Jin Tampan Penghuni Canai

Jin Tampan Penghuni Canai
Bab 57


__ADS_3

Aliza saat itu kebingungan, ada banyak pertanyaan yang berkelebat dikepalanya. Khael sosok pertama yang ia lihat, Aliza menganggap itu hal aneh sebab tak ada satupun keluarga yang menemaninya.


"Kenapa aku sampai bisa kamu rawat, kita bukan keluarga 'kan?" tanya Aliza dengan suara yang masih berat.


Dokter muda itu tergugu, memandangi Aliza dengan tenang namun kepalanya mencari jawaban yang tepat untuk dijelaskan, Khael mengusap kepala Aliza untuk menujukkan bahwa Aliza dalam keadaan bahaya.


"Kepala mu ini membuktikan kau sedang dalam bahaya, kau datang kepadaku dengan keadaan terluka dan hampir mati, tak ada jalan lain membuat mu hidup selain menggantikan otak mu dengan otak jin yang sudah kami awetkan," jelas Khael.


Ia juga tidak ingin berbohong hanya karena perasaannya. Berharap Aliza tetap bersamanya walapun wanita itu masih ingin mengingat masa lalunya.


Aliza mengalihkan pandangannya ke sungai kecil, di taman bunga itu gemericik air tetap membawanya melihat masa lalunya. Aliza jngjn mengetahui dari mana ia berasal, siapa keluarganya, musuhnya, juga orang-orang yang mencintainya selain Khael.


"Miracle, kau tidak senang bersamaku?" tanya Khael.


"Aku senang, hanya saja.."


Khael menunggu Aliza melanjutkan kalimatnya, namun Aliza tak kunjung berkata apapun, perempuan bermata indah itu telah membisu.


"Aku mengerti apa yang kamu maksud, perlahan saja ya," sergah Khael lalu memeluk Aliza.


Khael menyembunyikan kepanikannya, dia sudah memiliki rencana untuk menikahi Aliza, jika perempuan itu mendesak ingin mengingat masa lalunya, tentu tak ada peluang untuk Khael memiliki Aliza. Khael tidak ingin patah hati, sudah cukup ia mengabdikan dirinya sebagai dokter, kini ia harus lebih berjuang untuk memperjuangkan cintanya saat ini. Aliza bakal hujan yang datang di kehidupan Khael yang gersang.


"Akan ku panggil Resi temani kamu disini, aku ada urusan sebentar," uang Khael, dia masuk ke rumah untuk memanggil pesawatnya.


Resi pun bergegas menemani Aliza di taman, sedangkan Khale masuk ke ruangan prakteknya. Dokter muda itu gelisah sebab Aliza sudah ingin mengingat masa lalunya.


"Apa aku harus membantu dia mengingat semuanya, haruskah aku mengajaknya ke Istana, lalu membawanya ke penjara bawah tanah, ssah.. " Khael mengusap wajahnya dengan kasar.


Bukan tak ingin mengembalikan Aliza semula di -tempatnya, dia sudah terlanjur ingin bersama Aliza, tidak mudah bagi Khael untuk mengubah rencananya. Ia ingin menjadi penyelamat dan pelindung Aliza, karena Khael tahu akan ada bahaya yang akan menanti Aliza bila kembali ke masa lalunya.

__ADS_1


"Kenapa kamu harus mau menginginkan itu Miracle.." Gumamnya.


Khael tak ingin Aliza berada di situasi yang bahaya, Khael menuju ke lab, mencari obat yang pernah ia buat yang sudah ia simpan sejak lama. Khael memeriksa cairan biru itu, ia berharap ramuan itu dapat mujarab. Obat itu dapat menghilangkan ingatan masa lalu di otak jin yang baru saja di transplantasi.


"Aku akan membuat momen baru bersama mu, Miracle."


Khael masuk ke dapur untuk membuat jus, dia mencampurkan jus itu dengan ramuan yang ia buat. Tak ada niatan jahat kepada Aliza, Khael hanya berusaha melindungi Aliza agar memulai hidup baru. Bgai Khael, orang yang Aliza yang dulu sudah tiada, dia yang sebagai dokter menyelamatkan hidup Aliza berhak memilikinya.


"Ini awal untuk kita bisa bersama," lirih Khael yang sudah bersiap dengan segelaa jus di tangannya.


