
Garret membawa Dominic ke Gapura, sebelum utusan Raja Canai tiba di Gapura dia harus terlebih dulu menemui penjaga Gapura agar membuka dimensi itu untuk sementara waktu. Dominic telah memahami apa yang disampaikan oleh Ayahnya, dia pun duduk anteng di jok depan ,memperhatikan laju mobil Ayahnya yang semakin kencang.
"Kau harus menangis ya saat di Gapura, supaya penjaga di sana mengizinkan mu bertemu Ibu," ucap Garret lagi. Dominic yang sudah berusia tiga tahun memahami itu lagi. Pertumbuhan yang sangat pesat dari seorang anak jin dan manusia sepertinya.
Aliza dan Arif duduk memandangi hutan lebat itu, Tak ada tanda-tanda ada pusaran dimensi yang akan terbuka, Aliza pun pesimis bila dapat bertemu Garret dan anaknya, sementara Arif berkata semua akan baik-baik saja, dan berjalan baik padanya.
"Mungkin kita tidak diizinkan," lirihnya.
Kakek Latua mengedipkan matanya, isyarat agar Aliza dan Arif tak boleh banyak bicara dulu. Tidak lama berselang suara gong terdengar memekikkan telinga mereka. Kakek Latua dan kuncen-kuncen lainnya mundur ke belakang. Tidak lama berselang pusaran angin muncul dihadapan mereka. Pusaran angin itu berubah jadi cahaya hitam pekat.
Aliza terkesiap melihat seseorang dibalik cahaya itu. Dia berjalan perlahan-lahan namun langkahnya di cegat oleh Kakek Latua.
"Dominic .." ucapnya dengan kata berkaca-kaca.
"Ibu .." Teriak Dominic dibalik dimensi Canai.
Garret yang menggandeng tangan Dominic tersenyum melihat anaknya begitu pandai.
"Kalian belum diizinkan keluar, jangan melangkahi batas dimensi," ucap kepala penjaga Gapura..
Garret menahan tubuh Dominic agar tak berlari ke Aliza, sementara tangan Aliza sudah menengadah meminta Dominic memeluknya diseberang sana.
"Aku ingin masuk memeluk anakku, Kek." Pintanya pada Kakek Latua.
"Jangan, Nak. Ini bahaya, bahaya untuk kau dan anakmu," sahut Kakek Latua. Dia tahu resiko melewati dimensi tanpa izin dari penjaga ialah dapat kehilangan kesadaran, bahkan meninggal dunia.
Garret mengedipkan mata kepada Dominic, rencana mereka akan dimulai, Dominic berlari menangis kepada kepala penjaga.
"A-aku mau ama Ibukuu ..huhuhuhu" dia menangis merengek pada kepala penjaga itu.
Garret pun ikut menangis, para penjaga gapura ikut menitikkan air matanya.
"Akuu mau sama Ibu ..aku mau dipeluk Ibu .." Dominic menarik baju Beji penjaga Gapura itu.
__ADS_1
"Sayang ..Ini Ibu .." Pekik Aliza berurai air mata.
Kakek Latua dan Arif berusaha menahan tubuh Aliza agar tak masuk dalam dimensi Canai.
Kepala Gapura itu menundukkan wajahnya, berat melihat anak kecil menangis di hadapannya. Dominic menangis sekeras-kerasnya, tidak lagi berakting tetapi sangat ingin bersama Ibunya.
"Dominic .. Garret jangan biarkan anak kita seperti itu!" Teriak Aliza yang tidak tega melihat anaknya bersedih.
Kepala Penjaga itu menggendong Dominic, akhirnya dia luluh, dia membawa Dominic melewati lorong dimensi hingga tiba tepat di hadapan Aliza.
"Sayang ..sini nak," Aliza meraih Dominic untuk dipeluknya.
Tangis itu semakin pecah, para kuncen dan Kakek Latua ikut tersedu-sedu, sementara Garret membalikkan badannya karena tak sanggup melihat momen haru antara istri dan anak semata wayangnya itu.
"Anakku sudah besar .." ucap Aliza tiada henti menciumi Dominic.
"Ibu, ayo kita pulang, Ayah selalu menangis peluk foto Ibuu.." ujar anak kecil dengan bola mata biru itu.
"Iya, Nak ..kita akan berkumpul lagi," sahut Aliza. Jawaban itu di dengar oleh Garret, seketika hati disirami kebahagiaan.
