
Bayu dan Arif tercengang, nalarnya tak tak mendapat menjangkau kebenaran yang diceritakan Garret. Keduanya hanya mengangguk-angguk tanpa berucap sepatah katapun. Garret tahu, dia dianggap sedang berbual oleh kedua anak manusia itu.
"Percayalah, ini kebenaran, istriku berasal dari dunia yang sama dengan kalian, dia pernah bekerja di redaksi Revolusi."
Bayu dan Arif tahu redaksi yang dimaksud oleh Garret, mereka sudah mulai mempercayai ucapan pria bola mata biru itu.
"Lalu apa yang kami harus lakukan?" tanya Bayu.
"Bantu aku menyampaikan pesan pada istriku, tapi ini tidak akan gampang, kita butuh rencana yang matang," sahut Garret.
Bayu dan Arif mengiyakan saja, lagipula mereka melihat ada ketulusan di hati Garret, mereka mempercayai Garret akan membantunya pula agar keluar dari dimensi Canai. Bayu dan Arif diajak makan terlebih dulu, tetapi keduanya enggan untuk memakan hidangan lezat dari restoran itu.
Garret teringat dulu dengan sikap Aliza yang menolak makanannya, manusia berpikir, memakan makanan bangsa jin akan membuat mereka menetap di dimensi jin selamanya.
"Kami tidak ingin menjebak Manusia manapun, manusia lah yang terlalu penasaran dengan kehidupan kami, jadi makanan ini tidak ada hubungannya dengan pikiran kalian, percayalah .."
Perut Bayu dan Arif memang sudah sangat keroncongan, mereka terpaksa memakan makanan yang dipesan Garret. Keakraban itu berlanjut dengan beberapa penjelasan Garret tentang dimensi Canai.
"Tidak ada salahnya kau mematuhi aturan ini dulu, lagipula perempuan-perempuan Canai tidak banyak menuntut seperti di dunia kalian," jelas Garret.
Hukuman Bayu dan Arif tetap berlanjut, namun bisa dicegah jika keduanya menikahi gadis Canai.
"Kalian bisa kembali ke dunia kalian untuk sementara waktu jika kalian memilih menikah."
"Baik kami akan turuti itu, lagipula gadis disini semua cantik-cantik," kata Arif yang sedari tadi mengamati perempuan Canai yang lalu lalang di hadapan mereka.
Garret tersenyum masam, naluri laki-laki dari kalangan manusia memang melihat dari bentukan fisik. Berbeda dari pria di Canai, mereka akan melihat kecerdasan perempuan dari sudut pengetahuannya tentang universe. Kecantikan hal biasa dikalangan jin, tak menjadi prioritas utama.
Usai makan, Garret membawa Bayu dan Arif ke rumahnya, kedua mahasiswa itu hanya bisa terkesiap melihat penampakan rumah Garret yang begitu mewah.
__ADS_1
"Kita berasa hidup di dunia 2050, secanggih ini alat-alatnya," kata Bayu terperangah.
Garret memberikan fasilitas kamar yang mewah pada tamunya itu. Bayu dan Arif terenyuh melihat Dominic yang hanya di asuh oleh baby sitter, anak sekecil itu tidak mendapatkan kasih sayang dari Ibu kandungnya.
"Kasihan banget ya, Rif, Anak Garret itu," ujar Bayu.
"Kayaknya kita harus bantu dia, gimanapun anak itu keturunan manusia, sama seperti kita," timpal Arif.
Garret mendengar percakapan itu, dia bersyukur karena menolong manusia yang tepat. Garret memperlihatkan beberapa foto-foto gadis Canai yang ditawarkan ke Bayu dan Arif. Semua menawan, bahkan memiliki kualitas diri, terlihat dari cara-cara mereka berpakaian.
"Pilihlah, ini semua teman ku yang belum menikah," kata Garret.
Bayu dan Arif memilih beberapa foto untuk jadi Kandidat, justru rasa minder malah merasuki keduanya, kecantikan gadis-gadis itu tak sebanding dengan wajah dan kantong mereka yang pas-pasan.
"Boleh kami tahu? Bukankah di dunia jin itu juga memiliki Agama?" tanya Bayu. Dia sangat penasaran dengan kehidupan religius penghuni Canai.
