Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Aku mengerti


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Arsen membulatkan matanya secara sempurna, karena merasa ketakutan dengan ancaman Deva. Pria itu meronta di dalam penjara tahanan Deva, meminta agar ia segera di bebaskan dan mengambil barang bukti yang ada di tangan Deva.


“Davina, baca dan cermati barang bukti ini, aku tahu kau adalah wanita yang cerdas,” ucap Deva sambil memberikan sebuah amplop berwarna cokelat di tangannya.


Davina segera menerima amplop tersebut dengan cepat dan segera membaca isi dari surat itu dengan sangat teliti dan seksama. Davina membulatkan matanya dengan sempurna, dengan sesekali melirik ke arah Arsen dan juga Deva secara bergantian.


Lelehan bening sudah menggenang di pelupuk matanya, bahkan surat yang ada di tangannya sudah terjatuh di bawah sana.


“A-arsen, kenapa, kenapa kau tega membohongi aku selama ini?” tanya Davina dengan suara yang sudah bergetar, lelehan bening yang sudah sejak tadi ia tahan, kini sudah meluncur bebas membasahi pipinya.


“Cih! Apa kau baru sadar sekarang. Sayang sekali rencana itu sudah diketahui oleh teman mu Erika, dan itu membuat ku bekerja keras untuk mengancam dia agar tidak berani bicara padamu,” ucap Arsen yang sudah menampilkan senyum devil nya.


“Apa yang kau katakan, apa kau mengenal Erika?” tanya Deva geram.


“Ck! Dia adalah kekasih ku,” jawab Arsen dengan santai.

__ADS_1


“Max, cepat bawa dia ke hadapan ku sekarang juga,” titah Deva dengan sorot mata yang tajam.


“Baik bos,” ucap Max dengan patuh sambil mengeluarkan Arsen dari dalam sana.


Buggh! Buggh! Buggh!


Deva langsung melayangkan bogeman mentah pada pria yang baru saja keluar dari dalam ruangan tersebut, hingga pria itu meringis kesakitan dengan darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya.


“Deva, izinkan aku untuk melakukan itu,” pinta Davina dengan suara yang sudah serak karena terus menangis.


“Kau berhak melakukannya,” ucap Deva santai.


Davina menampar wajah Arsen dengan sangat keras, membuat luka di wajah pria itu semakin sakit.


“Katakan apa yang kau lakukan pada adik ku Erika, cepat katakan atau aku akan membunuh mu!” bentak Deva dengan mata yang sudah di penuhi kabut amarah.


“A-adik, apa maksud mu?” tanya Arsen dengan gugup, karena dari dulu ia tidak pernah tahu kalau Erika mempunyai seorang kakak pria.


“Kau sudah mengancamnya hingga dia bunuh diri, bedebbah! Kau harus mati!” geram Deva dengan tatapan matanya yang sudah memerah.

__ADS_1


“Arsen, aku tidak menyangka kau seperti ini di belakang aku, sebenarnya apa tujuan mu?” tanya Davina marah.


“Aku ingin menguasai harta Emery, apa kau puas huh!” jawab Arsen dengan nada tinggi.


“Cukup! Sekarang aku mengerti, secara tidak langsung Deva sudah menjalankan rencana mu Arsen, hingga Keluarga ku mati karena sebuah kesalah pahaman ini. Sekarang aku sudah sendiri, apa kalian puas huh!” teriak Davina histeris.


Deva yang melihat sang istri sudah teriak histeris dan tubuhnya mulai sempoyongan, langsung mendekap tubuh Davina. Namun, Davina yang sudah merasa di kecewakan untuk kedua kalinya dan itu rasanya jauh lebih menyakitkan daripada sebelumnya, langsung jatuh tak sadarkan diri di pelukan Deva.


“Davina, sayang, bangun,” ucap Deva dengan cemas sambil terus mencoba membangunkan istrinya.


“Aku harap istrimu tidak akan pernah membuka matanya lagi,” ucap Arsen dengan menampilkan senyum smirk nya.


“Sebelum hal itu terjadi pada istriku, akan aku pastikan kau yang akan lebih dulu menutup matamu tanpa bangun lagi,” ucap Deva geram.


...****************...


Terima kasih.


Apa kalian merasa part ini terasa hambar?

__ADS_1


__ADS_2