Jin Tampan Penghuni Canai

Jin Tampan Penghuni Canai
Bab 42


__ADS_3

Trisia yang kesakitan memanfaatkan kesempatan itu untuk menjatuhkan Aliza lagi, di hadapan prajurit istana Trisia mengeluhkan sakitnya. Aliza tersenyum miring, dia cukup puas memberikan pelajaran kepada Trisia.


"Kalian bikin keributan di penjara ini!"


Trisia menundukkan wajahnya, nyalinya ciut bila berhadapan dengan prajurit penjaga penjara. Aliza harus membela diri, ia menunjuk ke arah gambar yang di dinding.


"Tuan, mereka menggambar di dinding, mereka ingin memfitnah saya," ujar Aliza.


Trisia membelalakkan matanya, kalah cepat dengan Aliza yang ingin memainkan peran itu.


"Tidak, dia yang menggambarnya, itulah penyebab saya marah karena dia telah menghina Bibi saya," sahut Trisia berkilah.


Kelima prajurit itu tercengang melihat gambar yang dimaksud Aliza, gambar permaisuri Canai yang polos tidak memakai sehelai kain, gambar yang sangat menghina permaisuri.


"Siapa yang melakukan ini?!" tanya prajurit itu membentak.


Aliza sab Trisia saling menunjuk ke satu sama lain, Aliza tetap ingin membela dirinya, sedangkan Trisia tetap pada pendiriannya karena tak ingin perbuatannya di ketahui oleh siapapun. Prajurit itu kebingungan, meskipun mereka sedang murka, tetap saja tak berani menjatuhi hukuman tanpa adanya bukti.


"Sambil menunggu bukti, kami memiliki hak untuk mengambil kesimpulan untuk sementara, Maaf Nona Trisia, untuk sementara Nona harus masuk bersama Aliza di penjara ini, kami akan membuat laporan pada pihak Istana," jelas prajurit itu.


"Saya tidak mau, kalian jangan macam-macam ya, kalian akan mendapatkan sanksi kalau sampai ..ahhh..."


Prajurit itu memaksa Trisia masuk ke dalam sel bersama Aliza, pintu jeruji besi itu di kunci dari luar agar Trisia tidak kabur.


"Maaf Nona, kami berhak melakukan ini karena kami belum mendapatkan bukti siapa pelaku gambar itu, kami memiliki hak sebagai penanggungjawab keamanan penjara," ujar prajurit itu.


Trisia menjerit-jerit, menolak perlakuan para prajurit itu terhadapnya. Dia mengeluarkan kata umpatan yang tidak sepantasnya dikeluarkan oleh keluarga pihak kerajaan. Para prajurit itu geleng-geleng kepala, kebanyakan dari mereka memang tidak senang dengan tingkah Trisia yang angkuh.

__ADS_1


Pihak prajurit itu menemui Permaisuri Canai. Menceritakan segala perihal terjadi kepada Trisia dan salah satu tahanan di perempuan di bawah tanah, saat itu prajurit juga tidak mengenali perempuan itu sehingga tak menyebutkan nama Aliza.


"Trisia bikin ulah lagi?" tanya permaisuri terheran. Ini kesekian kalinya Trisia melakukan keributan di Canai.


Permaisuri bernama Flora itu merasa sesak, dia bingung harus berbuat apa lagi terhadap keponakannya, ingin menyampaikan itu ke Raja pun dia tentu malu. Permaisuri terdiam sejenak, memikirkan cara agar Trisia jera lagi melakukan hal buruk.


"Biarkan Trisia untuk sementara waktu di penjara, sampai kalian mengumpulkan bukti, tapi awasi kebutuhan makanannya, berikan makanan layak untuknya dan tahanan perempuan itu," titah Permaisuri Flora.


Prajurit itu tersenyum, ternyata permaisuri mereka sangat bijak memutuskan sesuatu, meskipun Trisia keponakannya, permaisuri Flora tidak pernah ingin memihak siapapun.


Permaisuri akan merahasiakan itu sebelum bukti ditemukan, sudah banyak laporan kejahatan Trisia yang ia maklumi, tidak adil rasanya bila harus terus memihak Trisia, sementara Trisia tidak pernah jera dengan kelakuannya.


Di dalam sel yang sama, Trisia memandang Aliza dengan mimik kebencian, Aliza tidak peduli itu, jika Trisia menyerangnya lagi, dia akan melindungi dirinya. Berharap dengan kejadian ini, dia dapat bertemu Garret.