Khael membawakan jus itu kepada Aliza, sementara Resi pamit agar Khael lebih leluasa mengobrol dengan Aliza.


"Aku membuatkan mu jus, ini sangat bagus untuk kesehatan mu," kata Khael.


"Tapi aku tadi sudah dibuatkan teh oleh Resi."


Karena tak ingin membantah Khael, Aliza meneguk jus itu tanpa ada rasa curiga, meneguknya tak bersisa. Khael bernafas lega, kini Aliza telah menjadi tanggungjawabnya, Aliza akan memulai hidup baru bersamanya.


Aliza merasakan ngilu di bagian kepalanya, efek dari ramuan pencuci otak yang dicampurkan e jus nya.


"Miracle, bolehkah aku memeluk mu?" tanya Khael.


Aliza mendelik, tanpa mendapat jawaban Khael memeluk Aliza dengan erat, entah mengapa gadis itu mengingatkannya dengan mendiang Ibunya.


"Dokter, aku sesak nafas.." Ucap Aliza ingin lepas dari pelukan Khael. Namun pria yang lebih darinya itu enggan melepaskan pelukannya.


"Aku menyukai mu Miracle.. Tetaplah bersama ku," bisik Khael.


***

__ADS_1


Kenras kembali menyerahkan bukti-bukti kepada Garret, tak ingin lagi jadi penerima hasil penelusuran mata-matanya, Garret turun tangan mencari jejak Tuan Paul. Garret bersama pengawalnya menyambangi penjara khsusus yang sudah dinaungi oleh keluarga Tuan Paul.


"Adakah yang Bibi ketahui dari perbuatan Tuan Paul?" tanya Garret. Walapun telah menjadi Raja, tetap saja Garret menghargai Rakyatnya yang lebih tua.


"Saya tidak tau yang mulia," sahut istri Tuan Paul.


"Jangan berbohong," timpa Kenras. Dia kesal bila ada yang membohongi Raja.


"Apakah Bibi tahu bahwa perbuatan suamimu ini jahat karena dia memiliki dalang kejahatan untuk orang lain, ada banyak suami Bibi yang sembunyikan dari Kerajaan," jelas Garret.


Istri Tuan Paul itu tetap pada pendiriannya, "Saya tidak tahu yang mulia, saya tidak pernah diberitahukan hal ini."


Kenras mengepalkan tangan, kesabarannya tidak sebesar Garret, namun dia belum diizinkan untuk ikut andil memaksa istri dan anak Tuan Paul.


"Jika Suami Bibi yak kembali, maka akan selamanya Bibi dan anak-anak ada disini, Bibi rela mengorbankan kehidupan anak hanya


"Saya tidak tahu, saya lupa apa saja yang kemarin di perbuatnya, ini sungguh yang mulia," tutur istri Tuan Paul.


Garret melirik ke Kenras, mengisyaratkan agar Kenras mengurus wanita paruh baya itu mengaku. Garret keluar dari tahanan, meningalkan Kenras juga beberapa prajurit lainnya. Kenras diam menatao tajam ke keluarga Tuan Paul.


"Apa keinginan kalian sesungguhnya? Kalian tidak senang dengan Raja? Atau ada hal lain, aku pikir tak ada penduduk Canai yang susah karena ekonomi, tapi karena hati yang ingin meraih sesuatu," kata Kenras. Dia meyakini bahwa Tuan Paul melakukan itu karena ingin meriah jabatan yang lebih tinggi dari sebelumnya.


Istri tuan Paul itu memutar mata malas, dia dan suaminya memiliki dendam tersendiri kepada Raja Harryan juga Permaisuri Flora. Hati mereka terluka sehingga Tuan Paul berani membelok dari aturan Canai, mendukung pula Trisia menyembunyikan Aliza.


"Kami akan mendeteksi kebohongan kalian, ada kursi listrik di luar, kalian yakin tidak akan mengakui saja?"


Istri Tuan Paul tetap akan menutup mulut, dia akan melindungi suaminya agar dapat membalaskan dendam mereka. Kenras mengeluarkan cambukan.


"Kalian tahu, istri Raja hilang, dan pintu dimensi hanya bisa dibuka oleh kepala penjaga, berarti ada yang bersekongkol dengan suamimu menyembunyikan istri Raja," lapar Kenras.

__ADS_1


__ADS_2