
Garrett dan Aliza ke salah satu hotel terdekat dari rumah sakit, keduanya memadu kasih setelah sekian lama berpisah, sentuhan rindu yang tertunda, telah tuntas untuk sementara waktu, meluapkan isi hati yang terpisah oleh dimensi waktu, mengucapkan janji-janji yang akan keduanya pegang teguh.
Keesokan paginya, suara bisikan dari Canai telah memperingatkan Garret, kesempatan hanya beberapa jam lagi untuk dia kembali ke Canai. Namun Garret belum juga mendengar keputusan dari Aliza, semua ngambang karena dilema istrinya yang belum menemukan jawaban. Garrett sadar, pilihan itu tidak akan diputuskan oleh Aliza, semua pilihan akan menyakiti istrinya, dia merasa harus mengerti dan bertindak seorang diri. Menanggungnya pula seorang diri.
"Aku beli makan dulu, kamu tunggu disini ya," ucap Aliza.
"Tunggu dulu, aku boleh cium kamu lagi? Aku masih kangen," kata Garret mencegat Aliza.
Aliza terenyuh, dia memeluk suaminya, "Kan waktunya sampai sore, kita bisa melihat kondisi itu nanti," ujarnya.
Garret hanya manggut-manggut di pelukan Aliza, walaupun sebenarnya dia sudah memiliki rencana berbeda. Aliza keluar sementara dari hotel untuk membeli makanan. Garret diminta untuk menunggu.
"Jangan kemana-mana," ucapnya.
"Aku hanya tak terlihat lagi dari hadapan mu saat aku kembali ke Canai," sergah Garret.
Aliza senyum malu-malu, dia tahu suaminya itu sangat mencintainya, pria satu-satunya yang menyayanginya secara tulus. Aliza turun ke bawah, dia menuju ke restoran terdekat. Cukup lama ia menunggu, makanan yang ia pesan pun telah selesai. Setelah itu ia kembali ke hotel.
"Sayang," ucapnya. Namun pintu kamar hotelnya tak di kunci oleh Garret.
Aliza masuk saja sembari memanggil nama Garret. Tak ada Garret di atas sofa ataupun di ranjang, sementara TV masih menyala. Dia memeriksa kamar mandi, tak ada penampakan suaminya di sana. Aliza terdiam sejenak, dia mengingat kalimat Garret terakhir, "Aku hanya tak terlihat lagi dari hadapan mu saat aku kembali ke Canai." Tubuh Aliza lunglai, makanan yang di pegangnya terjatuh ke lantai.
"Kau pergi, Garret .." ucapnya yang sudah berderai air mata.
Aliza melihat barang-barang Garret masih ada di atas meja. Dia membawa semua itu lalu keluar dari hotel. Dengan taksi, Aliza menuju ke rumah Pak Maman. Setiba di sana, terlihat Pak Maman dan istrinya menangis bersedih di teras. Aliza bergegas keluar dari taksi menghampiri mereka.
"Pak Maman lihat suami saya?" tanyanya.
Pak Maman hanya tertunduk, tak menjawab pertanyaan Aliza, sementara istri Pak Maman juga diam saja. Di meja ada sekotak emas dan berlian.
__ADS_1
"Suami saya mana Pak Maman?" tanya Aliza lagi.
"Dia sudah kembali ke tempatnya, dia tidak akan kembali lagi ke dunia ini," sahut Pak Maman bersedih.
Dia baru mengenali Garret, namun kepergian Garret bak kehilangan seorang anak. Pak Maman begitu tersentuh dengan ketulusan Garret padanya.
Aliza tersungkur di lantai, suara tangisannya tertahan karena sesal yang tertumpuk, dia merasa terlalu bodoh untuk mengambil keputusan. Suami dan anaknya dia korbankan. Istri Pak Maman memeluk Aliza memberikan kekuatan.Ada pesan Garret yang ingin ia sampaikan.
"Dia berpesan agar kamu menjadi anak yang berbakti, jangan pikirkan dia dan Dominic, mereka janji akan baik-baik saja, jalani hidup mu di dunia ini dengan kebahagiaan," tutur Istri Pak Maman.
