ingin istrinya baik-baik saja, dengan sebuah peluru di bahu wanita itu. Deva kembali meneteskan lelehan beningnya, saat mengingat ada calon buah hatinya yang sedang ada dalam kandungan Davina.


Ingin rasanya Deva mengejar orang sudah berani membuat perhitungan dengannya, apalagi orang itu sudah berani menyakiti istri dan juga calon anaknya. Namun, saat ini yang terpenting adalah keselamatan istrinya.


“Davina, bertahanlah sayang. Aku akan segera menolong mu, aku mohon tetap buka matamu,” ucap Deva sambil terisak. Rasa sakit di lengannya, tak berarti apa-apa bagi dirinya, dibandingkan dengan rasa sakit saat melihat Davina tak berdaya.


“De-deva, bukankah kau senang, saat me-melihat ku seperti ini,” ucap Davina dengan lirih, wanita itu sudah tergeletak di pangkuan Deva, dengan wajah yang sudah pucat.


“Tidak sayang, tolong jangan katakan itu lagi, ku mohon bertahanlah,” ucap Deva sambil mencari sebuah benda pipih di kantong celananya.


Akhirnya Deva menemukan ponsel tersebut dan segera menghubungi seseorang di sebrang sana.


“Galen, sekarang tunggu aku di rumah sakit terdekat dari Mansion, istriku terkena tembakan,” ucap Deva yang segera memutuskan sambungan telepon tersebut.


Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, akhirnya Deva membawa Davina ke rumah sakit terdekat dari Mansion miliknya.


Deva mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi, meskipun dengan keadaan lengan yang terluka dan masih mengeluarkan darah segar dari luka tersebut.


Davina yang di letakan di bangku belakang bersama Aliya, karena ia tidak mungkin membiarkan istrinya seorang diri di belakang sana.


...----------------...


Tak butuh waktu lama, akhirnya Deva sudah sampai di rumah sakit tersebut, dan istrinya sudah dibawa ke ruang perawatan.


Namun, tiba-tiba suara pintu terbuka dari ruangan itu, membuat Deva langsung menghampiri seorang wanita yang berprofesi sebagai dokter tersebut.

__ADS_1


“Dok, bagaimana keadaan istri saya? Apa dia dan calon anak kami akan selamat?” tanya Deva dengan panik tanpa memperhatikan luka dirinya sendiri.


Sebagai seorang Mafia, hal itu sudah biasa baginya, meskipun terasa sakit, ia masih bisa menahannya. Sedangkan Galen, pria itu hanya mengikuti ke mana arah sang tuan.


“Istri anda harus segera melakukan operasi, untuk menyelamatkan antara bayi dan istri anda tuan,” jawab sang dokter dengan memasang raut wajah penuh rasa sesal, karena menyampaikan kabar buruk itu.


“Apa maksudnya dok? Katakan dengan jelas apa yang terjadi dengan istri dan calon anak saya?” tanya Deva dengan tatapan tajamnya.


“Kemungkinan hanya akan ada salah satu yang bisa kami selamatkan, karena istri anda sudah mengeluarkan banyak darah, dan calon bayi yang ada dalam kandungannya ikut melemah,” jawab sang dokter tak tega menyampaikan kabar buruk tersebut.


Degg!


Seketika dunia Deva seolah runtuh, jantungnya yang sejak tadi berdegup dengan kencang, kini seolah berhenti berdetak. Bagaimana ia bisa hidup tanpa Davina, wanita yang sudah menemani hari-harinya dengan penuh warna semenjak kehamilannya.


“Tuan, sebaiknya anda segera memberi keputusan secepatnya agar kami bisa segera bertindak. Siapa yang akan di selamatkan?” cecar sang dokter yang juga tak punya pilihan lain.


“Selamatkan istriku, saya mohon, selamatkan ibunya. Saya akan membayar berapapun biayanya agar istri saya bisa selamat,” pinta Deva dengan penuh harap.


