
Selamat membaca ...
...****************...
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya Deva sudah sampai di Mansion megahnya. Davina yang sudah turun dan menunggu baby boy dari gendongan Deva, karena ia berencana untuk membawa putranya ke kamarnya yang pertama.
“Deva, berikan baby padaku,” pinta Davina sambil mengulurkan tangannya untuk menerima sang putra.
“Biar aku saja yang menggendongnya, kau jangan sampai kelelahan,” ucap Deva tanpa mempedulikan keinginan Davina, karena itu demi kebaikan istrinya.
“Dev, aku ingin kita pisah kamar lagi sama seperti dulu,” ucap Davina secara tiba-tiba, membuat Deva menghentikan langkah kakinya seketika dan menghela napasnya panjang.
“Kita bicarakan di dalam,” ucap Deva menanggapi Davina dan terus melangkahkan kakinya ke dalam Mansion tersebut.
“Selamat datang Nona besar, tuan besar, tuan muda,” sapa Aliya yang sudah merubah nama panggilan untuk tuannya, karena sang tuan sudah mempunyai seorang putra.
“Hm, Aliya, kau ikut kami ke kamar atas,” ucap Deva dengan nada perintah dan segera diikuti oleh wanita tersebut.
...----------------...
Tak butuh waktu lama, akhirnya Deva, Davina maupun Aliya sudah ada di kamar atas milik Davina dulu. Deva meletakan putranya di atas tempat tidur yang berukuran king size tersebut.
“Aliya, jaga putra ku dulu, jika ada apa-apa kabari kami di kamar sebelah,” ucap Deva memberikan instruksi pada Aliya.
“Baik tuan, saya akan menjaga tuan muda dengan sangat baik,” ucap Aliya patuh.
__ADS_1
Setelah memberikan perintah pada Aliya, Deva langsung membawa Davina masuk ke dalam kamar miliknya. Davina yang mau tidak mau, akhirnya tetap mengikuti ke manapun Deva membawanya.
...----------------...
Brak!
Deva menutup pintu kamarnya dan segera menguncinya agar Davina tidak mudah untuk keluar dan melarikan diri.
“Deva apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengunci pintu kamarnya?” tanya Davina sambil menatap tajam ke arah Deva.
“Vina, tenangkan dirimu, aku hanya ingin bicara santai dengan mu. Aku mohon kendalikan emosi mu untuk saat ini,” ucap Deva memohon dengan menampilkan wajah memelas, pria itu membawa Davina untuk duduk di bibir tempat tidur besar tersebut.
“Memang selama ini aku kurang apa lagi huh! Apa aku pernah menyakiti dirimu selama ini? Apa aku selalu membantah keinginan mu selama ini? Apa aku pernah menyakiti hatimu. Katakan di mana letak alasan agar sekarang aku bisa diam,” cecar Davina sarkas sambil menatap wajah Deva dengan tatapan tak habis pikirnya.
“Vina, aku mohon jangan seperti ini, hatiku sakit melihat mu seperti ini, aku mohon,” ucap Deva memelas.
“Vina, ayo kita bicarakan baik-baik tentang keinginan mu yang ingin bercerai dariku. Sekali lagi aku mohon, tolong jangan pergi dari hidup ku. Bagaimana dengan putra kita, aku tidak ingin berpisah dengan putra ku, aku sangat mencintai kalian berdua,” ucap Deva yang sudah mulai berkaca-kaca.
“Meskipun kau menangis darah di hadapan ku, aku tidak akan pernah bisa menerima dirimu, dan aku tidak akan mengubah keputusan apapun yang aku buat,” ucap Davina sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Vina, aku mohon pikirkan putra kita juga, dia masih sangat kecil untuk kehilangan kasih sayang orang tua yang utuh. dia tidak bersalah maupun berdosa, ini semua kesalahan ku, tolong jangan sakiti perasaannya. Jika kau mau membalas ku, tolong cukup balaskan padaku saja, jangan pada putra kita,” pinta Deva yang kini sudah terisak.
