
Garret mulai tinggal di istana, dia dan Dominic di sediakan kamar mewah yang seluas lima puluh meter dengan kecanggihan sistem teknologi. Tentu ada kehampaan sebab tak ada Aliza yang merasakan keberhasilannya, pencapaiannya, dan kemewahan itu. Garret memangil pengawal pribadinya ke kamar.
"Apa yang bisa saya bantu, Yang mulia?"
Garret yang berdiri di depan jendela sudah membulatkan keputusan, "Perintahkan kepada penjaga Gapura untuk tetap membuka pintu dimensi, dan biarkan para manusia masuk, bisa saja akan ada istriku yang ikut serta."
"Akan kami laksanakan, dan akan kami kerahkan beberapa prajurit keluar dari dimensi menuju Desa tersebut, kami akan senantiasa membantu Yang mulia Raja," ujar pengawal pribadi Garret.
Pengawal itu mengumumkan perintahnya kepada kepala penjaga Gapura, mereka yang menjaga pintu dimensi terkejut dengan perintah Raja baru.
"Apa-apaan Raja memerintahkan seperti itu, hanya masalah pribadi kita harus membuat dimensi yang dulunya tidak sembarangan," ketus kepala penjaga gapura. Itu hanya uneg-unegnya yang takut ia lontarkan secara langsung.
Pintu dimensi Canai di buka, siapapun manusia yang ada di gapura itu akan melihat kemegahan Canai secara langsung.
"Apakah cara ini sudah benar?" penjaga gapura semuanya bertanya-tanya.
Raja Harryan dan Permaisuri Flora pun mendengar itu, sedikit terheran, tapi mereka tahu, sebelum Garret memutuskan sesuatu hal, tentu telah ditimbang baik buruknya, beresiko kecil atau besar.
"Aku percaya pada anak itu, apapun langkahnya tetap bertujuan baik," kata Raja Harryan.
"Iya suamiku, aku tahu Garret 50 tahun yang lalu, semenjak bersama kita anak itu jadi anak yang penurut."
Raja Harryan akan memulai kehidupan barunya di istana megah di bagian puncak Canai. Mereka berdua akan menikmati kehidupan mudanya yang tertunda karena ulah sebagai Ratu.
Para menteri-menteri meminta bertemu dengan Raja Garret, beberapa dari mereka komplain dengan keputusan Garret. Tidak masuk akal sebab membiarkan manusia untuk sementara melihat kemegahan Canai.
"Yang mulia, bukankah itu berbahaya untuk dunia kita, yang seharusnya misteri menjadi bahan perbincangan di dunia manusia," kata salah stau dari menteri itu.
Garret yang sudah menimbang semuanya menyahut, "Bukankah dari dulu Canai sudah jadi perbincangan manusia? Jika mereka tidak mengetahui, tidak mungkin datang ke gapura hanya untuk melanggar, banyak dari manusia penasaran sehingga meremehkan Canai, jadi perlihatkan kehebatan Canai agar mereka tidak lagi sesuka hati meragukan kehadiran kita," jelas Raja Garret.
__ADS_1
Garrett juga menjelaskan bahwa itu cara agar manusia yang serakah bisa masuk di dunia Canai untuk belajar bersyukur, jika manusia memiliki niat yang buruk tentu takdirnya akan buruk di Canai, tetapi jika manusia memiliki kebaikan di dalam dirinya, pasti semua kebaikan Canai mengiringi langkahnya menuju sejahtera di Manusia yang masuk dengan niat buruk tentu akan menambah keuntungan bagi Canai, sebab ada pekerja baru, Canai tidak akan kekurangan tenaga kerja.
Para menteri tertegun dengan penjelasan Garret yang masuk akal. Kedua sisi keputusan Garret memiliki keuntungan untuk Canai. Di antara menteri yang kagum dengan Garret bertepuk tangan.
"Luar biasa yang mulia, baru sehari tapi sudah menemukan gebrakan baru," puji salah seorang menteri.
"Tanpa kalian aku hanya sebuah pohon tanpa akar, maka jadilah akar yang kuat, mari tumbuh bersama dan berguna," sahut Garret.
