
Perjalanan mereka menyita waktu sekitar 2 jam, membawa Aliza ke desa kakeknya, panjang perjalanan Aliza memilih tidur. sesekali Khael mengusap-ngungsap kepalanya, menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang yang teramat dalam terhadap Aliza.
" Aliza kita sudah sampai,'' ucapkan membangunkan Aliza.
Alisa bangun dengan meregangkan badan, wajah kalian menyambut bangunnya dengan tersenyum.
" Kamu lanjutin Istirahat di dalam, kita masuk ini rumah kakek aku,'' mereka keluar dari mobil.
Di rumah di pinggiran kota itu, ada sepasang suami istri yang lanjut usia, dia adalah Kakek dan Nenek Khael. Keduanya menyambut kedatangan Aliza dan Khael.
"Berapa lama kamu baru datang ke sini?" tanya Kakek Khael kesal kepada cucunya.
"Maaf, Kakek. Aku terlalu sibuk," sahut Khael memeluk Kakeknya.
Nenek Khael malah menyapa Aliza, sesekali melirik ke cucunya, " Ini calon mu nak? cantik sekali," puji Neneknya.
Khael tersipu malu, Aliza juga ikut tersenyum, mereka berdua di ajak masuk ke dalam rumah, mengobrol santai di meja makan. Saat itu TV kakek Khael mengalami gangguan sehingga tak dapat menonton TV siaran Canai.
"Kita menginap, aku akan mengajak mu jalan mengitari Desa ini," ucap Khael membawa tas jinjit Aliza ke kamar.
"Ternyata masih ada Desa di tengah Kota Canai yang megah," imbuh Aliza.
"Di Canai tidak semuanya akan dijadikan Kota, pihak kerajaan juga tetap melestarikan Desa, para lansia bisa tinggal di Desa menikmati masa tuanya, setelah ratusan tahun berjuang," jelas Khael.
Aliza menikmati pemandangan dari jendela, namun Khael mengejutkannya, pria itu memeluknya dari belakang, sontak Aliza menghindar. Khael tersinggung dengan sikap Aliza yang menolak pelukannya.
"Kenapa Aliza? kita sepasang kekasih," ujar Khael.
"Maaf, aku hanya terkejut."
Khael kembali memeluk Aliza dari belakang, ingin rasanya Aliza mendorong tubuh Khael, ia sungguh tak nyaman mendapat perlakuan demikian dari Khael.
__ADS_1
"Kita segera menikah ya, kamu kau 'kan?" bisik Khael.
"Terserah kamu, aku masih ngantuk Khael," sahjt Aliza. Hanya itu yang dapat ia ucapkan.
Aliza saat itu ingin tidur, ngantuknya tak tertahankan, ada banyak obat-obatan yang sudah Khael berikan untuk memulihkan kesehatannya. Ketika Aliza tertidur, Khael memandangi Aliza, namun tiba-tiba ada panggilan dari perawatnya, Resi. Suara panik dari Resi terdengar dibalik telepon.
"Dokter, coba lihat berita yang ada di internet," kata Resi.
"Berita apa?" tanya Khael.
"Tentang Nona Miracle."
Khael menutup teleponnya, dia melihat infromasi berita yang dimaksud oleh Resi, benatlr terpampang foto Aliza dan vidoe rekaman Aliza ketika di acara kerajiaan. Ada beberapa foto Aliza bersama Garret menggedong Dominic. Foto pernikahan Aliza bersama Garret terpajang menghiasi halaman berita resmi dari pihak kerajaan. Menginformasikan kepada masyarakat Canai siapa saja yang menemukan Aliza, maka akan diberikan hadiah tak terduga.
"Tidak, ini tidak mungkin," gumam Khael gemetaran memegang ponselnya.
Khael melihat ke Aliza, wanita idamannya itu tertidur lelap, Khael tak dapat berpikir jernih saat itu. Dia mencari telepon genggam Aliza yang kemarin ia hadiahkan untuk pujaannya itu.
Dengan berarti hati, Khael membanting ponsel itu ke lantai, dengan tak ada kases lagi Aliza melihat berita di internet, Khael berharap Aliza tidak dapat melihat infromasi yang ia rasa tidak benar itu.
"Mereka pasti hanya mirip, aku yakin itu."
Khael keluar mengecek Kakek dan Neneknya, kedua lansia itu sedang memperbaiki kabel TVnya, Khael mencegat Neneknya agar tidak menonton TV.
"Selama alu ada disini, Khael mohon jangan ada yang menonton TV," pintanya.
