
Raja Canai terusik dengan keributan yang dilakukan oleh Ibu Trisia. Permaisuri makin tidak enak, keluarganya selalu menjadi pusat perhatian dengan berperilaku buruk.
"Biar saya saja yang mulia, dia adalah Kakak saya, jadi yang mulia istirahat saja, ini hanya urusan keluarga," kata Permaisuri Flora.
Raja Canai menurut, dia teramat lelah hari itu, pikirannya di penuhi kekacauan. Lelah menjadi pemimpin, itulah yang dirasakan oleh Raja Canai saat itu. Ingin rasanya dia menurunkan tahtanya, tetapi dia tak memiliki anak, Raja Canai tidak dapat memiliki anak. Itulah kekurangannya.
Permaisuri keluar menemui Maner, Ibu Trisia. Ia mendengar dari anak buah Trisia bahwa anaknya di penjara di bawah tanah dengan tahanan wanita. Bu Maner tidak senang anaknya di perlakukan demikian oleh adik angkatnya.
"Kak Maner, kenapa membuat keributan di istana, saya malu Kak," tanya Permaisuri Flora dengan suara merendah.
Dengan emosi yang meledak-ledak, Maner bertanya m," Ada masalah apa kau, Flora? Sekejam itu kau dengan putriku?"
Permaisuri menarik tangan Maner menepi di suatu ruangan, dia ingin berbicara empat mata dengan Kakak angkatnya itu. Permaisuri menunggu emosi Maner surut, namun tetap saja, Maner tidak dapat memadamkan amarahnya.
"Kenapa? Kau ya, kau anggap apa Trisia? kau pikir dia itu penjahat yang berbahaya sehingga kau penjarakan seperti itu?"
Permaisuri tak ingin menanggapi dengan kemarahan pula, meskipun saat itu dia kesal kepada Kakak angkatnya itu.
"Dia melakukan kesalahan Kak Maner, lagipula Trisia hanya mendapatkan hukuman kecil."
Maner tidak terima anaknya di hukum, dia memaksa Permaisuri Flora untuk menghentikan hukuman terhadap Trisia.
"Kau harus berhenti melakukan itu, jika tidak, kau perempuan yang tidak tahu berterima kasih!" Maner megungkapkan masa lalu Permaisuri Flora yang hanya anak angkat dari orangtuanya.
Permaisuri Flora terdiam, mengalihkan pandangannya dari Maner. Sulit baginya menjadi bijaksana bila harus dikekang dari pihak keluarga angkatnya. Permaisuri merasa dia tak memiliki harga diri dan kehormatan bila berhadapan dengan mereka.
"Pulanglah, Kak. Akan kulakukan perintah mu jika Trisia sudah jera," kata Permaisuri Flora.
"Kau! Kau itu benar-benar tidak tahu diri!" Maner mengumpat. Karena didikannya Trisia menjadi anak yang sesuka hatinya, rak peduli dengan perasaan orang lain.
Permaisuri Flora tidak peduli itu, dia harus bersikap adil selayaknya istri seorang Raja. Trisia telah melakukan berbagai hal yang menyulitkan orang lain, termasuk membuat masalah di penjara bawah tanah.
__ADS_1
"Ingat Flora, kau hanya anak pungut, dasar manusia bodoh!" Maner meneriakinya dari luar. Para prajurit menarik paksa dirinya keluar dari istana.
Permaisuri mengusap dada, ia harap semua bukti-bukti di penjara bawah tanah dapat terungkap sehingga mengetahui siapa yang bersalah sebenarnya.
***
Di belahan dunia manusia, Kakek Latua kedatangan tamu, dia adalah keluarga pihak Aliza, yang tak lain Ifa dan Ita, kedua gadis itu datang bersama Benny. Mereka juga membawa ahli spiritual yang tersohor di Kotanya.
"Kalian mencari Aliza?" tanya Kakek Latua menebak maksud kedatangan keempat tamunya itu.
"Benar, Kek. Kami mencari Aliza yang sudah menikah dengan penghuni Canai, apakah Dunia metafisika itu benar benar adanya? Apakah kami boleh kesana?" tanya Benny. Selain menginginkan Aliza, dia juga penasaran dengan kehidupan di dunia lain.
Kakek Latua menjelaskan kehidupan di Canai, tapi ketiag anak muda itu tak mempercayainya, berbeda dengan ahli spiritual itu, karena sudah memahami seluk-beluk dunia gaib, dia membenarkan semua cerita Kakek Latua.