“Suatu saat dia akan mengerti, mengapa ibunya bisa melakukan hal ini pada dirinya, akankah dia membenci diriku setelah tahu alasan dibalik semuanya, atau dia akan membenci mu karena semua perbuatan mu padaku dan juga pada keluarga ku. Ck! Hatiku tidak seluas samudera untuk memaafkan semua kesalahan mu,” ucap Davina yang tetap kekeh pada pendiriannya.
Mendengar ucapan sang istri yang tetap ingin berpisah dengan dirinya, membuat Deva tak bisa lagi berkata-kata untuk meyakinkan Davina, hingga Deva akhirnya ambruk di bawah kaki Davina sambil menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
Namun, Davina langsung mengalihkan kakinya dengan menggeser ke sebelah agar Deva tidak sujud di kakinya. Bagaimana pun Deva, tetap saja pria itu adalah suaminya, ia tidak ingin Deva melakukan itu meskipun hal itu adalah keinginannya dulu.
Dulu Davina memang ingin Deva bertekuk lutut di hadapannya, tapi tidak untuk sekarang, bagaimana pun pria itu adalah ayah dari anaknya, ia tidak ingin menjatuhkan harga diri seorang ayah pada diri Deva.
“Davina, maafkan aku, aku mohon,” ucap Deva sambil terisak dengan menarik kaki Davina agar ia bisa mencium kaki istrinya itu.
“Deva bangun, aku tidak butuh permintaan maaf seperti ini, tolong jangan membuat ku mendapat pandangan buruk karena membiarkan suaminya sujud di kaki ku,” ucap Davina sambil berusaha membangunkan tubuh Deva.
“Vina, harus dengan apa agar kau bisa memaafkan aku, aku mohon beritahu aku agar aku bisa melakukan apa yang kau inginkan,” pinta Deva sambil menatap Davina penuh harap.
“Deva, keputusan ku sudah bulat, aku tidak bisa hidup bersama dengan mu, dan untuk maaf itu, aku harap aku bisa memaafkan dirimu seiring berjalannya waktu. Aku mohon ceraikan aku, karena berapa pun usaha mu untuk meyakinkan aku, tetap saja tidak akan merubah segalanya,” ucap Davina datar.
“Tidak Vin, tolong jangan katakan ingin cerai lagi, aku mohon. Aku akan melakukan apapun agar kau tidak pergi meninggalkan aku, kau tidak perlu memaafkan aku, tapi aku mohon, tolong jangan tinggalkan aku,” pinta Deva yang kini sudah memeluk erat tubuh Davina, sambil menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Davina.
“Deva, lepaskan aku. Aku mohon lepaskan aku, aku tidak ingin hidup bersama mu,aku mohon mengertilah,” ucap Davina yang tak peduli dengan keadaan Deva yang sudah sangat kacau.
Namun, tidak ada jawaban apapun dari suaminya, dan entah kenapa tubuh Deva semakin berat karena bertumpu pada Davina. Merasakan ada hal yang aneh, akhirnya Davina mendorong tubuh kekar milik Deva hingga terjatuh di atas tempat tidur tersebut.
Betapa terkejutnya Davina, saat tahu suaminya sudah tak sadarkan diri dengan wajah yang pucat.
“Dev, Deva! Bangun Dev! Kamu jangan menakuti aku Dev, bangun!” ucap Davina panik sambil menepuk-nepuk pipi dan menggoyangkan tubuh Deva dengan kasar, tapi tetap saja tidak ada perubahan sedikit pun, Deva masih saja tak kunjung membuka matanya karena masih tak sadarkan diri.
Melihat keadaan suaminya yang tiba-tiba pingsan, membuat Davina panik seketika hingga membuatnya tak berpikir apapun. Setelah beberapa saat, akhirnya Davina menghubungi asisten sang suami, karena hanya pria itu yang bisa mengerti dengan keadaan suaminya.
“Galen, cepat ke kamar suamiku, dia tiba-tiba pingsan,” ucap Davina dengan nada perintah pada sosok pria yang ada di sebrang sana. Setelah mengatakan hal itu, Davina langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
__ADS_1
...****************...