Jin Tampan Penghuni Canai

Jin Tampan Penghuni Canai
Bab 43


__ADS_3

Garret pamit dari jejeran prajurit itu, dia ingin ke gapura untuk menanyakan informasi tentang Aliza. Hatinya gelisah belakangan ini, semenjak Aliza tidak menepati janji bertemu di gapura, Garret merasa ada sesuatu yang menimpa istrinya. Bahkan Dominic tak henti menanyakan keadaan Ibunya, dipikiran anak kecil itu, Ibunya tidak menyayanginya sebab tidak menemuinya di gapura.


Laju mobilnya semakin kencang, di atas sana ada beberapa kendaraan terbang yang lalu-lalang, sangat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Garret sadar, pemerintahan Canai sedang berantakan karena Raja mendapati banyak protes dari Rakyatnya.


"Andaikan Yang mulia tidak terlalu ketat, mungkin saja Rakyatnya menghormatinya," gumam Garret.


Menikah beda alam adalah hal yang terberat dalam suatu hubungan. Semua akan berkorban satu sama lain bila harus bahagia, namun di Canai, hanya ada satu yang boleh berkorban, yaitu manusia. Mereka harus menetap di Canai selama-lamanya.


Ada keramaian yang terjadi di gapura, beberapa kuncen itu pergi tanpa mendapatkan hasil usah mereka. Kakek Latua dan beberapa kuncen lainnya meminta agar keberadaan Aliza di katakan oleh penjaga gapura, tetapi tetap saja penjaga gapura itu mengelak. Mereka tetap saja menyembunyikan kebusukan Trisia.


"Itu ada apa? kenapa manusia itu pergi dengan marah-marah?" tanya Garret.


"Mereka hanya menginginkan sesuatu yang sulit kami lakukan, itulah manusia, ingin instan saja," jawab penjaga itu.


Garret yang tak curiga apapun mempercayainya, dia tidak sempat melihat keberadaan Kakek Latua yang ada di kerumunan itu. Garret kembali mencari informasi tentang Aliza.


"Apa sampai saat ini istriku belum berkunjung ke sini?"


"Tidak ada, Garret. Mungkin saja istrimu tidak ada lagi di Desa itu," sahut kepala penjaga. Demi menjaga jabatannya, dia sengaja menggiring opini tentang keberadaan Aliza.


"Lalu jika tak ada di Desa itu, istri ku kemana?" tanya Garret meminta pendapat.


Penjaga gapura itu tidak ingin setengah-setengah menutupi kejahatannya, "Mungkin saja dia kembali ke kotanya, mungkin dia ada urusan mendadak, atau hal lain."


Nyes!

__ADS_1


"Garret, dia itu manusia, memiliki sifat jenuh dan bosan, rasa cinta manusia itu bisa pudar karena dua hal tersebut, jadi pikirkanlah," sambung kepala penjaga.


Garret kecewa mendengar itu, meskipun di tahu Aliza tidak akan mungkin melakukan itu tanpa pamit darinya, tetapi tetap saja menyakitkan mendengar pendapat kepala penjaga. Garret memilih diam, dia tak lagi berani menanyakan hal-hal tentang Aliza.


Penjaga gapura meninggalkan Garret seorang diri, dia memang berempati terhadap Garret, tetapi perjuangannya menjadi kepala gapura susah payah ia dapatkan, tidak ingin berakhir begitu saja karena mencampuri urusan percintaan orang lain.


Garret tetap menunggu di pintu dimensi, berharap ada manusia yang melintas di gapura, ia ingin menanyakan keberadaan Aliza dengan menitip pesan ke Kakek Latua. Sementara kepala penjaga tak melepaskan pandangannya dari Garret, berharap Taka ada satupun manusia yang bertemu Garret, sebab dia tak ingin kehilangan Aliza diketahui oleh perdana menteri itu.


***


Permaisuri ke dapur istana, dia memeriksa hidangan yang akan diberikan kepada Trisia. Ada dua nampan yang berbeda jenis makanannya. Permaisuri tidak terima hal itu, dia ingin para pelayan adil dalam memberikan menu.


"Makanan Trisia dan tahanan wanita itu harus sama, jangan ada yang diistimewakan, berikan mereka makanan yang enak-enak," kata permaisuri Flora.


Tidak adil bila harus menghukum seseorang tanpa mendapatkan bukti. Belum lagi bila harus membayangkan keadaan hati tahanan wanita itu, sebab melihat jenis makanannya berbeda dari Trisia, padahal saat itu mereka dalam satu sel yang sama, pikir Permaisuri.


