Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Terjebak


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Kini Deva sudah membawa Davina ke rumah sakit terdekat yang ada di sana. Kondisi Davina yang masih belum sadarkan diri dengan kaki berlumuran darah, membuat Deva ikut cemas.


Deva hanya bisa menunggu Davina di luar ruang perawatan, tapi sudah hampir satu jam, pintu tersebut belum juga terbuka, membuat pria itu khawatir sambil bolak-balik bagai setrikaan.


“Bos, apa ada yang bisa saya lakukan?” tanya Galen yang juga masih ada di sana dengan diam.


“Hm, tidak. Aku hanya ingin segera mendengar kabar dari kondisi wanita itu,” jawab Deva dengan penuh kecemasan.


“Apa bos mulai mempunyai perasaan untuk wanita itu?” tanya Galen dengan penuh selidik, membuat Deva tersentak kaget mendengar penuturan sang asisten, dan langsung membuang wajahnya ke arah lain.


“Dengan alasan apa kau memiliki pemikiran seperti itu? Perbuatan apa yang membuat mu berpikir jika aku menyukainya?” tanya Deva datar yang masih melihat ke arah lain, membuat Galen terkekeh mendengar ucapan sang bos.


“Kenapa kau malah terkekeh, aku sangat tidak nyaman mendengar kekehan mu ini,?” tanya Deva kesal.


“Langit dan bumi yang akan menjadi saksi, jika mereka bisa bicara, begitu juga dengan perasaan. Mulut berkata tidak, tapi hati tidak bisa berdusta, pada siapa ia akan cinta,” jawab Galen dengan datar.

__ADS_1


“Dari mana kau menemukan kalimat yang sangat menggelikan itu, apa selama tugas mu ada seseorang yang membuat mu luluh?” tanya Deva sambil terkekeh.


“Saat itu tidak ada, tapi suatu saat nanti akan ada,” jawab Galen dengan santai.


“Jangan bercanda, aku tidak akan pernah melakukan hal sebodoh itu, kau tahu aku bagaimana. Jika itu dirimu, apa yang akan kau lakukan?” tanya Deva santai.


“Sudah tiga bulan semenjak anda menjadikan wanita itu sebagai tawanan, tapi kenapa masih belum juga membunuhnya? Jangan katakan karena wanita itu sedang hamil, saya tidak akan pernah percaya dengan alasan murahan itu,” ucap Galen datar.


Ternyata pria itu juga memprhatikan gerak-gerik sang bos, yang mana hal itu sangat jarang terjadi pada musuhnya.


“Ck! Kau memperhatikan aku rupanya,” decak Deva sambil tersenyum smirk.


“Aku tidak tahu dengan perasaan ku, aku rasa ak--,” ucap Deva langsung terputus, saat mendengar suara pintu ruangan di mana Davina dirawat terbuka.


“Tuan, kaki istri anda mengalami cedera, dan hampir saja mengalami kelumpuhan. Saya akan memeriksa kondisi istri anda lebih lanjut untuk tindakan selanjutnya,” ucap sang dokter sambil menghela napasnya panjang.


“Lakukan apapun agar istri saya sembuh, saya akan membayar berapapun biayanya,” ucap Deva dengan nada khawatir.


“Ini bukan masalah biaya tuan, tapi kami juga harus melihat kondisi istri anda terlebih dahulu,” ucap sang dokter berusaha memberikan penjelasan pada suami sang pasien.

__ADS_1


“Aku tunggu kabar baik selanjutnya, tapi, apakah aku bisa menemui istriku?” tanya Deva yang sudah tidak sabar untuk menemui wanita yang ia pukul sebelumnya.


“Boleh tuan,” jawab sang dokter.


Tanpa menunggu lama lagi, akhirnya Deva memasuki kamar ruangan di mana sang istri dirawat. Deva membuka pintu tersebut, hingga menampilkan sosok wanita yang terbaring lemah dan kaki yang dibalut dengan perban, membuat hatinya sedikit teriris.


Sebenarnya ada apa dengan dirinya, Deva pun tidak mengerti. Dendam yang ia rencanakan hingga menjerat wanita itu, tak membuatnya mulus saat menjalankan rencana tersebut.


“Davina, ayo sadar. Aku melakukan itu hanya tidak ingin kau lari lagi dari sisiku, aku tidak ingin kau jauh dariku. Tiga bulan telah kita lalui dengan berbagai situasi, tapi tak membuat ku menjalankan rencana yang telah aku siapkan, aku terjebak diantara pikiran dan hatiku,” ucap Deva sambil menciumi tangan Davina dengan bertubi-tubi.


Deva Ghazanvar




...****************...


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2