
Aliza duduk menyapa Bayu dan Arif. Senyumnya dipaksa untuk merekah demi menghargai kedua tamunya itu.
"Kalian ada urusan apa?" tanya Aliza.
Bayu dan Arif saling berpandangan sejenak, mereka melihat keadaan cukup aman, barulah Bayu memulai menyampaikan pesan Garret pada Aliza.
"Kak, boleh tidak, Kakak lebih kesini duduknya, kami mau sampaikan ini tentang Kak Garret," pinta Bayu.
Deg!
Aliza tersentak, nama Garret yang selalu di tunggu di dengar olehnya dari orang lain. Dia melirik ke arah kamarnya, Aliza yakin dibalik tembok ada Ita yang akan menguping pembicaraan mereka. Aliza megambil pulpen dan buku di dalam laci, dia menuliskan kalimat agar Bayu mengajaknya untuk keluar meneliti. Anggukan oleh Bayu pertanda ia menyetujui itu.
"Kak, sesuai dengan persetujuan Kak Aliza tempo hari, kita harus meneliti di salah satu rumah warga tersebut, boleh Kak antar kami kesana?" tanya Bayu dengan suara nyaring.
Ita yang dibalik tembok mendengar itu, dia nampak dengan wajah yang panik, sangat tidak setuju jika Kakaknya pergi bersama kedua mahasiswa itu.
"Aku tidak setuju kalau Kak Aliza ikut," protes Ita.
Aliza yang dongkol pada adiknya beranjak menampar Ita.
Plak!
"Jangan pernah ikut campur lagi urusan Kakak, aku tahu kamu kerjasama dengan pria itu! Kamu adik yang tidak tahu berterimakasih!"
Aliza mengajak Bayu dan Arif ikut bersamanya, mereka pergi dengan menggunakan mobil Aliza. Sementara Itu terdiam karena shock mendapati respon Kakaknya yang sudah tegas.
Di mobil Bayu menceritakan awal mulanya dia terjebak di dimensi Canai, ditolong oleh Garret hingga dia dinikahkan dengan gadis Canai. Tiba Aliza menepikan mobilnya, dia berhenti untuk memastikan keadaan Garret dengan anaknya. Bahkan Bayu pun juga menceritakan bahwa Sania juga mengunjungi Garret dan Dominic.
"Mereka baik-baik saja, Kak. Tap Dominic selalu mencari-cari Kak Aliza, dia sudah pandai jalan, bahkan Kak Garret selalu menyebut nama Kak Aliza," papar Arif.
__ADS_1
Aliza terenyuh, dia tak dapat berkata-kata untuk menjelaskan kerinduannya.
"Kak, Kita coba ke sana lagi, waktu kamu hanya seminggu disini, apa salahnya Kak Aliza mencoba," usul Bayu.
Aliza berpikir sejenak, jika ia kembali ke rumahnya, akan sulit baginya untuk keluar dari sana, dia harus tetap berada di luar rumah sampai tiba waktunya Bayu dan Arif kembali ke Canai.
"Atau kami tidak perlu lagi menunggu waktu itu, aku akan pamit dari keluarga ku, kita akan sama-sama ke Canai, esok pagi, Kak." Bayu mengatakan keputusannya.
Dia dan Arif takut jika menunggu waktu itu, malah akan menemukan situasi yang tak mendukung hingga menghalanginya kembali ke Canai. Mendengar itu, Aliza sangat setuju, Aliza tak memiliki alasan kuat lagi untuk bertahan di dunianya, kedua adiknya tega mengurungnya seperti manusia yang terkena gangguan jiwa, padahal dia hanya butuh dimengerti sebagai sesama perempuan.
"Malam ini aku akan menginap di hotel, kita akan bertemu di terminal, semoga kita dilancarkan perjalanannya," ucap Aliza penuh harap.
Bayu kembali kerumahnya, begitupula dengan Arif. Mereka memberikan wanti-wanti pada keluarganya jika kepergiannya tak kembali lagi, maka kirimkan saja takziah untuknya sebagai tanda penghormatan terakhir. Mbak Kakung Bayu tak menyetujui itu, dia sedang berusaha agar cucunya dan Arif lepas dari ramuan pembunuh dari Canai.
"Mbah tidak setuju!"
