Jin Tampan Penghuni Canai

Jin Tampan Penghuni Canai
Bab 47


__ADS_3

Garret duduk menunggu Raja Canai, kata permaisuri Raja Canai sedang sakit, dia bahkan tak mampu untuk duduk menemui Garret. Anak angkatnya itu diminta langsung ke kamarnya saja, Garret pun mengindahkan perintah Ayah angkatnya. Raja Canai lemas serta pucat, karena berpikir keras, ia jatuh sakit. Raja Canai bahkan memikirkan untuk istirahat dari jabatannya sebagai Raja.


"Ratusan tahun saya menjadi Raja, memimpin Canai, tapi ini adalah puncak kelengahan ku karena menelantarkan semuanya," ucap Raja Canai. Garis keriput di pipinya menunjukkan banyak penyesalan di wajahnya.


Garret yang duduk disampingnya hanya manggut-manggut saja, sejak mengenal Raja Canai, Garret memang merasa Raja Canai selalu bingung dengan segala keputusan yang dibuatnya. Itu dikarenakan mengikuti aturan Canai dari ribuan tahun yang lalu, dimana Kakek moyangnya tak peduli dengan manusia.


"Garret ..Maafkan saya, karena kian terpisah dengan aturan bodoh itu." Raja Canai menyesal memisahkan Aliza dan Garret.


"Itu bukan salah Yang mulia, ini sudah aturan yang memang harus kami patuhi. Kami yang melanggar aturan itu," sahut Garret.


Raja Canai melirik ke permaisuri, ada banyak perundingan yang telah diskusikan bersama istrinya Raja Canai tak dapat memiliki keturunan karena ratusan tahun yang lalu, dia melanggar aturan untuk tidak mencintai manusia. Raja Canai tak dapat memiliki keturunan karena kutukan dari Kakeknya. Karena tak memiliki anak kandung yang yang dapat ia percaya, kepercayaan itu diberikan sepenuhnya kepada Garret.


"Mampukah kau memimpin Canai? Menggantikan ku?" tanya Raja Canai.


Der!


Pertanyaan yang seolah ingin meledakkan jantung Garret. Ayah angkatnya memintanya untuk menjadi memimpin Canai. Baginya itu tidaklah masuk akal, dia hanya jin biasa yang dulunya manusia, hanya seorang prajurit Inggris yang terseret ke dimensi Canai.


"Yang mulia, jangan bicara seperti itu, saya ingin yang mulia selalu sehat, dan memimpin negeri Canai."


Raja Canai menggelengkan kepalanya, dia mengusap tangan Garret. Berusaha meyakinkan Ayah satu anak itu dapat menggantikan perannya sebagai pemimpin Canai. Permaisuri juga sudah setuju dengan hal itu, tetapi semua tentu tidak mudah, akan ada banyak protes yang mungkin saja terjadi.


"Ku mohon, Garret. Saya lelah, saya ingin menikmati istirahat bersama permaisuri Flora, kami ingin ke istana kedua, menikmati kehidupan tanpa ada peraturan kerajaan, jika kau bersedia kita akan adakan rapat Minggu depan," pinta Raja Canai.


"Tapi yang mulia .. saya juga tidak yakin dengan amanah itu," kata Garret.


"Kau memiliki kepekaan, jiwa sosial yang tinggi, dan memiliki emosional, dengan empati yang sangat besar, kau layak menjadi pemimpin Canai menggantikan ku."

__ADS_1


Garret melirik sejenak ke permaisuri, wajah sendu Ibu angkatnya itu mengangguk pelan agar Garret memikirkan penawaran Raja. Garret pun meminta waktu untuk memikirkan itu. Setelah mendengar permintaan Raja Canai, Garret enggan mengajukan permintaannya untuk berpindah dimensi. Padahal hari itu ia ingin berpindah guna mencari Aliza.


Sebelum keluar dari kamar Raja, permaisuri menyapanya, dia juga ingin meyakinkan Garret agar bersedia menjadi pemimpin Canai.


"Saya yakin, kau akan bisa merubah semuanya lebih damai lagi, cukup kau yang menjadi korbannya, kau harus bisa menyelamatkan kepedihan penduduk Canai," ujar Permaisuri Flora.


Garret keluar dari kamar Raja dengan membawa setumpuk kegelisahan, bayang-bayang menjadi Raja juga menjadi beban baginya. Dia belum menemukan Aliza, tetapi tanggung jawabnya akan bertambah lagi, tidak mudah menjadi pemimpin di negeri Canai yang memiliki peradaban modern terbesar di dunia metafisika.


