Jin Tampan Penghuni Canai

Jin Tampan Penghuni Canai
Bab 54


__ADS_3

Aliza di siapkan makanan dari perawat dokter Khael, dia dibiarkan untuk menonton TV, ada banyak berita nasional yang memunculkan berita-berita seputar Kerajaan Canai. Aliza hanya diam termangu, menonton tetapi pikirannya tetap kosong, tak dapat mencerna baik apa yang ditontonnya. Matanya hanaya dapat melihat tanpa tahu apa itu Canai dan berbagai makna berita yang disiarkan.


"Kau sudah lebih baik lagi hari ini," ucap Khael. Dia menyeka rambut Aliza yang kusut karena terlalu lama berbaring.


Aliza mengalihkan wajahnya ke Khael, Ibu Dominic itu tak berekspresi sama sekali. Tatapannya hambar dan kosong. Khael tahu itu efek setelah perbaikan otak.


"Kau ingat sesuatu?" tanya Khael, berharap pasiennya dapat mengingat sesuatu agar ia tahu apa penyebabnya bisa kecelakaan di penjara.


Aliza menggelengkan kepalanya, mimik wajahnya nampak kebingungan. Seperti anak yang baru lahir, belum mengenal dunia, takut, dan tidak percaya pada siapapun selain dokter Khael, ketika dalam komanya, hanya suara dokter Khael yang sering ia dengar sehingga Khael tidak asing baginya.


"Miracle, aku yakin kamu sedang diincar oelh bahaya, mauka kau tetap disini bersamaku?" pinta Khael. Baginya tidak masalah bersama Aliza hingga kondisi otak Aliza pulih.


Aliza hanya mengangguk, dia tak memiliki pilihan lain lagi, sulit menerka siapa dirinya, tak ada ingatan masa lalu yang muncul di benaknya, semuanya gelap. Aliza mencengkram erat bantal, wajahnya berkeringat karena kelelahan duduk.


"Kamu kelelahan, berbaringlah kembali," Khael memandunya untuk berbaring.


Dengan telaten, Khael merapikan bantal Aliza, sejenak dia mencuri pandang ketika wajahnya begitu dketa dengan wajah Aliza, sungguh aura perempuan itu menggetarkan jiwa setiap yang makhluk yang melihatnya. Semua hadsi di Canai cantik, tapi tidak aura kecantikan Aliza berbeda, sederhana namun terlihat mengagumkan.


'Ternyata ini dimaksud kecantikan dari dalam,'


Ucap Khael dalam hati.


Di layar TV menampilkan pidato Garret, wajah tampan Raja Canai itu sangat tegas menyampaikan aturan-aturan kerajaan Canai, dan hak-hak penghuni Canai. Aliza tertegun melihat Garret di TV, jantungnya berdetak memberikan isyarat kepadanya. Namun rak ada satupun ingatan tentang Garret yang hadir di kepalanya.


Khael mengamati cara Aliza memasangi Raja Garret di TV, ada binaran kagum Aliza melihat Garret. Ada timbul kecemburuan di jati Khael, pasien cantiknya kuga mengagumi sosok Raja baru Canai.


"Dia Raja baru kita, namanya Raja Garret, dia tamapn 'kan? Dia tipe ideal wanita Canai, tapi sayangnya sudah memiliki istri dan anak, buat patah hati Nasional," ujar Khael yang ingin mematahkan kekaguman Aliza.


Khael menginginkan, jiam Aliza belum mengingat siapa djati dirinya, Khael akan menikahinya. Ia pikir sudah cukup lama sendiri, sibuk menjadi dokter hingga lupa membahagiakan diri sendiri termasuk memiliki pasangan hidup. Khael memindahkan siaran TV itu, menggantinya dengan film romantis, dia ingin mengajak Aliza untuk nonton film.

__ADS_1


"Adakah yang ingin kau makan?"


Aliza menunjuk ke buah khas Canai, buah itu memang juga favorit Khael. Tanpa pria itu sadari, ada kenyamanan bersama Aliza, kesepiannya di rumah mewahnya terobati dengan kehadiran Aliza, perempuan itu dimatanya sangat lugu, wanita seperti itu yang Khael cari. Khael membangunkan kembali Aliza. Sesekali memandangi Aliza dengan tatapan menggoda, naluri lelakinya di uji.


Namun Aliza saat itu hanya berfokus pada layar TV, ingatannya malah mengingat pidato Raja Garret. Mengingat Garret, dia merasa tenang, bukan karena kekaguman seperti pandangan wanita lain, ada perasaan dekat terhadap penguasa Canai itu.


"Dok, ada yang ingin bertemu, ada pasien khusus di luar dok," kata perawat.


Khael menitipkan Aliza kepada perawatnya, Khael menuju ke ruang prakteknya. Sementara Aliza meminta perawat itu memindahkan siaran TV.


