Jin Tampan Penghuni Canai

Jin Tampan Penghuni Canai
Bab 29


__ADS_3

Aliza kembali ke rumah, Ifa dan Ita menyambutnya dengan pelukan, menunjukkan kekhawatiran pada Kakaknya. Aliza berlalu begitu saja masuk ke dalam kamarnya. Melihat peta Desa Kunan yang tergeletak di atas meja. Mengusap dengan perlahan, matanya menyorot titik hutan Canai, meskipun di gambar itu hanya terlihat hutan lebat, tetapi Aliza membayangkan lagi Kota Canai yang begitu indah dan megah.


"Aku ingin ke sana lagi, hidup bahagia di sana, disini sangat hampa .." lirihnya.


Aliza yang lelah meminum obat tidur lagi, dia ingin tidur lebih lama agar bertemu Garret dan Dominic di alam mimpi, kehidupan nyata terlalu sulit ia lewati seorang diri. Tidak lama berselang, Aliza tertidur pulas sembari memeluk peta pulau Kunan.


Di luar ada Ifa dan Ita, mereka kedatangan Benny, pria itu datang membawa bunga untuk diberikan kepada Aliza, karena tak sanggup lagi menahan kelakuan Kakaknya yang sudah tak normal, Ita pun menceritakan keadaan masa lalu Aliza pada Benny. Mulai dari pernikahannya dengan Garret hingga pernikahan kontrak pura-pura dengan Fuad.


"Hah?! Ini bukan cerita belaka 'kan, Dek?" tanya Benny tercengang.


Ita menutup mulutnya, agar percakapan keduanya tak didengar Aliza dan Ifa, dia hanya berusaha agar Benny dapat memberikan jalan keluar dari permasalahan Aliza.


"Ini beneran, Kak! Sulit masuk ke nalar, tapi kenyataannya seperti itu, aku bahkan pernah bertemu dengan suaminya yang dari Canai," tutur Ita dengan suara pelan.


Benny menggelengkan kepalanya, sulit mempercayai Ita tetapi melihat kondisi Aliza yang sangat depresi memungkinkan itu semua, batinnya. Benny pernah mendengar kehidupan dunia lain yaitu kehidupan metafisika yang banyak diragukan orang-orang, bahkan kehidupan universe tentang paralel pun seringkali di bahas di dunia sains.


"Lalu bagaimana kabar dari kehidupan sana? Ehs, ini kita seperti sedang berbicara halu, tapi aku merasa kamu benar," kata Benny berusaha mengimbangi cerita Ita.


"Entahlah, Kak. Suaminya, berkorban meninggalkan Kak Aliza karena demi tak meninggalkan kami dengan Ibu, bahkan dia pergi tanpa pamit dari Kakakku, pintu dimensi ke dunianya pun di tutup untuk Kak Aliza, itu Kak Garret lakukan agar Kak Aliza tetap hidup di dunia kita," jelas Ita, ada kesedihan bila mengingat kebaikan Garret pada keluarganya.


Benny tertegun, turut bersimpati dengan kisah cinta Aliza dengan Garret. Meskipun dia mulai menyukai Aliza, tetap saja dia tahu kesetiaan Aliza begitu kuat terhadap suaminya.


"Jadi mereka sudah terpisahkan? Maksudnya sudah terpisah?" tanya Benny.


"Pikirkanlah, Kak. Beda Negara aja kadang sulit, beda agama aja juga sulit, apalagi ini beda dimensi, beda dunia, dunia yang tidak mudah dikunjungi, dengan cara uang atau apapun itu," ketus Ita.

__ADS_1


Benny mengangguk-angguk, benar yang dikatakan Ita, semua itu telah berakhir, kini dia harus lebih berusaha untuk menyembuhkan luka Aliza, setelah itu menggaet hatinya. Tipe wanita seperti itu yang ia cari, selain cerdas, Aliza memiliki kesetiaan tinggi terhadap pasangannya.


Benny menyusun rencana berama Ita, akan ada kejutan yang akan ia berikan pada Aliza, dan itu tanpa sepengetahuan dari Ifa. Mereka akan berpura-pura membantu Aliza menemukan titik terang padahal niatnya untuk melupakan segala tentang itu.


"Kita harus berhasil kali ini, setidaknya aku harus lebih akrab dengan Kakakmu," kata Benny.


