Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Apa rasanya sakit?


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Beberapa kali, Deva menciumi tangan istrinya, tapi tak kunjung juga tersadar, membuat pria itu terlelap seketika. Namun, pada saat Deva tengah tidur, Davina mengerjapkan matanya sambil mengeluarkan suara lenguhan tanda ia tersadar dari pingsannya.


Deva yang baru saja terlelap, langsung terbangun saat mendengar suara istrinya yang sadarkan diri. Deva langsung bangkit dan menatap wajah wanita itu. Deva juga memanggil seorang dokter agar memeriksa kondisi tubuh istrinya.


“Dok, bagaimana hasilnya?” tanya Deva dengan rasa penuh kekhawatiran.


“Kondisi istri anda cukup baik setelah diberi cairan, tapi kondisi kakinya belum bisa digunakan untuk sementara waktu. Untuk satu minggu ke depan, istri anda harus menggunakan kursi roda,” ucap sang dokter memberi informasi.


“Apa setelah satu minggu itu istri saya sudah bisa berjalan seperti semula dok?” tanya Deva penasaran.


“Kami tidak bisa memprediksi kesembuhan total tuan, tapi asal istri anda melakukan pemulihan mandiri, seperti belajar jalan dengan ditemani orang di sekitarnya,” jawab dokter tersebut.

__ADS_1


“Baik dok, lalu kapan istri saya bisa pulang, saya juga ingin menanyakan kondisi bayi yang ada dalam kandungannya?” tanya Deva penasaran, karena ia sudah tidak tahan berada di rumah sakit.


“Besok sore istri anda boleh dibawa pulang, tapi perban yang ada di kaki istri anda harus sering di ganti dan di bersihkan. Anda bisa memproses surat kepulangannya di bagian administrasi. Bayi yang ada dalam kandungan istri anda cukup kuat, sehingga tidak menimbulkan efek yang berlebih, hanya saja sekarang sedikit melemah karena tadi kekurangan cairan,” jawab dokter tersebut.


“Baik dok, terima kasih,” ucap Deva dengan ramah.


Setelah melakukan pemeriksaan untuk Davina, akhirnya sang dokter segera keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan sepasang suami istri saja di dalam sana.


Deva melirik ke arah wanita yang sedang terbaring lemah di pembaringan dekat dengan dirinya, wanita itu hanya diam tanpa mau melihat ke arah dirinya sama sekali, membuat ia merasa di abaikan begitu saja oleh Davina.


“Apa kau lapar?” tanya Deva dengan lembut, sekaligus ingin mencairkan suasana canggung di dalam sana.


“Aku minta maaf,” ucap Deva dengan nada pasrah, baru kali ini ia mengucapan kalimat sakral, yang tidak pernah ia ucapkan sebelumnya pada sang tawanan.


“Sejak kapan kau mau minta maaf?” bukannya menjawab, Davina malah balik bertanya dengan dengan dingin dan hanya menampilkan wajahnya yang datar.

__ADS_1


“Sekarang, sekarang aku mau meminta maaf atas perbuatan ku tadi, aku hany--,” ucap Deva yang ingin menjelaskan maksud dirinya melakukan hal itu, tapi langsung terputus.


“Hanya ingin menjerat ku jauh lebih dalam lagi pada jurang kematian yang telah kau siapkan. Bukankah aku benar,” ucap Davina sarkas, sambil menampilkan senyum mengejeknya.


“Cukup Davina, sebaiknya kau makan dulu dan segera istrirahat lagi,” ucap Deva yang tidak ingin mendengar hal apapun dari mulut Davina.


“Kenapa, kau tidak suka. Apa yang aku ucapkan itu adalah sebuah kebenaran, jadi kau tidak perlu merasa sungkan mengatakannya padaku,” ucap Davina dengan nada kesal dan tatapannya yang sinis membuat Deva lagi dan lagi harus menghela napasnya kasar.


“Davina, jangan seperti itu, kau harus segera makan dan istirahat demi bayi kita,” ucap Deva yang lagi-lagi peduli karena anak.


Plakk! Plakk!


Davina menampar kedua pipi Deva karena pria itu tengah membungkuk ke arah dirinya. Deva yang merasa kedua pipinya terasa panas karena tamparan sang istri hanya meringin kesakitan.


“Apa rasanya sakit?” tanya Davina dengan santai.

__ADS_1


...****************...


Terima kasih.


__ADS_2