"Apakah kalian bisa membuktikan itu? Kami hanya ingin melihat sepintas, buktikan kepada kami agar kedua gadis ini tidak khawatir lagi dengan keadaan Kakaknya," pinta Benny.
Kakek Latua menolak, namun Ifa dan Ita memohon sangat. Kakek Latua menjelaskan resiko-resikonya, tetap saja ketiga anak muda itu bertekad ingin melihat kehidupan di Negeri Canai.
Kakek Latua menyerah, dia mengindahkan permintaan ketiga anak muda itu. Meskipun resiko sangat besar, tapi dia sudah mengatakan dengan jelas bahwa dia tidak boleh di sangkut pautkan dengan keburukan yang terjadi nantinya.
"Ini yang dilewati oleh Kakak ku, Kek?" tanya Ita.
"Iya, dia sibuk mengambil foto tanpa sengaja melewati batas dimensi saat itu," kenang Kakek Latua.
Benny menyalakan kameranya, dia tak sengaja melihat seseorang melintasi di videonya, sejenak Benny tertegun lalu menganggap itu hanya halusinasinya saja.
"Sebaiknya kita cepat, kita harus melakukan ritual itu sebelum matahari terbenam," kata Kakek Latua memperingati. Langkah kaki tuanya sangat gesit memandu keempat tamunya itu.
"Banyak nyamuk," keluh Ita. Seketika Ifa melirik adiknya," Kuatin, demi mengembalikan Kak Aliza," ketus Ifa.
Tibalah mereka di gapura, suasana teramat sepi, di mata ketiga anak muda itu hanya gapura ada gapura berbentuk candi yang tua dan kotor. Banyak dedaunan kering disekitarnya, tak ada istimewa di pandangan mereka. Nun berbeda dari Kakek Latua dan Ahli spiritual itu, doa melihat ada cahaya pilar membatasi dimensi dunia manusia dan Canai.
__ADS_1
"Kalian duduk melipat kaki, tenangkan jiwa kalian, hilangkan amarah, kebencian dan perasaan buruk lainnya," kata Kakek Latua memandu mereka.
Benny saat itu enggan mematikan kameranya, diam-diam dia menyalakan kamera itu tanpa sepengetahuan Kakek Latua. Ia menginginkan meliput keadaan dunia lain yang sebenernya, dia berencana akan menjual berita itu ke publik. Mereka semua memejamkan mata lalu berkonsentrasi sesuai instruksi dari Kakek Latua.
"Fokus, dan rasakan seluruh angin dingin yang berhembus, ikuti mantraku,
Lakua temma talla ..
Lainnya temma tokka ..
Kita-kita mabukka ..
Bungka-bungka ."
Mereka membaca mantra itu sebanyak tiga kali, tidak ada yang boleh membuka mata, mereka hanya dapat melihat lewat mata batin saja.
"Rasakan, tunggu sejenak, jangan kalian membuka mata," ucap Kakek Latua.
Semilir angin dingin semakin kencang mengibas wajah mereka. Angin dan cahaya itu bersamaan menyilaukan mata mereka tapi tetap dengan menutup mata. Kakek Latua terdengar mengobrol dengan penjaga gapura lagi.
"Lagi-lagi kau, apa yang kau lakukan?" tanya penjaga Gapura yang kesal. Itu karena setiap saat Kakek Latua meminta dibukakan pintu dimensi Canai.
"Saya ingin memperlihatkan keajaiban Canai pada mereka, bolehkah Tuan?"
Penjaga Gapura itu tetap memperbolehkan, itu sudah atas izin Raja Canai, agar manusia mengetahui bahwa ada kehidupan jin yang mereka ragukan. Ada kehidupan dunia metafisika yang manusia sulit nalar kan dengan akal mereka. Kapasitas akal manusia terbatas dengan keajaiban Tuhan.
"Baiklah, kami akan membuka pintu dimensi," kata penjaga itu.
Suara angin ****** beliung begtu keras di hadapan mereka
. Tidak lama berselang, Negeri Metropolitan Canai nampak di mata batin di Benny, Ita, Ifa, dan Ahli spiritual itu. Mereka terperangah dengan keindahan kota yang jauh lebih modern itu. Kereta terbang dan pesawat mini melintas teratur di langit Canai, susunan kota rapi dan megah berlapis emas. Belum ada Negara di dunia manusia yang dapat menandinginya.
__ADS_1
"Hei! Manusia laknat! Dia melanggar pantangan!!" Teriak penjaga gapura kepada pria muda di samping Kakek Latua, itu tak lain adalah Benny.
Kakek Latua panik, Benny telah akan mendapatkan resikonya.