Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Tamat ...


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Tiga tahun kemudian ...


Seorang anak laki-laki yang berusia tiga tahun membuka pintu sebuah kamar, dan langsung berlari ke arah tempat tidur. Pria kecil yang tampan itu langsung menaiki tempat tidur tersebut sambil berteriak.


“Mommy! Daddy!” teriak pria kecil tersebut sambil menyelipkan tubuh mungil itu di tengah kedua orang tuanya.


“Morning Boy,” sapa seorang pria yang langsung memeluk putranya.


“Morning baby,” sapa seorang wanita yang langsung mengecup pipi gembul putranya.


“Morning, Mom, Dadd. Daddy, ayo bangun, sekarang akhir pekan,” ucap seorang anak kecil tersebut.


“Hm, baiklah. Sekarang, putra kecil Daddy keluar dulu ya. Mommy and Daddy mau bersiap,” ucap sang ayah agar putranya keluar terlebih dahulu.


“Oke, Dadd,” ucap sang putra yang segera turun dan keluar menutup pintu kamar tersebut.


“I love You, babbe,” bisik seorang pria sambil menarik Davina dalam pelukannya.


“I love You more, Deva,” ucap Davina menanggapi sambil tersenyum lembut ke arah pria yang tak lain adalah suaminya, Deva.


“Bolehkah ...,” ucap Deva sambil mengedipkan matanya berulang kali, membuat Davina terkekeh dan memukul dada bidang suaminya.


“Tapi kita harus segera bersiap, atau jika tidak putra kita akan marah,” ucap Davina memberi alasan.


“Putra ku akan mengerti setelah aku memberinya sedikit penjelasan. Dia memang sedikit pemarah,” ucap Deva terkekeh di akhir kalimat, karena mengingat putranya Derry sangat pemarah dan tidak sabaran.


Davina hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda jawaban. Deva yang melihat jawaban Davina, langsung menggendong wanita itu untuk dibawa ke dalam kamar mandi. Davina hanya pasrah dan mengalungkan tangannya ke leher Deva, sambil terus mengecupi pipi Deva yang penuh dengan bulu-bulu halus.

__ADS_1


Tak pernah terbayangkan hari ini akan mereka rasakan kembali, setelah beberapa tahun yang lalu hampir berpisah. Davina yang sudah menerima Deva, bahkan kini sudah mencintai Deva karena ketulusan hatinya.


Flashback on ...


Davina yang sudah tidak sanggup untuk melihat keadaan suaminya yang berlumuran darah tak berdaya, akhirnya menunduk untuk memeluk pria itu. Namun, ia begitu terkejut sekaligus bahagia, karena jantung Deva masih berdetak meskipun sudah melemah.


Tak ingin kehilangan sang suami, akhirnya Davina mencari sebuah gerobak yang ada di samping gudang tersebut. Dengan sekuat tenaga, ia menarik Deva ke dalam gerobak tersebut. Bagaimana pun, ia harus menyelematkan Deva. Akhirnya Davina sudah bisa memindahkan Deva dalam gerobak tersebut dan menariknya keluar dari tepi jurang, hingga sampai jalanan sepi.


Davina menarik gerobak tersebut dengan sekuat tenaga sambil berlari, agar nyawa Deva masih bisa diselamatkan. Setelah hampir sampai di pinggiran kota, ada suara dering ponsel dari saku celana Deva, karena ponsel tersebut baru bisa mengakses jaringan.


Davina yang mendengar hal itu, langsung tersenyum bahagia dan segera mengambil benda pipih tersebut dari saku suaminya. Terpampang jelas nama GALEN di layar ponsel tersebut. Ternyata sang asisten sudah panik dan mengirimkan beberapa puluh pesan yang baru sampai. Tak ingin menunggu lama, akhirnya Davina menerima panggilan dari Galen, sang asisten suaminya.


Beberapa menit setelah melakukan panggilan, akhirnya Galen sampai dan segera membawa Deva ke Rumah Sakit terdekat untuk perawatan lebih awal. Deva akhirnya sudah sampai di Rumah Sakit untuk segera dioperasi. Untung saja tiga timah panas itu tidak sampai menembus jantungnya.


Namun, kekecewaan kembali menyerang Davina, saat mendengar penuturan sang dokter, jika suaminya mengalami koma untuk waktu yang tak dapat ditentukan waktunya. Galen juga menyesali perbuatannya yang sangat ceroboh, tapi tak membuatnya terlihat lemah.