"Kau lihat semua ini, Bibi ku akan memihak padaku, dan aku akan di hukum mati Aliza," kata Trisia.


Ada dua ekor tikus melintas di dekat Trisia, dia menjerit-jerit meminta tolong, Aliza menertawakannya, dia enggan mengusir tikus itu.


***


Garret tiba lagi di istana, ada banyak yang harus ia kemukakan pada Raja Canai. Pembangunan rel kereta api dan kereta terbang harus diperbanyak karena memudahkan penghuni lainnya yang memilih berjalan di atas tanah.


"Kau terlalu serius, apakah anakmu baik-baik saja?", taya Raja Canai padanya.


"Iya yang mulia, dia tumbuh jadi anak yang baik."


Raja Canai melihat gambar struktural Garret, cukup menarik, tidak salah dia menjadikan Garret anak angkat, walaupun Garret enggan tinggal bersamanya di istana, namun ia cukup mendapatkan peran anak dari sosok Garret yang menghargainya.

__ADS_1


"Apakah kau masih mencintai istrimu?" tanya Raja Canai. Dia berempati atas perpisahan Garret dengan Aliza.


Garret sulit menjawab, tai menjawab pun Raja Canai akan tahu seperti apa hancurnya hati Garret sampai saat itu. Raja Canai tersenyum, dia menepuk-nepuk pundak Garret.


"Kau harus sekuat tenaga mengungkapkan aspirasi masyarakat, nanti akan kita rapatkan kembali," ujar Raja Canai memberikan peluang untuk Garret.


Garret sujud syukur di kaki Raja Canai, selama ini dia yakin Raja Canai hanya terjebak dengan aturan ribuan tahun yang lalu, Raja Canai hanya mengikuti Kakek moyangnya. Namun sebagai Raja ia pun tak sampai tega melihat rakyatnya menderita karena perasaan. Cinta lebih utama di banding apapun itu.


Garret bahagia keluar dari ruangan Raja. Dia turun menemui prajurit yang sedang kumpul istirahat, tetapi sebelum menghampiri mereka, Garret terlebih dulu meminta pelayan restoran istana untuk menyiapkan berbagai kudapan makanan untuk mereka.


"Kita makan siang bersama hari ini," ucap Garret. Dia tidak pernah malu duduk berbarengan dengan prajurit lainnya. Saat menjadi manusia, Garret seorang prajurit tentara Inggris, dja merasakan bagaimana sulitnya menjadi prajurit istana kerajaan.


Prajurit itu membahas kelakuan Trisia, Garret sepintas mendengarnya lalu ikut menanyakan hal itu pula.


"Trisia melakukan apa lagi?" tanya Garret penasaran.


"Tuan, keponakan permaisuri itu memang gak sesuai dengan sikap permaisuri Flora, dia selalu membuat kericuhan sana-sini."


Garret menghela nafas, dia merasa bebas dari masalah semenjak Trisia tak mengunjunginya lagi. Ada ban6 peringatan yang sudah diberikan padanya, bahwa dia harus lebih berhati-hati dengan Trisia, perempuan itu terkenal bisa melakukan hal apa saja bila sudah marah terhadap seseorang.


"Memangnya apa yang dia lakukan lagi?" tanya Garret.


"Kemarin dia bertengkar dengan salah satu tahanan perempuan, dia saling cakar-cakaran dan Jambak, untung saja tahan perempuan itu mampu melawannya, rambut Nona Trisia di lepas sebagian karena perempuan itu di ganggu oleh Nona," jelas Prajurit itu.


Garret tertegun, "Wah itu benar? luar biasa juga tahanan perempuan itu, pasti dia sudah kesal dengan sikap Trisia," ujarnya.


Namun prajurit itu enggan mengungkapkan masalah pelik yang terjadi, sebelum bukti mereka temukan, mereka tidak boleh bercerita tentang siapa pelaku gambar bugil permaisuri. Mereka harus mengunci kumu demi menjaga privasi permaisuri Flora. Apa jadinya bila Raja tahu soal itu. Aliza dan Trisia akan di gantung hidup-hidup tanpa menunggu bukti.

__ADS_1


"Jadi Trisia sekarang kemana?" tanya Garret.


"Kami tidak tahu, mungkin saja sekitar istana ini, atau pulang ke rumah orangtuanya," sahut mereka berkilah. Mereka juga tidak tahu tahanan perempuan itu adalah istri Garret.


__ADS_2