Jin Tampan Penghuni Canai

Jin Tampan Penghuni Canai
Bab 22


__ADS_3

Trisia berkaca-kaca, niat baiknya selalu ditolak mentah-mentah oleh Garret.


"Aku hanya berniat ingin membantu mu merawat Dominic, jangan egois, aku tidak ada niat apapun," kata Trisia. Menitikkan air mata cara mengungkapkan kesedihannya.


Garret tertegun, memandang Trisia dengan rasa bersalah. Dia tak tega melihat Trisia tersakiti oleh ulahnya.


"Maaf, aku hanya tidak suka di ganggu," ucap Garret merendahkan suaranya.


Trisia tetap saja menangis, dia terluka karena penolakan Garret. Dia seorang wanita yang banyak di kagumi oleh rapi di Canai, dengan sikap Garret menolaknya, Trisia merasa sudah dihinakan.


"Aku hanya berusaha ingin membantu mu, aku sangat menyukai anak kecil, aku ingin membantu mu merawat Dominic," kata Trisia tersedu-sedu. Dia berniat menjadi Ibu sambung Dominic, dia ingin menyembuhkan luka hati Garret karena ulah manusia, pikirnya.


Garret yang sedang pusing menyerahkan Dominic ke Trisia, "Jagalah untuk sementara waktu, kau ingin istirahat."


Garret membiarkan Trisia masuk ke dalam rumahnya. Trisia bermain dengan Dominic di ruang tamu, sementara Garret masuk kedalam kamar. Berbaring memikirkan nasib pernikahannya, dia sangat mencintai Aliza, wanita pertama yang membuatnya jatuh hati hanya Aliza seorang.


"Ini sulit, aku tidak akan bisa jalani semuanya tanpa kamu," lirih Garret memandangi foto Aliza.


Sesulit itu menahan perasaannya, namun bagi Garret cinta adalah pengorbanan, dia harus mengorbankan perasaannya demi Bu Ati, demi Aliza agar menjadi anak yang berbakti. Dia memandangi tempat Aliza biasanya tidur, dia membayangkan Aliza ada disampingnya. Menciptakan bayangan istrinya dengan wajah tersenyum.


"Betulkah pernikahan kita berakhir?" tanyanya pada bayangan Aliza.


Tak terasa air mata Garret meleleh ke pipinya, dia tak kuasa menahan rindu dan bersalah pada Dominic, anaknya masih terlalu kecil untuk berpisah selamanya dengan Ibu kandungnya.


Dari luar Trisia mengetuk pintu kamarnya, Dominic saat itu rewel.


"Dia menangis lagi," ujar Trisia di balik pintu.

__ADS_1


Garret beranjak membukakan pintu, dia mengambil Dominic dari gendongan Trisia.


"Terimakasih sudah menjaganya, pulanglah, dia sudah mengantuk," tuturnya.


Trisia tahu, Garret sedang di masa sulit melupakan istrinya, namun dia tidak akan berhenti mencari kesempatan menggaet Garret agar segera jatuh hati padanya. Trisi pamit untuk pulang, sebelum pergi dia memberikan ciuman hangat pada Dominic.


"Jangan rewel ya, anak pintar. Tante akan kembali besok," ucapnya sembari mengusap kepala Dominic.


Garret mengalihkan pandangannya, dia tak ingin sikap Trisia membuatnya tertegun sehingga berempati kepada gadis berparas sensual itu. Trisia melirik ke Garret, dia yakin Garret itu sedang menahan hasratnya.


Setelah Trisia pergi, Garret mengajak Dominic untuk bercengkerama. Meskipun anaknya belum dapat memahami perkataannya, namun dengan berbincang dengan Dominic, kerinduannya pada Aliza sedikit terobati. Wajah Dominic lebih dominan mirip ke Aliza ketimbang dirinya.


"Maafkan Ayah, kelak jika kamu sudah besar, kamu akan mengerti jika Ayah melakukan ini demi kebahagiaan Ibumu, dan keluarganya, kita hidup di dunia kita sendiri, sementara Ibumu hidup dunianya, semestinya sudah seperti ini," tutur Garret pada Dominic.


Dominic memukul-mukul mulut Ayahnya, dia seperti memahami perkataan Garret. Raut wajahnya bersedih, mulutnya cemberut.


"Sayang, jika kamu sudah besar, kamu harus berusaha keluar dari Canai, cari Ibumu," kata Garret.


