
Selamat membaca ...
...****************...
Waktu telah berlalu dengan cepat, hingga hari ini keadaan Davina sudah membaik dan sudah diizinkan untuk pulang. Deva maupun Davina sangat bahagia mendengar hal itu, karena Davina sudah bosan dengan suasana rumah sakit dan bau obat yang ada di sana.
Deva yang sudah sangat senang karena keluarga kecilnya akan segera berkumpul di Mansion megah nan mewah miliknya. Deva sudah tidak sabar ingin mendengar suara bising dari anak-anaknya kelak untuk mengisi kekosongan bangunan megah itu.
Tak ingin membuang banyak waktu, kini Davina sudah ada di dalam sebuah mobil milik Deva sambil menggendong putranya, dengan Deva di sampingnya dan di sopiri oleh Galen.
“Nona, selamat atas kehadiran putra pertama anda,” ucap Galen datar dari arah depan.
“Hm,” jawab Davina singkat dan tak menghiraukan apapun lagi.
Deva yang mendengar hal itu ikut merasa canggung, sekarang semua tindakannya terasa kaku dan terasa sangat canggung terhadap sang istri, seolah apa yang ia lakukan semua salah di mata Davina, membuat Deva merasa tersiksa dengan keadaan saat ini.
“Galen, cepat jalan,” ucap Deva dengan nada perintah, ia tidak ingin suasana dingin seperti ini berlanjut lebih lama lagi.
“Apa putra kita sedang tertidur?” tanya Deva basa basi sambil mengelus pipi mungil sang baby.
__ADS_1
“Memangnya kau tidak melihat jika putraku sedang tidur, memang apa yang bisa bayi sekecil ini lakukan,” ucap Davina sarkas, membuat Deva menghela napasnya panjang sebelum ia kembali tersenyum saat menghadapi sikap sang istri.
“Aku tahu, boleh kah aku menggendong baby kita?” tanya Deva dengan ragu, karena ia merasa Davina sangat sensitif.
“Hmm, silakan. Ini,” jawab Davina sambil memberikan baby yang ada dalam gendongannya ke arah Deva.
Deva yang sudah merasa sangat senang karena diberikan izin untuk menggendong putranya, langsung menggendong baby boy miliknya dengan sangat perlahan dan hati-hati.
“Hati-hati,” ucap Davina sambil membenarkan posisi sang putra di dalam gendongan suaminya.
“Aku akan hati-hati,” ucap Deva menanggapi ucapan Davina.
“Kita bisa bicarakan hal ini saat di rumah nanti, putra kita sedang ada diantara kita,” ucap Deva datar lalu kembali menatap wajah baby boy itu dengan senyuman terbaiknya seorang ayah untuk putranya.
“Hm, semoga kau tidak mengingkari ucapan mu sendiri,” ucap Davina datar cenderung ketus, tapi Deva tak menghiraukan sikap Davina yang sudah biasa akhir-akhir ini.
“Vin, lihatlah putra kita, dia sangat tampan bukan, dia tampan sejak dini,” ucap Deva sambil menunjukkannya pada Davina dengan sangat antusias.
“Aku tahu jika putraku sangat tampan,” ucap Davina sambil melirik ke arah putranya.
__ADS_1
“Benar. Galen, apa menurut mu putraku sangat tampan?” tanya Deva dengan sangat antusias tanpa mengalihkan penglihatannya dari sang putra.
“Saya belum melihatnya bos, tapi saya yakin, jika keturunan anda pasti akan sangat tampan,” jawab Galen jujur, karena ia belum melihat calon bos kecilnya itu secara jelas dan hanya sekilas saja.
“Apa kau secara tidak langsung sedang memuji ketampanan ku ini Gal?” tanya Deva sambil terkekeh.
“Tidak bos,” jawab Galen datar tanpa merasa berdosa sedikit pun.
Deva yang mendengar jawaban dari Galen hanya diam dalam rasa kesalnya, seharusnya sang asistennya itu mau diajak kompromi sedikit, karena ia sedang mencari perhatian dari sang istri.
“Vin, kau tidurlah, nanti aku bangunkan setelah sampai ke Mansion, kau jangan khawatir, aku akan menjaga baby boy kita,” ucap Deva dengan nada perintah, yang langsung dilaksanakan oleh Davina.
Davina memejamkan matanya sambil menunggu sampai ke Mansion milik Deva.
...****************...
Hot Daddy
__ADS_1