Ini kali pertama Garret mendapatkan pertanyaan demikian, diantara kota-kota jin lainnya, Canai termasuk memiliki penghuni yang agamanya campur-campur. Ada yang kafir, dan ada pula yang beragama Islam.
Bayu berbisik-bisik pada Arif, mereka hanya ingin seorang wanita yang juga memeluk agama Islam. Garret pun memahami itu, dia akan mencarikan sosok gadis muslim Canai dari temannya.
.
Saat Bayu dan Arif berisitirahat di kamarnya, Trisula lagi-lagi datang untuk menemui Garret dan Dominic, rupanya keponakan permaisuri itu tak dapat mengendalikan perasaan rindunya. Garret tak Suak kehadiran Trisia, namun disisi lain, ada permaisuri Canai yang harus ia hargai.
"Aku hanya ingin melihat Dominic, boleh?" pinta Trisia.
Trisia menemani Dominic bermain, sementara Garret memilih mengunci diri di rumah kerjanya. Dia tak ingin lebih banyak memberikan pengharapan pada Trisia. Cintanya tak dapat terbagi, direnggut oleh wanita manapun selain Aliza.
***
__ADS_1
Aliza terbangun dari tidurnya, berkali-kali ponselnya berdering karena panggilan Ifa dan Ita. Aliza lagi-lagi mengabaikan, dia ingin menginap seminggu di hotel itu. Setelah memesan makanan, Aliza mendapatkan sebuah paket dari pihak pramusaji hotel. Pramusaji itupun hanya menyampaikan paket itu untuk Aliza tanpa tahu orangnya.
"Ini beneran untuk saya?" tanya Aliza.
"Iya, Bu. Kamar 78, atas nama Ibu Aliza," sahut pria itu.
Setelah pramusaji itu keluar, Aliza bergegas membukanya, dia terkejut dengan beberapa gambar Garret dan Dominic yang sedang melakukan berbagai aktivitas di rumah. Aliza terkesiap, dia mengamati keadaan di sekitar kamar hotel itu.
"Apakah ini foto dari Canai?" gumamnya kebingungan.
Aliza mengamati foto-foto itu dengan seksama, memang gambaran Garret dan Dominic sedang bermain di rumah mereka. Suaminya sedang mengajari Dominic berjalan.
"Ini kamu nak, kamu sudah besar .." lirih Aliza.
Pertumbuhan Dominic sangat sehat di foto itu, Aliza terenyuh, berapa bangganya pada Garret karena telah merawat buah hati mereka dengan sangat baik. Aliza keluar dari kamar hotel itu, turun ke lobby untuk mencari jejak pengirimnya. Namun resepsionis hanya mengatakan bahwa ada sosok perempuan yang menitipkan untuk disampaikan kepada Aliza.
"Mbak yakin ini dari perempuan?" tanya Aliza ragu.
"Yakin 100%, Bu. Tapi perempuan itu tak ingin menyebutkan namanya, pokoknya dia juga cantik banget," papar resepsionis itu.
Aliza berharap itu Garret yang memberikannya, tetapi bila keterangan resepsionis itu malah berbeda. Aliza masih berdiam diri, memandang kosong di lobby, tangannya masih menggenggam foto-foto itu.
"Perempuan itu siapa?" Aliza tak henti bertanya-tanya.
Aliza kembali ke kamar, namun sebelum ia kembali, foto-foto itu hilang satu per satu ditangannya, begtu saja tanpa ada sebab.
"Jangan, jangan hilangkan semua, sisakan aku satu," pintanya. Namun angin kecil itu berhembus, melenyapkan satu per satu foto Garret dan Dominic.
Aliza tak henti terkejut dengan keajaiban-keajaiban yang ia temui, mungkinkah itu usaha Garret agar dia tetap memberi kabar pada dirinya, pikir Aliza. Tersisa hanya satu foto lagi, Aliza memohon sangat agar foto itu tak dimusnahkan, namum sedikit demi sedikit foto itu musnah tertiup angin yang berasal dari Canai.
__ADS_1
"Garret, Dominic, huhuhu ..." Aliza kembali menangis, bersandar di tembok.