Trisia yang masuk ke dam mobil masih memandangi ruang Garret dari kejauhan, dia sedikit demi sedikit akan dekat dengan Dominic untuk memikat hati Garret.


***


Aliza kembali ke rumah sakit, kedua adiknya tak berani menanyakan kesedihan Kakaknya. Mereka yakin bahwa Garret telah kembali ke Canai, namun Kakaknya tak dapat ikut karena kondisi Ibunya. Tiba-tiba Ibunya kembali kejang-kejang, Aliza dan kedua adiknya panik memanggil dokter. Bu Ati diberikan penanganan khusus, namun takdir berkata lain, Bu Ati meninggal karena kesulitan bernafas.


"Ibu, Ibu bangun, jangan tinggalkan kami," jerit Aliza.


Ruang rawat Bu Ati dipenuhi tangisan ketiga anaknya. Aliza merasakan kesedihan secara bertubi-tubi dengan kepergian Ibunya, dia rela terpisah dari Garret dan Dominic demo menjaga Ibunya.

__ADS_1


Di balik jendela kamar rawat Bu Ati, ada Fuad diam-diam mengamati keadaan, dia tersenyum puas karena rencananya berhasil. Fuad diam-diam masuk ke kamar rawat Bu Ati menyamar sebagai petugas kebersihan rumah sakit. Saat itu Ifa tertidur sedangkan Ita di toilet. Fuad memanfaatkan kelengahan anak-anak Bu Ati untuk menyuntikkan racun di selang infus Bu Ati.


"Silahkan kalian menangis sampai air mata itu jadi darah," gumam Fuad.


Dia tidak akan berhenti mengganggu kehidupan Aliza, Fuad akan tetap mengintai Aliza agar tak merasakan keamanan. Di jendela, Fuad mencari keberadaan Garret, namun pria yang menjadi tujuan utama kemarahannya itu tak terlihat olehnya.


"Kemana pria brengsek itu?" dia bertanya-tanya dalam hati.


Fuad berharap bisa menemukan cara agar membalaskan dendamnya pada Garret. Dia masih memantau pergerakan Aliza. Berharap Garret muncul di rumah sakit itu.


Sementara Aliza masih memeluk jenazah Ibunya, dia tak menyangka Ibunya secepat itu meninggalkannya, ada banyak rencana yang ia susun setelah kesembuhan Ibunya. Aliza ingin menceritakan pada Bu Ati tentang pernikahannya dengan Garret di Canai. Namun takdir berkata lain, semua pupus meninggalnya Ibunya, juga tertutupnya pintu dimensi Canai.


Aliza memandangi tumpukan uang di tasnya, uang utu serasa tak berharga karena Ibunya telah tiada. Garret memberikan hasil jual berlian itu agar ia bisa menyembuhkan Bu Ati di rumah sakit paling malah, namun niat baik suaminya tak terwujud.


"Terimakasih sudah membantu kami," ucapnya lirih mengingat betapa baiknya Garret.


Ifa dan Ita memeluk Kakaknya, mereka saling menguatkan. Pak Maman turut hadir berduka cita.


"Pengorbananku dan Garret sia-sia, Ibuku meninggal begitu cepat," ucap Aliza pada Pak Maman.


"Kamu sudah menjadi anak yang berbakti, kamu anak yang baik, Garret juga pria yang sangat baik, dia suami yang paling hebat yang saya temui, bahkan bila saya berada di posisinya, sulit untuk memaklumi itu," sahut Pak Maman.


"Aku sudah kehilangan semuanya, aku kehilangan suami, anak, dan Ibuku," ujar Aliza merasa hidupnya sudah tak berarti.


"Jangan sia-siakan pengorbanan Garret, dia ingin kamu hidup bahagia, lakukan itu, dia sangat mencintai mu," tutur Pak Maman sesuai dengan pesan Garret untuk disampaikan pada Aliza.


Aliza tersedu-sedu, dia menangis sejadi-jadinya. Dia sulit hidup dalam kerinduan tak berujung. Di luar Fuad mendengar percakapan Aliza dan Pak Maman. Dia menilik kata demi kata itu.

__ADS_1


"Apa maksud ucapan mereka," gumamnya.


Fuad mencurigai bahwa pernikahan Aliza sedang tidak baik-baik saja, dia semakin bahagia, merasa menang dengan takdir yang terbalaskan, pikirnya.


__ADS_2