"Garret dan Dominic.." Tangis Aliza makin pecah. Dia ingin menyusul Garret ke Canai, namun Pak Maman tiba-tiba mencegatnya.
"Non Aliza, jangan .. Garret bila jangan ke Desa Kunan lagi, di sana sudah sangat bahaya, pintu dimensi sudah tertutup, kamu hanya bakalan celaka jika ke sana," kata Pak Maman yang menyampaikan pesan Garret sebelum ke Canai.
Deg!
Pintu Dimensi sudah tertutup!
"Sebulan aku di berikan kesempatan, ini masih dua Minggu lagi, aku akan kembali ke sana" kata Aliza yakin.
Pak Maman dan Istrinya menatap sendu Aliza, keduanya sangat mengerti kondisi dilema Aliza yang tak dapat memilih, sangat sulit memilih antara keluarga kecilnya atau Ibunya yang sedang sakit.
"Katakan Garret hanya berbohong agar aku tetap menjaga ibuku 'kan, Pak?"
Pak Maman menggeleng, ratapan itu tetap membenarkan segala ucapan Garret.
"Garret yang memutuskan agar pintu dimensi di tutup untuk mu," jawab Istri Pak Maman.
Aliza seketika jatuh pingsan, dia terkejut karena keputusan Garret yang ingin berpisah selama-lamanya. Dia telah kehilangan suami dan anak, begitu saja. Semuanya hancur seolah semua kenangan indah hanya semu, tak pernah terjadi dalam hidupnya. Dia alam bawah sadarnya, Aliza tak henti memanggil nama Garret dan Dominic.
__ADS_1
***
Garret telah ada di Canai, pintu dimensi telah di tutup. Air matanya berlinang, air mata rindu, perpisahan, juga keikhlasan, merelakan pernikahannya terhenti demi kebaikan istri dan Ibu mertuanya. Pengorbanan yang dia lakukan sebagai bukti cintanya kepada Aliza, dia ingin menjadikan Aliza menjadi anak yang berbakti.
"Dominic sudah jarang menangis lagi, tampaknya dia sudah terbiasa," kata kepala pelayan istana Canai.
Garret mengambil alih menggendong Dominic, dia menciumi anaknya karena merasa bersalah.
"Maaf, Ayah tidak bisa membawa Ibu kembali bersama kita," bisiknya ditelinga Dominic. Air mata Dominic juga ikut berlinang, merasakan perpisahan antara Ibu dan Ayahnya.
Dari jauh Permaisuri dan Raja Canai melihat itu, daa rasa bersalah menggelayuti keduanya, mengizinkan Aliza untuk keluar dari Canai.
"Manusia memang tidak dapat di percaya!" Raja Canai mengumpat.
Garret kembali ke rumahnya, dia terkejut dengan kehadiran Trisia di teras. Wanita cantik itu melambaikan tangan menyapanya. Di tangan Trisia ada Paper bag berisikan makanan.
"Hai, akhirnya kamu kembali juga," ucap Trisia.
Garret mengerutkan alis, dia bingung mengapa Trisia tahu jadwal kedatangannya.
"Dari mana kau tahu?" tanyanya.
"Aku setiap hari kemari, tapi sepertinya tak ada orang, aku coba lagi menunggu hari ini, ternyata tebakan ku benar, kau kembali hari ini," jelas Trisia. Sesekali tangannya mengusap kepala Dominic.
Garret membuang pandangannya, melewati Trisja begitu saja, dia masuk ke rumah dengan Dominic tanpa beramah-tamah dengan tamunya itu. Trisia tak kapok, dia menyusul Garret masuk ke dalam rumah, meskipun dia tahu sikapnya akan membuat Garret kesal lagi.
"Siapa yang suruh kamu masuk?" tanya Garret.
Trisia menarik nafas, dia menunjuk ke raha Dominic," Dia yang menyuruhku masuk, jangan egois, kau butuh istirahat, biarkan aku menjaga Dominic untuk sementara waktu."
__ADS_1
Garret tetap saja tidak ingin, dia tahu maksud sikap Trisia ingin menarik perhatiannya, pikirannya sedang kacau tak ingin di ganggu siapapun, termasuk orang asing seperti Trisia.
"Ku mohon, pergilah dari rumahku." Garret berucap sembari menunjuk keluar pintu.