Jin Tampan Penghuni Canai

Jin Tampan Penghuni Canai
Bab 50


__ADS_3

Garret dengan beberapa pengawalnya datang ke istana, para pengawal istana sudah mengetahui bahwa akan ada pertemuan khusus Garret dengan Raja malam itu. Permaisuri sudah membawa Raja di ruangan khusus. Ada penasehat dan beberapa bagian kerajaan yang dikumpulkan di tengah-tengah Raja. Garret masuk dengan membungkukkan badan memberi hormat.


"Saya datang yang mulia," ujar Garret.


Raja Canai melirik sejenak ke permaisuri Flora, isyarat bahwa Garret telah membawa keputusannya. Penasehat kerajaan telah mengantongi beberapa surat keputusan mutlak dari Raja Canai.


"Bagaimana? Kau menerima tugas itu?" tanya Raja Canai.


Garret menarik nafas dalam-dalam, berat tapi untuk kemajuan Canai, dia harus berperan menerima tugas dari Raja.


"Saya bersedia yang mulia, saya bersedia mengembangkan tugas mengabdikan diri kepada Negeri Canai," jawab Garret.


Juru bicara pun berdiri mewakili Raja Canai saat itu. Dia meminta Garret untuk naik di samping singgasana Raj Canai.


"Seperti yang sudah yang mulia Raja putuskan, Garret akan menjadi pemimpin Canai menggantikan Baginda Harryan."


Pihak kerajan yang berasal dari parlemen tercengang, mereka belum mendengar tugas apa yang telah Raja berikan kepada Garret. Raja Canai memberi perintah kepada juru bicaranya agar mengatakan informasi penting. Di tengah larutnya malam, juru bicara mengumumkan ke seantero Canai bahwa Raja akan turun dari tahtanya.


"Kau harus bersiap, apapun langkah mu, tentu akan membawa pengaruh baik untuk Canai, aku percaya padamu .." Raja Canai mengucapkan itu untuk kesekian kalinya..


Raja Canai dan permaisuri Flora akan menikmati istirahatnya, tak lagi memikirkan perkembangan serat kesejarahan Canai, ratusan tahun bukan waktu yang mudah baginya yang sudah berusia lanjut. Namun diantara pihak kerajaan ada yang menentang itu secara diam-diam, mereka iri dengan keberhasilan Garret karena hanya prajurit manusia yang akan menjadi penguasa di Canai.


"Kenapa harus dia?" sebagian para parlemen kerajaan tak menyetujui itu.


"Kita lihat saja nanti, apa yang anak muda itu mampu lakukan, selain Sibu sebagai menteri, dia juga hanya sibuk mencari istrinya yang manusia itu," tambah salah seorang dari mereka dengan berbisik-bisik.


Kelima anggota parlemen itu sangat tidak setuju, tetapi mereka hanya bisa mengikuti aturan yang ada, keputusan Raja Canai adalah keputusan mutlak, jika Raja sudah menyerahkan tahtanya kepada seseorang, maka seseorang itu berhak mengaturnya dari awal.

__ADS_1


"Mungkinkah ada perombakan kabinet nanti?" mereka bertanya-tanya. Mereka tahu bahwa Garret sosok yang tegas dan cerdas, ada banyak yang Garret tidak senangi dalam sistem pemerintahan Canai.


"Diam, kita diam saja," sahut salah satu dari mereka.


Raja Canai memutuskan segera melakukan pelantikan esok depan para Rakyat Canai, dia terburu-buru melakukannya karena ia yakin akan ada banyak suara sumbang turut membuat kerusuhan.


"Garret, bersiaplah.. Aku bangga padamu," ucap Permaisuri.


Sejak mengangkat Garret sebagai anaknya, pria keturunan Inggris itu tak pernah menjadikan dirinya istimewa. Garret bahkan tidak berniat tinggal di istana, dia memilih untuk tinggal di rumahnya sendiri. Garret juga tidak pernah menggunakan nama Raja Canai untuk kepentingan pribadinya. Sejak terjebak pada tahun 1930, Garret senantiasa berkelakuan baik.


"Terimakasih yang mulia, aku tidak mengecewakan kalian."


Pengumuman itu mengejutkan seluruh penduduk Canai, mereka tercengang karena baru kali ini seorang keluarga kerajaan lepas tahta karena tak sanggup melanjutkan tugasnya. Di tambah lagi yang akan mengganti adalah Garret, anak angkat dari Raja Canai.