Garret bersiap-siap lagi bersama pengawal dan pihak kerajaan menuju ke gapura. Melihat beberapa tahanan gapura yang berhasil di tangkap karena melanggar aturan, Garret juga berencana keluar dari dimensi untuk ke Desa Kunan. Kepala penjaga gapura dan anak buahnya gemetaran, mereka takut sesuatu yang disembunyikan mencuat menemui kebenaran.
"Apa ada yang terjadi akhir-akhir ini Tuan Paul?" tanya Garret. Tatapannya tegas ke Paul, kepala penjaga gapura.
"Seperti yang mulia lihat, tak ada yang berbeda, hanya saja kami perlu membersihkan ruang tahanan gapura," sahut Tuan Paul. Untung saja telah mengirimkan ketiga tahanan manusia yang ia tangkap secara diam-diam, jika tidak, akan ada masalah lagi yang terungkap.
"Baguslah, berarti manusia sepertinya mulai segan bertandang kemari, terserah mereka," kata Raja Garret. Dia berkeliling ke penjara bawah tanah, ada banyak bangunan yang akan ia ubah.
"Tolong, ambilkan jepitan itu," pinta Garret pada pengawalnya.
Pengawal itu masuk ke dalam sel mengambil jepitan, lalu diberikan ke Garret. Bola mata biru Garret meneliti bahan dari jepitan itu, terbuat dari plastik. Di Canai Taka DA barang yang semurah itu, jepitan rambut para perempuan Canai semuanya terbuat dari emas kuning dan putih. Tak ada yang terbuat dari bahan plastik.
Garret menyimpan jepitan itu ke dalam saku, ia tidak ingin terlalu banyak tanya, dia pria yang pandai menelisik segala sesuatu.
"Yang mulia apa yang terjadi?" tanya pengawal pribadinya.
"Tidak apa, aku hanya ingin menyimpannya," sahut Garret.
Kepala penjaga saat itu menunggu di luar, sebelum Garret datang, dia dan anak buahnya belum sempat membersihkan seluruh ruangan sel, termasuk ruangan bekas Ita, Ifa, dan Benny.
"Anda bekerja dengan sangat giat, Tuan Paul." Puji Garret.
__ADS_1
Kepala penjaga itu tersenyum puas, tak ada yang cacat dari pekerjaan di mata Raja Garret. Tetapi Rajanya saat itu meminta agar Paul untuk cuti selama dua hari, itu ucapan terimakasih Garret karena kerja keras dari Tuan Paul, gapura selalu aman.
"Terimakasih Yang mulia, aku pikir ini sangat istimewa," ucap Tuan Paul.
"Manfaatkan dua hari ini untuk menyenangkan keluarga mu, karena buak sekarang lalu akan lagi?"
Tuan Paul diizinkan segera pulang, waktu cutinya di mulai hari ini, sementara penjaga gapura lainnya was-was.
"Kenapa wajah kalian tegang? Ada yang salah?"
"Tidak ada yang mulia," sahut mereka serentak.
Garret lu segera ke pintu dimensi, para pengawalnya sebanyak sepuluh orang itu menjaga Garret.
"Kami akan awasi yang mulia," kata pengawal pribadinya.
"Kita cukup bertiga saja yang keluar dari dimensi, iringan terlalu banyak nanti mengejutkan manusia."
Garret mengenakan kaos oblong biasa, begitupula dengan bodyguardnya. Dengan berjalan perlahan, mereka bertiga keluar dari dimensi, kaki mereka sudah berpijak di gapura. Garret menarik nafas panjang, di tempat itu pertama kalinya dia menyelamatkan Aliza dari kejaran penjaga dimensi.
'Melihat ini saja aku sudah sesak, kemana istriku berada?' dia bertanya-tanya dalam hatinya.
"Yang mulia, apa yang kita perbuat selanjutnya?" tanya Kenras, pengawal pribadinya.
Garret mengingat-ingat arah jalan menuju penginapan Kakek Latua, jalan setapak itu telah ia temukan dibalik semak-semak. Garret mengajak kedua pengawalnya mengikuti langkahnya.
"Apa ini tidak berbahaya untuk yang mulia, kalau kami menemukan bahaya tak apa, tapi jangan sampai itu yang terjadi dengan yang mulia," kata Kenras.
Garret hanya tersenyum, tidak salah mengangkat prajurit teladan itu menjadi pengawal pribadinya.
__ADS_1