Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Sembilan bulan


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Dengan segala cara akhirnya Davina mau makan dengan disuapi oleh Deva. Segala macam cara juga Deva lakukan untuk mengajak Davina berbicara, tapi wanita itu hanya diam tak menggubris setiap ucapan Deva.


“Besok sore kita akan pulang, jadi kau harus segera istirahat,” ucap Deva yang segera bangkit dari duduknya dan ingin membenarkan selimut untuk istrinya, tapi Davina langsung menepis tangan Deva.


“Aku bisa sendiri,” ucap Davina ketus. Namun, pada saat Davina ingin membenarkan posisi tidurnya, ia meringis karena menahan rasa sakit di kakinya tersebut.


“Jangan membantah, aku tidak suka jika kau terus menerus membantah seperti ini,” ucap Deva yang sudah menarik selimut Davina dan membantu wanita itu untuk merebahkan dirinya.


“Bahkan kau tidak menyukai aku hidup dengan tenang, kau tidak menyukai napas ku dan juga keberadaan ku. Apa masih ada yang belum aku sebutkan tadi?” tanya Davina dengan datar, membuat Deva hanya diam tak menanggapi pertanyaan konyol sang istri.


“Aku akan menemani mu tidur, kau jangan terlalu banyak berpikir,” ucap Deva mengalihkan topik, agar sang istri tidak terus menerus menyudutkan dirinya.


Deva mengelus puncak kepala Davina dengan sangat lembut, sesekali menciumi kepala sang istri yang tercium sangat wangi di indera penciumannya.


Namun, Davina terus berusaha menghindari kecupan dari suaminya tersebut, karena merasa tidak nyaman dengan perlakuan Deva yang terkadang berubah lebih cepat dari membalikan telapak tangan.


“Cepat istirahat, besok kita akan pulang,” ucap Deva sambil membelai wajah Davina sambil menyisikan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.


“Kalau kau mau pulang, silakan saja, aku tidak akan menahan mu. Aku tidak ingin kau repot di sini karena menjaga ku semalaman, dan ujungnya perhitungan,” ucap Davina bersungut-sungut dengan segala opininya.


“Aku sudah mengatakannya, kau jangan terlalu banyak berpikir. Baby kita kasihan di dalam sini, jika Mommy nya kelelahan,” ucap Deva sambil mengelus perut Davina.


Davina yang mendengar hal itu hanya diam bersikap acuh tak acuh dengan keberadaan suaminya, wanita itu merasa sedikit nyaman saat Deva mulai mengelus perut rata miliknya, hingga tak butuh waktu lama lagi, Davina terlelap menyelami alam mimpi.


...----------------...


Tak terasa, malam pun sudah berganti pagi yang cerah. Sesuai jadwal, sore hari ini adalah waktu perpulangan bagi Davina, tapi wanita itu belum juga membuka matanya, sedangkan Deva, pria itu sudah sejak pagi buta membersihkan diri karena meminta salah satu pelayan Mansion mengirim keperluannya dan Davina.


Tak berselang lama, terdengar suara lenguhan dari sang istri, tanda wanita itu terbangun dari tidurnya. Deva yang mendengar hal tersebut, langsung bergegas mendekati Davina.

__ADS_1


“Davina, kau sudah bangun, ini minumlah,” ucap Deva yang memberikan segelas air sambil membantu wanita itu untuk meminum airnya.


“Apa kau sudah merasa jauh lebih baik?” tanya Deva dengan lembut.


“Apa kau pikir dengan keadaan ku yang masih begini sudah baik?” bukannya menjawab, Davina justru balik bertanya pada sosok pria yang ada di hadapannya tersebut dengan sinis.


“Aku akan membantu mu membersihkan diri,” ucap Deva dengan santai sambil membuka selimut Davina, membuat wanita itu membulatkan matanya dengan sempurna, sambil menahan selimut yang Deva tarik.


“Tidak, aku tidak mau dibantu oleh mu,” tolak Davina sambil menatap tajam ke arah Deva.


“Tapi aku mau,” ucap Deva yang langsung menggendong sang istri menuju kamar mandi yang ada di ruangan tersebut.