Galen justru menggantikan Deva untuk mengurus kantor perusahaan, Markas kebesaran Mafia, dan juga Davina bersama baby Derry jika membutuhkan sesuatu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tapi Deva tak kunjung sadarkan diri, yang mana hal itu membuat Davina semakin sedih.


Flashback off ...


Kini, Deva dan Davina sudah ada di taman pusat kota, di mana sepasang suami istri tersebut sedang menemani putra kecil mereka, Derry. Untuk bermain di sana. Anak kecil itu akhirnya tidak kekurangan kasih sayang dari Ibu, maupun Ayahnya.


“Mommy, aku mau ke sana,” ucap seorang anak kecil itu sambil menunjuk kolam bola yang ada di sana.


“Baiklah, hati-hati sayang. Jangan berlari!” ucap Davina yang sedikit meninggikan volume suaranya, karena sang putra sudah berlari sebelum Davina menyetujui.


“Bukankah dia seperti dirimu?” tanya Davina sambil melirik suaminya.


“Tentu saja, dia putra kita. Apa kau ingin memberi hadiah adik padanya?” tanya Deva sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Putra mu masih kecil, bagaimana bisa aku mengurus bayi lagi, tidak. Kita tunggu putra kita beberapa tahun lagi,” tolak Davina sambil menatap malas ke arah Deva, membuat pria itu terkekeh gemas saat melihat tingkah istrinya.

__ADS_1


“Aku sangat mencintai mu, sayang,” bisik Deva tepat di telinga sang istri, membuat bulu kuduk Davina meremang seketika.


“Kau sudah mengatakannya sebanyak dua puluh lima kali dalam waktu setengah hari.” Deva terkekeh saat mendengar jawaban dari Davina.


“Aku juga sangat mencintai mu, suamiku,” ucap Davina sambil menatap Deva dengan penuh cinta.


...****************...


...TAMAT ......


Sekeras apapun aku menolak. Hati akan menunjukkan pada siapa ia akan berlabuh. Berjanjilah untuk terus bersamaku sekarang, esok dan selamanya. Kamu hanya perlu membiarkan cinta mengalir. Kamu tidak bisa memaksakan cinta, tak bisa memaksakan jatuh cinta, dan tidak bisa memaksakan untuk merasakan jatuh cinta, kamu hanya merasakan. Aku tak tahu bagaimana mengatakannya, tapi kamu hanya bisa merasakannya ~ DEVA GHAZANVAR


Sekuat apapun aku membenci. Tetap rasa cinta yang jadi pemenangnya. Aku tak terlalu yakin mengenai apa yang terjadi. atau bahkan kapan dimulainya. Yang aku yakini adalah di sini dan sekarang, aku mencintai mu dengan dalam ~ DAVINA EMERY


...****************...


Assalamualaikum. Wa Rahmatullahi. Wa Barakaatuh.


Puji syukur kepada Allah SWT, tak ada yang patut mendapatkan puji syukur melainkan tuhan yang Maha Perkasa, yang mengatur segala urusan di muka bumi ini. Manusia hanya dapat berencana, tapi Dia-lah yang menentukan.


Sebelumnya Mimin ucapkan terima kasih kepada kedua orang tua Mimin, yang sudah mengizinkan Mimin untuk menuangkan kehaluan di sini. Tak lupa juga kakak, adik dan teman-teman Mimin yang sudah mensupport Mimin selama ini.


Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk para pembaca karya-karya Mimin, yang sudah mendukung karya ini hingga tamat. Tulisan ini tidak ada apa-apanya tanpa kalian.


Sebenarnya ini karya kelima yang Mimin tuangkan, tapi salah satunya di tempat lain. Sedangkan untuk karya ke empat, masih mangkrak dan belum Mimin selesaikan. Maaf cerita ini harus Mimin tamatkan karena sedang ujian, agar tidak mengganggu pikiran Mimin.


Dari kisah seorang pria yang berprofesi sebagai Mafia bernama Deva, dan seorang wanita bernama Davina, mungkin tidak ada yang dapat diambil pelajarannya. Jika ada, hanya nilai plus saja. Novel ini hanya bertujuan untuk menghibur ya, tidak ada maksud lain di dalamnya.


Salam sehat, salam sejahtera. Sampai jumpa di karya Mimin selanjutnya ...


Wassalamualaikum. Wa Rahmatullahi Wa Barakaatuh.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2