"Kenapa, Nak? Ada masalah apa?" tanya Neneknya. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi dengan batin cucunya, sangat jelas di antara Khael yang panik.
"Aku mohon, Kakek, Nenek. Jangan ya, TVnya aku taruh di gudang, aku akan ceritakan semuanya nanti," ujar Khael. Dia melepas TV itu dari dinding lalu memindahkannya ke gudang.
Kakek dan Neneknya saat itu terheran dengan sikap cucunya. Khael berusaha menutup celah agar informasi dari pihak kerajaan tidak diketahui oleh Aliza.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Kakeknya. Dia mengikuti cucunya ke gudang.
"Kakek, Aliza itu sudah jadi milikku, aku telah menyelamatkan dia, aku telah menjadikan dia seperti mahluk Canai, dia itu milikku, tidak ada yang boleh mengakuinya selain aku," turut Khael. Suaranya parau menahan perasaan takut kehilangan.
Kakek dan Neneknya hanya termangu, tidak mengerti hany dimaksud oleh cucunya. Khael kembali masuk ke dalam kamar, Aliza maosh tertidur pulas. Khael mengunci jendela mengunci pintu. Dia naik ke ranjang berbarung di ssamping Aliza. Menyeka rambut Aliza, sesekali melayang kecupan di keningnya.
"Kau milikku, kau harus tetap bersamaku," ucapnya pelan.
Khael menelaah disaat pertama kali menemukan Aliza, wanita itu bersimbah darah dengan luka di kepala. Aliza bahkan nyaris mati karena kehabisan darah manusia, Khael mengganti seluruh organ manusia Aliza dengan organ jin, termasuk darahnya. Sejak saat itu Khael bertekad memiliki Aliza, ia ingin Aliza menjadi pendampingnya karena ia merasa berhak memiliki Aliza, dia adalah penolong Aliza.
"Kamu bukan istrinya, kamu adalah Miracle, kamu milikku," lirih Khael.
***
Infromasi dari pihak kerajaan juga dilihat langsung oleh Trisia, ia terkejut melihat rekaman video Aliza yang berada di acara kerajaan. Selama ini Trisia mendiamkan suasana sementara, menunggu Garret tenang memimpin Canai, namun bukan berarti Trisia berhenti mengejar Garret. Trisia masih dengan tujuan hanya sama serta rencana yang sama.
"Sial! Wanita itu ternyata masih hidup," umpat nya.
Bu Manner, Ibunya menghampiri Trisia. Dia sangat ingin anakanya menikah dengan Raja Canai itu, dengan berita ini, Bu Manner terhalangi menjodohkan Trisia dengan Garret.
"Kamu lihat 'kan berita kerajaan?" tanyanya.
"Iya, Bu. tapi, aku kira wanita itu sudah meninggal, Ibu 'kan yang bilang sama aku, buktinya dia hadir di acara Dominic," protes Trisia. Bu Manner memang sempat berbohong kepada anaknya mengatakan bahwa Aliza telah mati. Itu cara agar anaknya tak mendesaknya lagi menemukan Aliza.
Bu Manner gelagapan, ia mengakui kebohongannya, " Ibu salah, Ibu hanya menerka-nerka saat itu, karena luak Aliza sangat marah dan kata pihak klinik tahanan taka da hataln lagi, tapi kenapa dia tetap bersembunyi jika itu memang Aliza," kata Bu Manner.
Trisia kecewa terhadap Ibunya, namun saat itu tidak penting mengutamakan kekecewaannya, Garret sedang memanfaatkan kekuasaannya menacri Aliza kembali, membiarkan Garret menemukan Aliza adalah kekalahan baginya.
"Aku sudah berjuang hingga sejauh ini, aku tidak ingin kalah lalu menanggung malu, ini semua karena Bibi Flora!" Trisia kembali menyalahkan permaisuri Flora. Ia menyesal mempercayai Flora memegang kendali atas rencananya memiliki Garret, ternyata Flora berkhianat.
Bu Manner menghadapkan Trisia ke depan cermin, dia membuat anaknya menatap pantulan tubuhnya sendiri.
__ADS_1
"Liat dirimu di dalam cermin, kau begitu cantik, kau seharusnya memiliki akan cerdas, ibu akan bantu kamu memiliki Garret, kita bisa buat yang tidak mungkin menjadi mungkin." Bu Manner tetapi mendukung anaknya. Walaupun rencana mereka akan bertolak belakang dengan Ayah Trisia.