Davina terus teriak ambil memukul dada bidang milik Deva, tapi semua itu hanya membuang tenaga saja, karena Deva tidak merasakan apapun, bahkan tidak membuat pria itu menghentikan aksinya.


...----------------...


Akhirnya Deva sudah membawa pulang sang istri ke Mansion mewah dan megah miliknya, dan segera membawa Davina ke kamar untuk istirahat.


Beberapa menit setelah itu, ada suara getar dari saku celananya, yang tak lain dari ponsel milik Deva. Merasa akan getar dari dalam sana, akhirnya Deva membuka pesan yang dikirm oleh Max. Pria itu memberikan informasi mengenai tugas yang Deva berikan.


Deva yang melihat hal itu langsung menggertakan giginya menahan gemuruh amarah yang ingin membuncah. Deva tidak rela jika Davina berhubungan dengan pria yang berkaitan dengan dunia bawah selain dirinya.


“Aku harus segera mengorek informasi lebih dalam lagi untuk pria brengsekk ini. Aku tidak ingin anakku memanggil Daddy pada pria lain selain diriku,” gumam Deva tak terima.


“Cari terus informasi mengenai pria itu dan segera laporkan padaku, bahkan gali terus hingga kegiatannya sehari-hari ini, aku akan menanganinya setelah bukti yang kau kumpulkan cukup kuat,” balas Deva pada Max.


“Dev,” panggil Davina yang terbangun dari tidurnya, yang mampu membuat Deva terkejut.


“Ada apa?” tanya Deva sambil mendekati Davina.


“Boleh aku meminta sesuatu?” tanya Davina dengan ragu.


“Katakan saja, apa ini karena baby kita, hum?” tanya Deva sambil membelai anak rambut Davina.

__ADS_1


“Tidak ada, aku hanya ingin meminta suatu hal darimu,” jawab Davina dengan ragu.


“Aku akan berusaha memenuhi keinginan mu itu,” ucap Deva dengan santai.


“Aku ingin bertemu dengan Arsen, aku mohon,” pinta Davina tanpa rasa takut, apalagi saat ini wajah Deva sudah berubah jadi muram karena mendengar nama pria lain dari mulut istrinya.


“Untuk apa?” tanya Deva dingin.


“Aku ingin memutuskan hubungan kami,” ucap Davina yang membuat Deva mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti dengan apa yang Davina ucapkan.


“Kau jangan coba-coba membodohi aku Davina,” ucap Deva berdesis.


“Aku hanya merasa lelah dengan semuanya. Apa aku salah?” tanya Davina dengan kesal.


“Apa hanya karena itu?” tanya Deva balik bertanya.


“Aku mohon Dev,” pinta Davina tanpa menggubris pertanyaan dari suaminya.


“Tunggu kehamilan mu sudah tua, aku akan memberikan jawaban ku untuk mu,” ucap Deva yang membuat Davina menganga tak percaya. Bukankah itu terlalu lama, begitu pikir Davina.


“Dev, aku tidak bisa menunggu untuk waktu selama itu,” protes Davina tak terima.


“Kalau begitu, aku tidak akan mengizinkan dirimu bertemu pria tidak jelas dan brengsekk itu,” bantah Deva yang segera bangkit dan meninggalkan kamar tersebut.


...----------------...


Sembilan bulan telah berlalu ...


Menit demi menit, hari demi hari, bahkan kini sudah sembilan bulan masa kehamilan Davina. Wanita itu sudah melewati hari-harinya dengan penuh kepura-puraan dalam hidupnya. Hidup dalam kebohongan dan membohongi perasaan dirinya sendiri untuk tetap sabar berada di sisi Deva, membuat ia semakin tak tahan.


Perutnya yang kini sudah membuncit, membuat wanita itu merasa sedikti kesulitan untuk menjalani beberapa aktifitas, termasuk lari dari suaminya. Waktu untuk persalinan hanya membutuhkan satu minggu lagi, membuat Davina sedikit takut jika Deva akan menyiksa dirinya setelah melahirkan.


...****************...

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2