
Setelah Trisia melepas lilitan rantai itu, salah satu penjaga penjara bawah tanah masuk memeriksa Aliza, kepalanya terluka parah, darah tak henti menetes. Penjaga penjara murka kepada Trisia, mereka sangat ingin menghukum keponakan permaisuri itu.
"Kepalanya perlu ditangani dokter," kata prajurit itu.
"Kau lihat perbuatan mu? jangan mentang-mentang kau keponakan permaisuri, kau seenaknya berbuat seperti itu kepada tahanan wanita," ujar salah satu prajurit itu kepada Trisia.
Melihat kondisi Aliza yang parah, mereka berinisiatif membawa Aliza ke klinik tahanan.
"Bawa dia ke klinik tahanan, kau tetaplah disini! Kau sudah melampaui batas!"
Aliza di bawa menuju klinik,l tahanan, sedangkan Trisia di perintahkan untuk tetap didalam sel. Trisia memberontak pada prajurit yang di perintahkan menjaganya di luar sel.
"Setelah aku keluar dari sini, kau semuanya akan di hukum!" Trisia tetap mengancam. Dia tak gentar dengan berbagai hukuman yang di wanti-wanti oleh prajurit istana.
Trisia tak tahan tinggal di sel yang banyak tikus dan kecoa melintas, belum lagi hawa pengap di dalam sel bawah tanah, sejak kecil Trisia tumbuh segala kemewahan, bernafas di dalam sel bawah tanah membuatnya semakin tidak waras.
"Hei! Keluarkan aku dari sini! Kau orang yang pertama aku penggal jika aku keluar dari sini!" Trisia semakin tidak waras, wajah cantiknya sudah sudah menempel debu.
Prajurit itu malah tertawa mendengarnya lalu berkata,
" Hahahahh ..Setidaknya jika aku di penggal, aku berada di nan yang benar."
Trisia melemparkan gelas, dia mengamuk sejadi-jadinya. Ia berusaha berteriak-teriak agar suaranya terdengar oleh permaisuri, tingkahnya semakin konyol karena kondisi sel yang membuatnya hilang kewarasan.
Sementara Aliza dibawah ke klinik yang ada di dekat istana, Aliza ditaruh di atas brankar dorong pasien, ada banyak prajurit saat itu mengelilinginya karena berusaha mencegah darah Aliza merembes. Aliza terus menyebut nama Dominic, namun karena tak sanggup menahan sakitnya, Aliza tak sadarkan diri lagi.
Sementara Garret baru saja memarkirkan mobilnya, dia melihat jajaran prajurit sedang panik ke klinik tahanan. Dia yang terburu-buru ingin menemui Raja Canai mengabaikan kepanikan itu.
__ADS_1
"Kenapa akhir-akhir ini selalu ada keributan di tahanan?" gumam Garret terheran melihat prajurit panik menunju klinik.
Ketika hendak naik ke lift, Garret merasa ada dadanya sesak, seolah terjadi sesuatu yang buruk terhadap dirinya.
"Kenapa dada ku sesak seperti ini ..ada apa ini?" gumamnya mengusap dadanya. Jantungnya berdegup kencang.
Di dalam lift, Garret selalu di hantui kegelisahan, bayangan Aliza melintas di pelupuk matanya. Garret mengusap wajahnya dengan pelan, firasatnya mengatakan bahwa Aliza sedang tidak baik-baik saja saat ini.
"Kamu di mana Aliza, aku sedang berusaha mencari mu, aku akan memohon kepada Raja untuk keluar dari dimensi Canai sementara waktu," gumamnya.
Garret akan meminta pada Raja Canai untuk memberikannya izin ke Desa Kunan, Garret akan mengarahkan prajuritnya mencari keberadaan Aliza.
Brankar itu di masukkan ke ruang tindakan, salah satu dokter muda istana yang menanganinya, karena kecanggihan dunia medis di Canai, kepala Aliza dibersihkan dengan berbagai alat canggih. Sesaat dokter tampan itu memandang wajah Aliza, ia tertegun ternyata tahanan wanita itu ternyata manusia.
