Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Mucikari


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Hari sudah malam, tapi Davina masih terlelap dengan nyaman di tempat tidur yang berukuran king size milik Deva, bahkan wanita itu sampai melewatkan makan malamnya. Kini Aliya dan pelayan lainnya sudah selesai memindahkan barang-barang milik Davina ke dalam kamar Deva.


Suara gemericik air terdengar di indera pendengaran milik Davina, membuat wanita itu terusik sambil mengerjapkan matanya berulang kali. Davina terbangun sambil mengamati ruangan yang begitu asing dalam pandangannya.


Apa Deva menjualnya pada mucikari, begitu pikir Davina yang mengira itu kamar sebuah hotel mewah.


Hingga suara pintu terbuka dari arah kamar mandi, membuat Davina langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut sambil refleks terduduk.


Davina membulatkan matanya sempurna, karena kagum saat melihat sosok pria yang muncul dari balik pintu tersebut, membuat ia menganga sampai lupa mengedipkan matanya.


“Air liur mu menetes,” ucap sosok pria yang tak lain adalah Deva, yang membuat lamunan Davina buyar seketika sambil mengusap sudut bibirnya dengan cepat.


Deva terkekeh saat melihat tingkah istrinya yang begitu menggemaskan. Entahlah, kini Davina terlihat lebih menarik di matanya.

__ADS_1


“Apa kau sengaja mempermainkan aku,” ucap Davina kesal sambil mengerucutkan bibirnya dengan imut.


“Aku hanya tidak ingin air liur mu itu terjatuh di selimut ku,” jawab Deva yang kini sudah menghampiri Davina. Wanita itu merasa sesak saat tubuh kekar nan polos milik Deva tepat ada di depan matanya.


“Ap-apa, jadi ini kamar mu?” tanya Davina tak percaya.


“Lalu kau mengira ini di mana, hum? Jangan katakan kau mengira aku menjual mu pada mucikari. Kalau pun aku ingin menjual mu pada mucikari, maka akulah mucikari itu, apa kau mau ke Cassino milikku?” tanya Deva yang di jawab gelengan kepala dengan cepat, membuat Deva selalu gemas dengan tingkah Davina.


Satu kecupan mendarat di puncak kepala Davina, membuat wanita itu semakin mencium aroma yang wangi semerbak dari tubuh suaminya.


“Pakailah pakaian mu dulu,” ucap Davina sambil mendongakkan kepalanya melihat wajah tampan milik Deva.


Deva yang melihat wajah istrinya yang sudah memerah, hanya menunjukkan sikap acuh tak acuh, bahkan pria itu dengan santainya telanjang bulat di hadapan Davina.


Tak butuh waktu lama, akhirnya Deva selesai dengan urusannya. Deva menekan tombol di atas nakas yang ada di samping Davina, hingga tak berapa lama, datang para pelayan dengan membawa makan malam milik istrinya.


“Makanlah, aku tahu kau sangat lapar,” ucap Deva dengan nada perintah.

__ADS_1


“Memangnya kau mau ke mana?” tanya Davina saat melihat Deva ingin keluar dari kamar tersebut.


“Aku akan ke ruangan pribadi ku,” jawab Deva datar.


“Tapi aku tidak ingin sendiri,” ucap Davina sambil memasang wajahnya yang memelas. Deva menarik napasnya panjang, kemudian berbalik arah menuju tempat tidur istrinya.


“Kenapa?” tanya Deva sambil duduk tepat di hadapan Davina, tapi wanita itu hanya menunduk takut jika Deva akan marah.


“Katakan,” ucap Deva dengan nada perintah yang tak kunjung mendapat jawaban juga.


Deva mengambil piring yang berisi makanan tersebut dan ingin menyuapi istrinya. Deva benar-benar harus diuji kesabarannya dengan tingkah Davina.


“Buka mulut mu, aku akan menemani dan menyuapi dirimu,” ucap Deva sambil menyodorkan sendok yang berisi makan ke arah mulut Davina.


Wanita itu melihat isi sendok tidak terisi penuh seperti sebelumnya. Akhirnya Davina memakan makanan tersebut dengan lahap.


...****************...

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2