“Baiklah, kalau begitu tuan harus menanda tangani berkas perjanjiannya. Tuan bisa ikut ke ruangan saya terlebih dulu, sementara istri anda akan dibawa ke ruang operasi,” ucap sang dokter segera bergegas melangkahkan kakinya dengan diikuti oleh Deva.


Dengan perasaan yang tak karuan, Deva terus bolak balik bagai setrikaan panas, begitu juga dengan Galen dan Aliya.


“Galen, apa Arsen sudah di bereskan?” tanya Deva dingin.


“Sudah bos. Untuk masalah ini, saya yakin ini adalah sebuah rencana yang sudah tersusun rapih, tapi saya merasa ini ada hubungannya dengan Arsen,” jawab Galen dengan penuh curiga.


“Aku tahu dia adalah asisten pria brengsekk itu, dia pasti sudah tahu tentang keadaan tuannya, hingga menysusun rencana dadakan ini,” ucap Deva yang menyetujui ucapan Galen, sedangkan Aliya, wanita itu hanya diam tak tahu apa-apa.


“Saya akan mengurus bajingan kecil itu secepatnya tuan,” ucap Galen dengan tegas.


“Tuan, sebaiknya luka anda segera di obati sebelum infeksi,” ucap Aliya memberanikan diri, karena merasa khawatir.


“Apa kau pikir aku masih bisa memikirkan diriku sendiri, sementara istriku sedang berjuang melawan kematian di dalam sana, apa kau sudah gila?!” tanya Deva sambil melayangkan tatapan tajamnya, membuat Aliya hanya diam tapi terlihat kesal.


“Benar apa yang dikatakan Aliya bos, sebaiknya bos obati dulu lukanya, biar kami yang menjaga nona Davina di sini,” ucap Galen menyetujui saran dari Aliya.

__ADS_1


“Tidak, aku tidak akan pernah meninggalkan Davina sendirian di sini, meskipun ada kalian, aku tidak ingin meninggalkannya,” bantah Deva dengan keras.


“Tuan, jika keadaan anda seperti ini, bagaimana jika nona bangun dan anda tidak bisa mengurus istri anda sendiri. bukankan anda ingin menunjukkan kasih sayang anda selama ini?” tanya Aliya berusaha meyakinkan sang tuan.


Mendengar hal itu, membuat Deva akhirnya menjadi berubah pikiran. Benar juga apa yang katakan Aliya, begitu pikir Deva.


“Hmm, baiklah. Aku akan meminta seorang dokter mengobatinya, kalian tunggu istriku di sini dan jangan pernah meninggalkannya meskipun satu langkah,” ucap Deva dengan nada perintah.


Deva akhirnya bergegas melangkahkan kakinya, meninggalkan Aliya dan Galen di tengah keheningan.


“Apa kau selalu memasang wajah dingin mu itu?” tanya Aliya basa basi, karena ia sungguh merasa tak nyaman jika berdekatan dengan pria dingin itu.


Tak ada jawaban ...


Hening ...


“Selain dingin dan kejam, ternyata kau juga tuli ya,” ucap Aliya sarkas, wanita itu tak tahan jika berdiam diri saja tanpa percakapan apapun.


“Urus saja urusan mu sendiri,” ucap Galen yang akhirnya mengeluarkan suaranya.


“Ck! Sombong. Ditanya malah jawab seperti itu. Apa kau tidak punya etika pada saat tanya jawab,” ucap Aliya sarkas lagi.


“Apa kau ingin mati?” tanya Galen dingin.


“Selalu ancaman yang keluar,” gumam Aliya dengan suara kecil tapi masih bisa terdengar oleh Galen, tapi pria itu hanya diam ta berniat menanggapi sedikit pun.


...****************...


Deva Ghazanvar


Sebelum kejadian ...



__ADS_1



__ADS_2