Di luar istana ada Maner, Ibu Trisia itu meminta bertemu dengan anaknya. Garret mengintip di balik tiang beton, dia mendengar percakapan Bu Maner dengan prajurit istana. Garret ingin membantu tetapi jika Trisia sampai keluar dari penjara, tidak menutup kemungkinan akan timbul masalah baru lagi.


"Biarkan saja, semoga cara ini membuat Trisia jera berbuat seenaknya," gumam Garret.


Ketika hendak melewati kerumunan prajurit, Garret di sapa oleh mereka. Sejenak Garret mengobrol-ngobrol berbagai hal, termasuk keberadaan Trisia di penjara.


"Sepertinya Nona Trisia tidak akan berubah, buktinya dia hampir membunuh tahanan wanita itu, bahkan tahanan wanita itu kepala pecah dipukulkan gelas Tuan .." Cerita dari salah seorang prajurit kepada Garret.


"Iya, tahanan wanita itu bahkan habis di operasi, kasian Tuan .."


Garret berinisiatif untuk bertemu tahanan wanita yang diceritakan oleh prajurit itu.


"Antarkan aku bertemu dengan tahanan yang kau maksud, aku ingin memberikan dia semangat untuk sembuh," pinta Garret.


Mereka membawa Garret menuju ke klinik tahanan, di luar halaman ada dokter Khael sedang duduk dengan jajaran pasien. Dokter Khael sedang memberikan semangat untuk kesembuhan buat pasiennya.


"Tuan Garret, apa yang membuatmu kemari?" tanya Khael menyapa.


"Bagaimana kabarmu dokter muda? Tampaknya hari-hari sudah sangat sibuk," tanya Garret.

__ADS_1


Khael sedikit demi sedikit berbincang dengan Garret, tiba saatnya Garret ingin bertemu dengan tahanan wanita yang dimaksud oleh prajurit, namun tiba-tiba ponselnya berdering, ternyata itu Dominic yang meneleponnya.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya Garret pada Dominic dibalik telepon.


"Aku jatuh dari tangga, Yah. Pulanglah, kakiku luka," mendengar penuturan Dominic, seketika Garret panik.


"Khael aku harus pulang sekarang, anakku terjatuh, kapan-kapan kita lanjutkan pertemuan ini lagi, ya .." Garret menepuk-nepuk pundak Khael.


Garret meninggalkan klinik tahanan tanpa mengetahui tahanan wanita itu adalah istrinya, Aliza. Khael pun tak tahu dengan kehidupan pribadi Garret, mereka hanya saling mengenal sebatas kolega di istana, dokter muda itu tak mengenali perempuan yang telah dinikahi Garret.


Di penjara bawah tanah, ada Bu Maner yang menemui anaknya. Dia ternganga melihat keadaan anaknya yang sungguh menyedihkan. Trisia teramat kumal, matanya bengkak karena menangis terus-menerus. Melihat kedatangan Ibunya, Trisia memohon agar segera dikeluarkan dari penjara itu.


"Ibu, ku mohon .. keluarkan aku cepat dari sini, aku bisa gila Ibu," pinta Trisia.


"Sayang, kamu sudah makan?"


"Aku tidak ingin makan, aku mau keluar Ibu, sampaikan kepada Bibi Flora, aku tidak tahan di sini."


Bu Maner tak tega melihat anaknya, tetapi dia tidak memiliki kuasa untuk itu. Permaisuri Flora tak memberikannya hak lagi untuk melakukan kebebasan di istana.


"Berjanjilah, setelah aku keluar dari sini, kita akan balas semua perbuatan mereka," pinta Bu Maner. Ia merasa sudah dipermalukan oleh hukuman permaisuri Canai.


Trisia mengangguk, dia berbisik kepada Ibunya, mereka menyusun rencana untuk mencelakakan Aliza setelah itu Permaisuri Flora. Bu Maner akan terlebih dulu mencelakakan Aliza yang saat itu ada di klinik tahanan.


"Ibu mengerti 'kan maksudku?"


Bu Maner tahu yang harus ia lakukan kepada Aliza, jika rencana anaknya itu gagal, maka dia akan memiliki rencana lain untuk menyenangkan anaknya. Bu Maner sudah terlanjur sakit hati kepada adik angkatnya.

__ADS_1


__ADS_2