"Beda cara pemasangannya, dia bukan penghuni Canai, tapi manusia .. berikan obat dari kotak kuning," ujar dokter itu.
Darah merah mengering di rambut Aliza, untuk memudahkan penanganan medis, terpaksa perawat-perawat itu memotong rambut Aliza hingga sebahu. Dokter itu tersenyum kecil sembari menangani luka-luka Aliza, sebagai dokter yang di andalkan di istana, ia mengetahui gadis yang berasal dari manusia itu memiliki jiwa yang murni.
"Perempuan ini di daftar di golongan apa, Dok?" tanya perawat wanita itu.
"Karena jiwa dan tubuhnya sudah sepenuhnya jin, masukkan dia di golongan jin, agar dia mendapatkan penanganan obat semestinya id dapatkan seorang jin," tutur dokter itu.
Khael, nama dokter muda itu menaruh alat-alatnya, Aliza di tunggu untuk pemulihan. Namun Aliza harus tetap di awasi. Di dunia manusia, hanya kecil kemungkinan selamat bila kepala terkena benturan demikian, tetapi dokter Khael memiliki kecerdasan di atas rata-rata dokter metafisika pada umumnya, sehingga dokter Khael mengambil keputusan mengganti jiwa manusia Aliza menjadi jin.
"Dokte tau namanya? Kita perlu mendaftarkan dia di jajaran jin pasien baru dokter," tanya perawat.
Dokter Khael keluar menemui prajurit yang mengantar Aliza.
__ADS_1
"Nama pasien tadi siapa?" tanyanya.
Ketiga prajurit itu malah melirik satu sama lain, mereka juga tidak mengetahui nama tahanan wanitanya sebab penjaga gapura tidak memberikan daftar nama Aliza. Semua telah di atur secara apik oleh Trisia agar keberadaan Aliza di Canai tidak diketahui Garret.
"Kami tidak tahu, dok. Dia tahanan ilegal," sahut salah seorang prajurit itu.
Dokter Khael menghela nafas, dia sempat berpikir kesalahan apa yang diperbuat oleh pasiennya sehingga tak di masukkan di daftar tahanan.
"Baiklah, kalian boleh istirahat, dia sedang menunggu pemulihan, kami akan menjaganya," ujar dokter Khael.
Khael masuk kembali ke ruang ICU, dia menemui perawat itu. Melihat Aliza yang terbaring tak berdaya, dokter Khael berinisiatif membantu Aliza untuk sembuh. Kesembuhan Aliza keajaiban sebab jarang ada manusia dapat hdup6 setelah mengalami benturan keras, terlebih lagi di dimensi yang berbeda. Khael mengambil kesimpulan bahwa keinginan hidup pasiennya sungguh luar biasa.
"Namanya Miracle, tulis di daftar nama pasien ini bernama Miracle," ucap dokter Khael.
Memberikan nama Aliza sebagai Miracle, perempuan ajaib yang berhati murni. Tapi Khael tahu, pada saat ia mengobati seluruh luka Aliza, ia mengetahui bahwa pasiennya telah melahirkan, pasiennya bukan seorang gadis lagi melainkan perempuan yang telah menjadi Ibu.
Perawat itu keluar mendaftarkan nama Aliza menjadi Miracle, sedangkan Khael masih terdiam di samping Aliza, memandangi Aliza yang terbaring tak sadarkan diri.
"Untuk sementara namamu Miracle, kau adalah keajaiban," ucap dokter Khael. Melihat Aliza, Khael teringat Ibunya, dia adalah korban dari aturan Canai. Ibu dan Ayahnya terpaksa berpisah dimensi.
Khael pun mencurigai bahwa kesalahan yang dilakukan Aliza bisa saja karena melanggar aturan Canai.
"Mungkinkah kau korban dari aturan itu juga?" tanya dokter Khael.
Ia mengambil kapas lagi untuk mengusapkan obat di kening Aliza. Meskipun belum mengenali Aliza , Khael akan menjaga Aliza seperti adiknya sendiri sampai sembuh.
"Tenanglah, kau akan aman setelah berada di klinik ini," lirih Khael.
__ADS_1