"Anda sudah tidak bisa memasuki dunia kami, Anda sudah masuk daftar hitam di penghuni Canai," ucapnya memperingati Aliza.
Garret tertegun, dia melirik ke penjaga Gapura yang lain, dia tak menyangka secepat itu menghitamkan nama Aliza sedangkan kepergian Aliza tidaklah membuat masalah. Aliza hanya memilih untuk tidak menepati janjinya untuk kembali dalam dua bulan.
Dominic di ambil kembali oleh penjaga Gapura, namun Aliza enggan melepasnya. Dia memberontak agar tetap bersama anaknya.
"Ku mohon, jangan pisahkan kami .."
Dominic menangis di pelukan Ibunya, Garret tak sanggup melihat itu memohon sangat kepada penjaga Gapura.
"Jangan pernah berani melanggar peraturan Canai, Garret!" Penjaga Gapura itu memberikan peringatan lagi.
Aliza yang masih menggendong Dominic memilih bertekuk lutut, sembari menangis dia memohon untuk tetap dapat melihat anaknya.
__ADS_1
"Izinkan aku dapat bersama anakku, ku mohon .." ucapnya memohon.
Penjaga Gapura itu lagi-lagi memukul gongnya. Mereka sangat marah karena Garret dan Aliza selalu saja meminta hal yang melanggar peraturan Canai.
"Dunia manusia memiliki aturan sendiri, begitupun dunia kami! Berhentilah memohon, ikuti cara kami!"
Aliza dan Garret terdiam, Dominic dirampas paksa oleh penjaga itu, karena tak ingin anaknya terluka, Aliza melepas Dominic. Jeritan tangis Dominic menggelegar di hutan Canai, dia memberontak karena tak ingin berpisah lagi dengan Ibunya.
"Ibu ..Ibu ..Ibu .."
Kakek Latua dan kuncen-kuncen itu tak dapat berbuat apa-apa, mereka hanya manusia biasa, tak memiliki hak ikut campur dengan aturan Canai. Arif di tarik masuk ke dalam pusaran oleh penjaga Gapura yang lain. Dominic dikembalikan pada Garret, tangis anak kecil berusia tiga tahun itu tak berhenti.
"Kalian akan ku berikan keringanan, kalian bisa bertemu dari kejauhan, kalian hanya bisa bertatap wajah antara dimensi, kalian tidak boleh melangkahi dimensi masing-masing," kata penjaga Gapura itu.
Aliza akan tetap di Kunan untuk melihat Garret dan Dominic dari dimensi Canai, begitupula Garret dan Dominic, dia akan melihat Aliza di Desa Kunan biak sedang ada di Gapura. Mereka hanya dapat melihat dari kejauhan.
Garret mengiyakan itu, "Aliza, kalau kamu mau melihat kami, kamu setiap hari datang ke Gapura, kamu bisa?" tanyanya.
Aliza mengusap air matanya, "Iya, aku bisa .."
Pintu dimensi itu akan di tutup sebelum pihak kerajaan datang mengecek kondisi Gapura. Dominic tetap saja memanggil-manggil Ibunya.
"Kak Aliza, jaga diri baik-baik," ucap Arif.
"Kamu jaga diri baik-baik, aku dan Dominic besok akan kesini lagi," kata Garret pula.
Aliza hanya menutupi mulutnya menahan tangis, cinta berbeda dimensi itu sangatlah sulit, dia harus terpisah dengan penyemangat jiwanya. Menerima kenyataan bahwa dia dan Garret memang sangat berbeda, begitupula dengan anaknya, Dominic.
Perlahan pusaran angin itu bertiup dengan kencang, pintu dimensi itupun tertutup mengantarkan tangisan Dominic. Gapura itupun telah kembali dikelilingi hutan lebat, tak menampakkan Kota Canai yang megah.
Aliza tersungkur di tanah, menjerit memanggil nama Dominic. Kakek Latua menenangkannya, beberapa kuncen itu sudah sangat lemas karena energi mereka terhisap.
"Kita pulang, kamu istirahat, Nak .."
__ADS_1
Aliza menurut, dia akan tetap besok kembali ke Gapura itu. Kuncen-kuncen itu kasak-kusuk karena terpukau, mereka pertama melihat keindahan Kota Canai yang benar-benar semegah itu. Sebelumnya mereka hanya melihatnya lewat mata batin saja.