***


Bayu dan Arif melongok dengan kehadiran Trisia di rumah Garret, wajah cantik Trisia menakjubkan di mata keduanya. Mereka sampai terheran mengapa Garret teka tergoda dengan kehadiran Trisia yang selalu menunjukkan perasaan cintanya.


"Kak, dia cantik loh," kata Arif menggoda Garret.


"Terus? Kamu mau aku nikahkan dengannya?" kata Garret balik bertanya.


Bayu menjitak kepala temannya itu, merasa segan karena ikut campur dengan permasalahan pribadi Garret.


Trisi sibuk bermain dengan Dominic, sesekali melirik ke arah Garret dan kedua tamunya. Dia berharap, perlakuannya dapat menyentuh hati Garret, mau selama bagaimanapun ia menunggu, Trisia akan tetap berjuang demi mendapatkan hati pria tampan itu.


Tiba-tiba ada suara bel berbunyi, tampaknya Garret kedatangan tamu lagi. Pengasuh Dominic beranjak membuka pintu utama. Dia melihat sepasang suami-isteri sedang menggendong anak kecil perempuan.


"Ini rumah Tuan Garret?" tanya pria itu.


"Ita, Tuan. Tuan Garret ada didalam," ujar pengasuh Dominic.


"Saya Sania dan Rio, beritahu dia," kata Sania. Mereka mengunjungi Garret untuk melihat keadaan Dominic.

__ADS_1


Pengasuh itu masuk memberitahu Garret, betapa senangnya pria itu kedatangan sahabat Aliza, kedatangan Sania dan Rio seolah mereka mempererat hubungan kekeluargaannya, meskipun itu tanpa Aliza. Garret membawa Sania dan Rio keruang keluarga.


"Aku mau lihat keadaan keponakan ku," kata Sania.


Sanja terkejut dengan kehadiran dua anak manusia itu.


"Me-mereka itu .." lirih Sania menunjuk ke arah Batu dan Arif.


Garret menjelaskannya, Sania menyempatkan diri menyapa Bayi dan Arif, menjelaskan agar kedua pemuda itu tidak suah terlalu takut hidup di Canai, karena penghuninya rata-rata sangat baik. Setelah itu, perhatian Sania berpusat pada Trisia, gadis yang sedang memangku Dominic. Dia melihat cara Trisia menatap Garret sangat berbeda dari tatapan pada umumnya.


'Apakah dia pacaran baru Garret?' lalu kenapa dia masih mengharapkan Aliza,' ucapnya dalam hati.


Garret tahu apa yang dipikirkan Sania kala itu, sebagai sahabat istrinya, tentu Sania kurang nyaman dengan kehadiran Trisia.


"Dia hanya keluarga kerajaan yang selalu memantau Dominic, aku tidak ada hubungan dengannya," jelas Garret.


Sania berusaha mengerti itu, namun pemahamannya tentang pria tak mudah disingkirkan begitu saja dengan penjelasan Garret, Sania khawatir kehadiran Trisia menjadi alasan Garret melupakan Aliza.


"Sayang, jangan ikut campur, kita fokus ke anak Aliza saja," bisik Rio pada istrinya.


Tetap saja Sania terusik dengan kehadiran Trisia, seolah Trisia menunjukkan dialah nyonya besar di rumah itu. Menyapa sinis Sanja yang menggendong Dominic.


"Garret, aku akan buatkan minum untuk kedua tamu kita," kata Trisia menawarkan diri. Sesekali melirik ke Sania, dia sudah tahu manusia itu adalah sahabat dari istri Garret.


Sania mengajak Dominic bermain dengan putrinya, matanya berkaca-kaca karena melihat darah daging Aliza itu, dia tak bisa membayangkan betapa sakitnya hati Aliza jauh dari buah hatinya. Sania tak hentinya mengusap, menciumi Dominic.

__ADS_1


"Sabar anak sayang, ya. Cepat atau lambat, kamu akan bertemu Ibu Aliza, Ibumu pasti merindukan kamu juga sayang," ujar Sania pada Dominic.


Sania menghela nafas, ingin rasanya membawa Dominic ke rumahnya, mengurus Dominic seperti anak kandungnya sendiri. Ada banyak kebaikan Aliza yang ingin ia balas lewat merawat Dominic. Namun ia tahu, Garret tidak mungkin menginginkannya.


__ADS_2