
Selamat membaca ...
...****************...
Hari ini Davina akan keluar dari Mansion milik Deva untuk membeli perlengkapan bayi sebelum persalinan. Davina yang kini sudah bisa keluar tanpa Deva. Ia bisa merasa sedikit tenang dan merasa bebas.
Deva pun sudah sedikit memberi kebebasan untuk sang istri di masa kehamilan Davina saat ini. Bahkan, hari ini Deva dengan senang hati mengizinkan sang istri untuk keluar berbelanja seorang diri.
“Apa aku perlu meminta pengawal untuk ikut bersama mu?” tanya Deva sambil memasang dasinya.
“Apa kau masih meragukan aku?” Davina balik bertanya dengan tatapan penuh selidik yang ia layangkan untuk suaminya, membuat pria itu terkekeh sambil menghampiri istrinya yang sedang berdandan.
“Aku tidak akan meragukan mu lagi, tapi aku hanya ingin menjaga keselamatan mu dan juga anak kita,” jawab Deva yang kini sudah membungkuk untuk memeluk Davina dari arah belakang dan menelusupkan wajahnya di ceruk leher sang istri.
“Sudah, ayo cepat lepaskan dekapan mu ini, Dev. Kau harus segera berangkat ke kantor, aku juga harus segera belanja,” ucap Davina dengan nada mengusir.
“Aku sudah tidak sabar menunggu kehadiran baby boy kita, aku sangat merindukan kehadirannya, apa dia akan setampan diriku,” gumam Deva sambil memabayangkan kehadiran sang baby dengan memasang wajah cerah ceria, secerah sinar mentari pagi hari ini.
__ADS_1
“Aku rasa mirip dengan diriku,” ucap Davina dengan tiba-tiba membuyarkan lamunan Deva.
“Aku akan sangat senang jika memang benar adanya,” ucap Deva sambil mengecup singkat kening sang istri.
“Kenapa? Apa kau mulai menyukai ku?” tanya Davina berniat menggoda pria yang beberapa bulan terakhir ini sangat perhatian dan memberikan kasih sayangnya, tapi tidak pernah mengungkapkan isi hatinya.
“Apa wanita selalu butuh pengakuan daripada perlakuan?” bukannya menjawab, Deva malah balik bertanya pada wanita cantik itu.
“Wanita sudah pasti sangat menyukai bukti berbentuk perlakuan dan sikap dari pasangannya, tapi pengakuan adalah bagian dari perlakuan juga, karena wanita itu selalu haus akan pengakuan cinta,” jawab Davina santai.
“Aku akan menjawabnya setelah aku membereskan masalah ku,” ucap Deva sambil mengelus puncak kepala sang istri.
“Sore nanti,” jawab Deva santai.
...----------------...
Tak butuh waktu lama, akhirnya Deva maupun Davina sudah berada di luar Mansion untuk menjalankan aktivitas mereka. Kini Deva sudah ada di kantor perusahaan miliknya, sambil terus mengerjakan pekerjaan yang sudah melambai-lambai ingin di sentuh.
__ADS_1
Namun, pada saat Deva tengah sibuk, terdengar suara ketukan dari arah luar, tanda ada seseorang yang ingin masuk ke dalam sana. Deva yang mendengar hal itu langsung meminta orang yang ada di luar ruangan tersebut untuk masuk ke ruangannya.
Pintu terbuka lebar hingga menampilkan dua sosok pria yang ia berikan tugas untuk menggali informasi seseorang. Galen dan Max memasuki ruangan tersebut dengan cepat setelah mendengar titah dari sang bos.
“Selamat pagi bos,” sapa Galen dan Max bersamaan.
“Hmm, katakan,” ucap Deva dengan nada perintah.
“Saya sudah menemukan bukti yang anda minta,” ucap Max dengan tegas.
“Benarkah? Ck! Aku jadi penasaran seperti apa wujud asli pria itu,” gumam Deva sambil menampilkan senyum mengejeknya.
“Akan saya pastikan anda terkejut dan menyayangi jantung anda bos,” ucap Galen menanggapi.
“Memangnya ada apa dengan riwayat hidup pria brengsekk itu?” tanya Deva dengan penasaran.
...****************...
__ADS_1
Terima kasih.