Permaisuri bergegas menuju ke ruangan suaminya, dia tahu suaminya akhir-akhir sedang memikirkan keras dengan aturan Canai yang diminta harus berubah oleh rakyatnya.


"Yang mulia, istirahatlah yang cukup, jika terlalu dipikirkan, kau akan jatuh sakit," ucap Permaisuri.


Raja Canai tetap ditempat duduknya, "Pantas saja Rakyatku selalu melakukan kesalahan, itu karena mereka kurang menyukaiku," ujarnya.


Permaisuri terenyuh, ia senang karena suaminya menyadari hal keburukan aturan kerajaan Canai. Aturan itu di buat oleh Kakek Raja Canai beribu-ribu tahun yang lalu, membuat penghuni Canai tertekan karena pemaksaan menikah lalu pemaksaan berpisah, seolah pihak kerajaan tidak berempati terhadap perasaan Rakyatnya.


"Apakah kau memiliki usul? Selama ini aku sudah terlalu berpusat dengan peraturan terdahulu, tampaknya aku harus mengubah sebagian aturan kita," kata Raja Canai mengalah. Ia mencoba berdamai dengan dirinya sendiri, mengelola semua dengan masukan dari suara hati rakyatnya.

__ADS_1


Permaisuri merasa inilah saatnya ia berperan menjadi permaisuri di Negeri Canai, dia harus mengambil peran untuk mendamaikan hati manusia dan penghuni Canai yang sudah patah.


"Ini tentang Cinta yang mulia, semua berawal dari cinta yang patah sehingga menimbulkan kerusakan hati. Rakyat kota sudah terlalu banyak rusak hatinya sehingga tak lagi berniat untuk hidup baik sesuai kehidupan jin," jelas permaisuri. Berharap suaminya dapat mengerti bahwa rakyat hanya butuh dimengerti.


"Haruskah kita membuat mereka keluar masuk dari negeri kita?" tanya Raja Canai.


"Tidak seperti itu yang mulia, negeri kita juga harus memiliki aturan ketat, tapi tidak harus melukai hati mereka. Biarkan mereka menentukan pilihan hidupnya, memilih cintanya, memilih cara mereka hidup, biarkan manusia ikhlas memiliki pasangan penghuni Canai, begitupula sebaliknya. Jika mereka melakukan kesalahan di luar aturan, baru yang mulia menindaklanjuti," jelas permaisuri panjang lebar.


Raja Canai sudah siap menyusun undang-undang baru di Canai, dia akan melakukan pertemuan dengan berbagai petinggi di Canai. Sementara di luar sana, ada seorang dayang yang mengetuk pintu, permaisuri beranjak mengindahkan panggilan itu.


"Ada apa?"


"Di luar ada Nyonya Maner, katanya ingin bertemu dengan Yang mulia permaisuri," kata dayang itu.


Permaisuri Flora terdiam sesaat, ia tahu maksud kedatangan saudara angkatnya itu, sebenarnya permaisuri enggan menemui, tetapi akan menjadi masalah baru lagi bila tidak mengindahkan permintaan pertemuan Ibu dari Trisia itu.


"Katakan padanya, saya akan menemuinya sebentar lagi," ujar permaisuri.


Permaisuri Flora kembali duduk bersama Raja, ia tak memperlihatkan kegusarannya, tak ingin masalah Trisia diketahui oleh suaminya. Ia malu bila kelakuan keponakannya lagi-lagi diketahui oleh Raja Canai, ulah yang selalu mencoreng nama baik dari pihak keluarga kerajaan.


"Aku merasa bersalah terhadap Garret," ucap Raja Canai tiba-tiba.


Permaisuri mengerutkan alisnya, ternyata bukan hanya dia yang merasa bersalah pada anak angkatnya itu, ternyata Raja Canai pun demikian.


"Garret tidak pernah melakukan hal apapun yang melanggar aturan kita, segala keinginan kita cepat ia tanggapi, tapi karena aturan, kita tidak berbuat adil dengannya," sambung Raja Canai.

__ADS_1


Permaisuri mendengar keributan di luar sana, merasa ada sesuatu yang aneh, dia pamit dari suaminya untuk sementara waktu. Benar saja, Ibu Trisia sedang mengamuk saat itu, dia memaksa para prajurit serta dayang agar segera mempertemukannya dengan permaisuri Flora.


__ADS_2