Berita-berita itu telah sampai ke beberapa orang-orang yang mengenal Garret, termasuk ke Ibu Trisia, Manner. Bu Manner mendelik melihat berita dari TV nasional. Pria yang sempat dekat dengan anaknya akan menjadi penguasa Canai, menjadi orang utama di Canai, tentu itu menjadi kabar baik untuk dirinya adan Trisia.


Suaminya yang mendengar itu hanya mengerutkan alis, ia tidak yakin jika anaknya dapat menjadi pendamping Garret, secara dia memahami yang dapat menjadi Ratu hanyalah perempuan cerdas dan memiliki kepribadian baik. Seorang Permaisuri Flora saja di tentang menjadi Ratu dulu, karena tidak memenuhi standar sebagai Ratu oleh keluarga pihak kerajaan.


"Pa, bantu aku keluarkan Trisia dari penjara bawah tanah, gunakan kekuatan pemerintahan kita, Papa 'kan termasuk orang berjasa kemajuan teknologi," pinta Bu Manner.


Ayah Trisia saat itu menolak, bukan tidak mengasihani anaknya, tetapi Trisia perlu diberikan hukuman agar jera, pikirnya.


"Kenapa diam sih? Anak kita loh di penjara," ketus Bu Manner.


"Ck, dia itu dipenjara atas kesalahannya, nantilah jika dia sudah menyadari dan mau berubah, kiat akan bantu dia, aku akan menemui Raja," sahut suaminya.


"Kamu dari dulu tidak pernah mendukung Trisia, dia hanya ingin menikahi Garret, apa salahnya? Lagipula dulu dia sangat dekat dengan Garret," ketus Bu Manner.

__ADS_1


Bu Manner tahu jika suaminya selalu mengikuti adab keadilan, tentu dia tidak akan meloloskan rencananya begitu saja. Bu Manner pun meminta sopirnya agar esok pagi ia harus ke istana lagi sebelum pelantikan Garret.


Berita itu di dengar oleh dokter Khael pula, saat itu Khael ada di rumah, duduk mengawasi Aliza. Khael tidak menyangka Garret bersedia menjadi Raja. Hanya beberapa kali bertemu Garret di pesta kerajaan, Khael yakin pria itu memiliki kepantasan menjadi pemimpin.


"Dokter, Miracle sudah sadar," seru perawat yang mendampinginya.


Terdengar suara gemericik dari mulut Aliza, dia sudah ada kemajuan, perlahan membuka matanya. Dokter Khael objek pertama yang Aliza lihat, sosok yang asing baginya tapi menyambutnya dengan senyuman penuh ketulusan


"Tolong kamu sediakan air hangat untuk di usapkan di tubuhnya," pinta dokter Khael.


Aliza sudah melakukan berbagai gerakan tangan.


"Kau sudah sadar, jangan memaksakan diri," kata dokter Khael.


Aliza meneliti disekelilingnya, rumah mewah, ia berusaha mengingat apa yang telah terjadi, namun tak ada satupun ingatan yang dapat ia kenang.


"Hai, kau melihatku 'kan?" tanya Khael.


Aliza tak bergeming, dia memandang Khael dengan mimik kebingungan, dokter Khael tahu kesadaran Aliza belum sadar sepenuhnya. Dia pun berinisiatif menyuntikkan obat agar Aliza tidak merasa pusing lagi.


"Sisa pemulihan lagi, jangan berpikir lebih dulu, namaku dokter Khael, yang sudah menangani mu," ujarnya.


Aliza tetap saja bungkam, dia tak melepaskan pandangan dari Khael. Dokter muda itu mengusap pelan kepala Aliza yang dilapisi perban, seolah menularkan kasih sayang. Khael tahu Aliza butuh waktu menyusun memori lamanya, menyusun kalimat sebab kinerja otaknya sudah berbeda dari manusia.


"Aku panggil kamu Miracle untuk sementara, kau boleh tinggal di sini Miracle, bersamaku.."


Mendengar itu Aliza mengukir senyum, dokter Khael tertegun, senyuman itu benar-benar indah di matanya. Aura wajah Aliza sangat meneduhkan bagi setiap pasang mata yang melihatnya.

__ADS_1


"Kau senang? Aku juga senang kau ada disini," kata Khael.


__ADS_2