"Mbah jangan membuat semua makin ricuh, ini adalah keputusan ku, aku akan hidup di suatu tempat yang damai," kata Bayu.
"Kamu pikir kami tenang memikirkan mu? Kami tersiksa merindukan mu nantinya, jangan membuat keputusan sendiri tapi melukai hati Ibumu dan Bapak mu, kami juga," sahut Mbahnya.
Bayu melihat Ibunya menangis, inilah yang dikawatirkan Garret ketika mereka keluar dari dimensi Canai, akan ada tangisan keluarga yang memberatkannya untuk kembali.
"Tapi Mbah, kita akan saling sapa.jika diberi kesempatan, biarkan aku pergi dengan tenang," pinta Bayu.
Mbah Kakung tetap tidak setuju, dia akan mencari cara pengobatan yang dapat memulihkan jati diri Bayu sebagai manusia. Mbah Kakung melirik ke anak laki-lakinya semua, mereka memiliki rencana agar mengelabui Bayu.
Bayu yang masuk ke kamarnya mendengar pintunya di paku, seluruh jendelanya juga ikut di paku agar tak dapat keluar dari rumahnya. Bayu yang panik berteriak agar keluarganya berhenti melakukan itu, tetapi mereka tetap saja mengurung Bayu agar tak memilih kembali ke Canai.
"Jaga Bayu, Jahan sampai lepas, kita tidak boleh membiarkan dia kembali ke Negeri Jin itu." Mbah Kakung tak ingin cucunya di perbudak oleh bangsa jin.
__ADS_1
Bayu menelpon Arif, dia meminta agar sahabatnya itu memberikan bantuan.
"Aku sangat ingin kembali ke Canai, Rif. Bagaimana pun ada istriku juga di sana, aku harus tanggung jawab sebagai suaminya," tutur Bayu gemetaran.
Arif panik, untung saja dia belum pamit pada keluarganya, jika keluarganya tahu, tentu dia akan di kurung seperti Bayu. Untuk kembali ke Canai dengan tanpa drama, Arif memtuskan pamit hanya menuliskan surat untuk keluarganya. Dia meletakkan surat itu di atas kasurnya lalu mengendap-endap keluar dari rumah.
***
Garret duduk di balkon rumahnya, setelah menidurkan Dominic, dia memilih bersantai melihat keindahan Kota Canai dari atas balkon. Dari bawah dia melihat ada Trisia melambaikan tangan padanya, gadis cantik itu tampaknya meminta dia masuk ke rumah. Garret terdiam, sesaat dia mengabaikan Trisia, tetapi rasa kasihan nya lebih besar ketimbang egonya saat itu, Garret pun meminta asisten rumahtangganya untuk membukakan pintu untuk Trisia.
"Hai, sendiri saja, kita keluar yuk, mumpung Dominic sudah tidur," kata Trisia mengajaknya untuk bersenang-senang malam itu.
Garret menggelengkan kepala, dia tak ada niatan untuk keluar berhura-hura meninggalkan anaknya di rumah bersama asistennya.
"Kenapa? Kamu sekali-kali menghibur diri biar tidak memikirkan yang tidak-tidak, santai lah sejenak, yuk .."
Garret tak menggubrisnya, dia malah memejamkan matanya, berpura-pura tertidur malam itu. Trisia yang terpesona dengan ketampanan Garret, berani mencium pipi pria itu. Garret terkejut membuka matanya.
"Apa yang aku lakukan?" tanyanya dengan nada protes.
Trisia melingkarkan tangannya, dia memandang Garret dengan tatapan menggoda.
"Aku mohon, aku rela menjadi budak mu semalaman, aku rela .." ucapnya.
Naluri lelaki Garret sungguh di uji dengan kehadiran Trisia setiap saat. Garret mulai terbawa suasana, dia bahkan tak menolak kancing baju satu persatu di lepas oleh Trisia.
"Kita ukir malam indah tanpa hubungan," bisik Trisia lagi.
Trisia mulai mengecup dada Garret yang bidang, Ayah Dominic itu hanya memejamkan matanya. Dia menikmati rangsangan Trisia yang menggetarkan hasratnya. Trisia mulai nekat membuka bajunya sendiri, dia memakai bikini lalu bergoyang sensual di hadapan Garret.
__ADS_1