Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Bertahan


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Davina terdiam sejenak saat mendengar pertanyaan dari Deva. Wanita itu menatap wajah Deva dengan intens, wajahnya yang biasa tegas dan menakutkan, kini terlihat pucat dan lemah, tak dapat ia pungkiri, ada sebuah ketulusan yang terpancar dari sorot mata pria tersebut.


Davina teringat kembali ucapan Galen mengenai kehidupan putranya yang tidak bersalah sedikit pun. Ia tersenyum sambil menatap wajah Deva, mungkin ia memang harus berkorban lagi demi sang buah hati.


Ia berharap, semoga ke depannya ia juga bisa mengikhlaskan semua yang telah terjadi, meskipun semuanya terasa berat. Berharap seiring berjalannya waktu, ia bisa memaafkan semua kesalahan suaminya di masa lalu, terhadap keluarga dan seluruh kehidupannya.


“Vina, apa kau akan tetap meninggalkan dan menceraikan aku. Apa kau akan menjauhkan aku dengan baby boy kita?” tanya Deva lagi dengan lelehan bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


“Kau jangan terlalu banyak bertanya, habiskan dulu makanan mu,” ucap Davina yang kembali menyendokkan bubur tersebut, tapi Deva menolak untuk makan kembali dan menundukkan kepalanya.


Deva teringat ucapan Arsen, seorang pria yang telah ia bunuh dengan tangannya sendiri. pria itu mengatakan jika hidupnya akan jauh lebih menyakitkan daripada sebuah kematian, dan Deva baru menyadarinya, jika ucapan Arsen benar adanya.


Deva merasa kematian jauh lebih baik daripada hidupnya saat ini. Ia sudah tidak punya nyali untuk menatap wajah cantik istrinya, karena sebuah penyesalan yang teramat besar dan tidak bisa ia tebus sama sekali.


“Kamu kenapa? Ayo makan lagi,” ucap Davina sambil mengangkat wajah Deva agar menatap dirinya, tapi tetap saja, mata Deva hanya menatap ke arah bawah dan tidak mau menatapnya.

__ADS_1


“Dev, lihat aku,” ucap Davina dengan lembut. Deva mulai menatap Davina secara perlahan dengan mata yang berkaca-kaca.


“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Davina saat Deva menatap wajahnya.


“Apa aku masih pantas untuk hidup?” tanya Deva dengan tiba-tiba. Ia merasa hidupnya sudah tidak berguna dan tidak ada tujuan hidup. Semuanya terasa hampa tanpa orang-orang yang ia sayangi.


“Apa yang kau tanyakan? Kau tidak boleh bicara sembarangan lagi atau aku akan benar-benar pergi dari hidup mu,” ancam Davina sambil menatap tajam ke arah Deva, bagai memarahi seorang anak kecil.


“Jangan, Vina. Aku mohon jangan pergi,” cegah Deva dengan cepat sambil menggenggam tangan Davina.


“Aku tidak akan pernah pergi dari sisi mu, asal kau mau berubah dan mau membuktikannya padaku. Aku akan bertahan demi baby kita, tapi jika kau berulah kembali, aku akan pergi darimu,” ucap Davina lirih sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


“Kau jangan senang dulu, aku belum memaafkan apalagi melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu,” ucap Davina tegas, yang mana hal itu membuat Deva kembali terdiam dan menundukkan kepalanya.


“Maafkan kelancangan ku,” ucap Deva tak enak hati dan merasa tak pantas jika menyentuh wanita cantik itu.


“Makan lah, setelah ini kau harus minum obat,” ucap Davina sambil meyuapkan bubur tersebut ke dalam mulut Deva.


Hingga tak terasa, makanan yang dipegang oleh Davina, kini habis tak tersisa. Davina merawat Deva dengan cekatan dan penuh perhatian, dan kini sudah bersiap untuk istirahat kembali setelah meminum obatnya.

__ADS_1


“Vin, apa baby boy sudah tidur?” tanya Deva lirih.


“Sudah, baby sedang bersama Aliya, kenapa?” tanya Davina balik.


“Aku merindukannya,” jawab Deva sambil tersenyum.


“Kau akan bertemu dengannya setelah sembuh, jadi cepat pulih dan bermain dengan putramu,” ucap Davina yang membuat hati Deva berbunga-bunga.


...****************...


Ada yang nanya, Min kenapa selalu foto Daddy yang muncul, sekali-kali foto Mommy.


Ini Mimin baru bujuk Mommy, biar bisa menemui kalian.


Love Mommy Derry ...



__ADS_1



__ADS_2