Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Pria asing


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Seorang wanita baru saja terusik dari tidurnya, wanita itu mengerjapkan beberapa kali matanya, hingga ia merasakan samping tempat tidurnya kosong. Davina melihat ke arah samping dan benar saja, suaminya sudah tidak ada di tempat tidur.


Davina mendudukan tubuhnya dengan perlahan, karena merasa pegal-pegal setelah memadu kasih dengan suaminya. Apa Deva sudah berangkat ke kantor, kenapa harus sepagi ini, begitu pikir Davina.


Pada saat yang sama, muncul seorang wanita yang tak lain adalah Aliya, wanita itu langsung menunduk saat melihat Davina sudah terbangun dari tidurnya.


“Nona sudah bangun, kalau begitu saya permisi. Saya akan menyiapkan sarapan untuk Nona,” ucap Aliya yang ingin segera bergegas pergi dari kamar tersebut. Namun, suara Davina langsung menghentikan langkah kakinya dengan tiba-tiba.


“Aliya, kemana suamiku?” tanya Davina sambil menatap Aliya dengan penuh selidik.


“Tuan Deva berangkat ke kantor nona, katanya ada meeting penting dengan beberapa kliennya,” jawab Aliya jujur.


“Lalu kenapa dia tidak memberitahuku?” tanya Davina lagi.


“Karena nona masih tertidur, mungkin tuan Deva tidak ingin membangunkan nona,” jawab Aliya seadanya.

__ADS_1


“Aliya, kau bawakan saja sarapan ku, aku sedang ingin di kamar saja hari ini,” pinta Davina yang memang sedang ingin bermalas-malasan.


“Baik nona, kalau begitu saya akan segera menyiapkannya,” ucap Aliya yang langsung bergegas meninggalkan kamar tersebut.


Setelah kepergian Aliya, Davina langsung bangkit dari tempat tidurnya dan segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri. Hingga beberapa menit kemudian, Davina keluar dengan pakaian yang sudah rapih.


Davina melangkahkan kakinya menuju sofa panjang yang berukuran besar yang ada di kamar itu, dan langsung mendudukan tubuhnya di atas sofa tersebut. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka, menampilkan beberapa pelayan yang membawakan sarapan untuk Davina.


“Nona, apa masih ada kurang?” tanya Aliya yang ada diantara para pelayan tersebut.


Davina terkejut saat melihat beberapa pelayan tersebut membawakan sarapan yang banyak dengan berbagai macam makanan, melihatnya saja, membuat Davina merasa kenyang duluan.


“Saya hanya menjalankan perintah dari tuan Deva, nona,” jawab Aliya datar.


“Deva? Apa dia meminta mu membawakan semua makanan di atas meja ke kamar ku?” tanya Davina kesal.


“Benar, tuan Deva meminta agar nona makan yang banyak,” jawab Aliya dengan datar lagi.


“Haiss, kenapa kau bisa sepatuh ini. Aku akan makan itu, itu, dan itu saja, eh buah juga. Selebihnya kalian bawa lagi,” ucap Davina sambil menunjuk dengan nada perintah dan meminta para pelayan lain keluar terlebih dahulu.

__ADS_1


“Aliya, kau di sini saja, temani aku makan,” pinta Davina memasang raut wajah yang memelas.


“Tap--.”


“Jangan membantah, atau aku akan mengadu pada suamiku,” ancam Davina kesal, membuat wanita itu mau tak mau harus patuh.


...----------------...


Di sisi lain, seorang pria yang tengah melihat sebuah laporan dari bawahannya, yang tak lain adalah Deva.


“Apa kau bisa mempertanggung jawabkan semua informasi yang kau dapatkan, Max?” tanya Deva penuh selidik.


“Saya sangat yakin bos, pria itu adalah pria asing, dia bukan warga asli negara ini, dia juga sudah cukup lama tinggal di sini, mungkin sekitar enam bulan yang lalu,” jawab Max dengan tegas.


“Dia tidak mempunyai perusahaan di negara ini, dan juga pekerjaannya masih misterius. Max, kau cari informasi keuangannya, aku sangat yakin dia juga punya jiwa dunia bawah,” ucap Deva sangat yakin dengan apa yang ada dalam pikirannya.


...****************...


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2