"Lagi, lagi," kata Aliza lada perawat yang sedang memilihkan Aliza siaran TV.


"Ini," sambungnya setelah mendapatkan siaran TV yang memunculkan Garret lagi.


Perawat itu tersenyum, "Rupanya Nona Miracle juga senang dengan Raja Garret, dia idaman seluruh perempuan di Canai," puji perawat berperawakan cantik itu.


Aliza tak menanggapi, dia hanya menikmati senyum Garret yang tertangkap oleh kamera, ketika Garret diliput bersama Dominic, dada Aliza langsung terasa sesak, dipenuhi rongga udara. Melihat Dominic di layar kaca memancing kesakitan di kepalanya. Aliza memegang dadanya sembari meringis.


Dia mematikan Tv agar suara riuh tidak terdengar lagi oleh Aliza. Perawat itu menenangkan Aliza, memberikannya obat penghilang rasa sakit agar Aliza kembali tertidur.


***


Trisia masih mendekap di sel ruang bawah tanah, dia sudah mendengar berita penobatan Garret menkafi Raja. Tentu sebagai wanita yang mengagumi, Trisia bahagia, tetatpi tidak bila Garret kembali bersama Aliza. Dari luar terdengar suara yang ingin memasuki penjara bawah tanah, itu Ayahnya yang didampingi dua prajurit penjaga penjara.


"Ayah .." Seru Trisia menangis melihat kedatangan Ayahnya.


Ayahnya hanya menghela nafas, merasa gagal mendidik anak. Putri tunggalnya yang tempatnya menumpukan harapan dibelenggu oleh rantai.


"Ahah harap kau jera Trisia, berhentilah membuat ulah lagi," ujar Ayahnya selayaknya Ayah pada umumnya.

__ADS_1


Trisia mengangguk, "Iya, Ayah. Trisia berjanji, Trisia akan jadi anak penurut tapi tolong keluarkan Trisia Ayah," pintanya penuh harap. Trisia bahkan bersujud memohon Ayahnya agat mengeluarkannya dari penjara.


Ayahnya tak kuasa melihat tangis anaknya. Sesalah apapun Trisia, tetap di Ayahnya, dia putri kecil yang ingin di manja.


"Baiklah, baca ini terlebih dulu," uajra Ayahnya menyodorkan kertas perjanjian kepada Trisia.


Sebelum datang menemui anaknya, dia sudah membuat perjanjian kepada menteri keamanan Canai, persetujuan bitu telah disetujui pula oleh Garret, karena mengingat jasa-jasa Ayah Trisia yang banyak berperan meningkatkan kecanggihan teknologi Canai. Surat perjanjian itu berisikan penanggung jawab, bila Trisia melakukan hak yang sama, maka Ayahnya lah yang menanggung hukuman mati.


"Ayah sifah berkorban, Nak. maka dari itu berilah Ayahmu kebahagian, berubah lah .." Pinta Ayahnya.


Triska menangis tersedu-sedu, menggapai tangan Ayahnya untuk diciumi.


"Trisia janji, aku akan membahagiakan Ayah dan Ibu."


Kedua prajur itu membuka sel Trisia, rantai besi yang membelenggu kakinya dilepaskan. Trisia di keluarkan dari penjara bawah tanah. Betapa bahagianya menghirup udara bebas, suasana Canai teramat ia rindukan. Dari atas lantai tiga istana, ada permaisuri Flora melihat momen keluarnya Trisia dari penjara.


"Aku harap kau benar-benar berubah," gumamnya.


Trisia di masukan ke dalam mobil, dia kembali pulang bersama Ayahnya. Sepanjang perjalanan ada banyak Billboard yang menampilkan wajah Garret. Tulisan kebanggaan Canai melekat di setiap gambar Raja Garret. Trisia tersenyum miring, gadis itu twtap saja dengan tujuannya.


'Aku harus jadi Ratu Canai,' ucapnya dalam hati.


Meskipun nyawa Ayahnya menjadi taruhan, Trisia akan tetap bermain cantik kali ini. Dia akan berpura-pura baik di mata orangtuanya, Garret, dan seluruh penduduk Canai. Trisia akan menguji skill sandiwaranya, memerankan tokoh protagonis di mata orang-orang disekitarnya.


"Ibumu sudah menanti di rumah, ada banyak keluarga yang akan menyambut mu, minta maaflah kepada mereka," ujar Ayahnya.


Kini Trisia memulai perannya. Dia memasang wajah lembut dan tenang.


"Baik, Ayah. Trisia akan meminta maaf, tetapi terlebih dulu Ayah harus memaafkan Trisia karena telah mempermalukan Ayah," sahut Trisia dengan suara ia sengaja lembutkan.

__ADS_1


Ayahnya tertegun, baru kali ini mendengar tutur bahasa anaknya yang lembut dan beradab.


__ADS_2