Jin Tampan Penghuni Canai

Jin Tampan Penghuni Canai
Bab 32


__ADS_3

Bayu dan Arif telah tiba di Kota, para keluarganya menyambut mereka dengan baik, bahkan kepergian mereka yang sebulan lamanya, membuat keluarganya sempat tak berharap lagi kepulangan mereka. Arif dan Bayu terkejut, baru seminggu mereka di Canai, tetapi kata keluarganya mereka menghilang sebulan lama, keduanya menyadari ternyata dimensi jin dan manusia itu memiliki perbedaan waktu yang cukup signifikan.


"Kalian di sana tersesat, apa yang kalian lakukan?" tanya keluarganya.


Bayu dan Arif tak ada niatan untuk bercerita, lagipula ini rahasia mereka, walaupun bercerita panjang lebar, tak akan ada yang percaya dengan perkataan mereka, semua tak dapat masuk di nalar karena kehidupan dimensi jin tak sembarang orang dapat melihatnya.


"Kami tidak tahu, kami hanya tersesat saja, Bu." Bayu berkelit.


Bayu dan Arif membawa sedikit emas dari Garret untuk diberikan ke keluarganya, ini cara Bayu dan Arif agar lebih ikhlas untuk melepaskan kehidupan di dunia manusia, menjadikan kehidupan keluarganya makmur tanpa ada dirinya lagi.


"Rif, kayaknya kita gak boleh buang waktu, kota harus cari Kak Aliza, sesuai alamat yang diberikan Kak Garret," kata Bayu. Seminggu bagi mereka sangat singkat untuk mencari keberadaan Aliza, tentu Bayu khawatir jika sampai waktunya, Aliza tak diketemukan oleh mereka.


Arif mencari alamat Aliza lewat aplikasi digital. Hanya beberapa menit saja menjelajahi peta digital, Arif sudah menemukan titik lokasi rumah Aliza. Bayu pun mencatat segala yang mereka butuhkan agar dapat leluasa bertemu istri Garret itu.


"Yakin gak kita diterima baik olehnya?" tanya Arif ragu.


"Yakinlah, gue yakin Kak Garret dan Kak Aliza saling mencintai, udahlah kita akan coba semampu kita," kata Bayu bertekad.


Dari luar ada Mbah Kakung Bayu yang datang mengecek keponakannya, Bayu di siram beras suatu bentuk kesyukuran atas kembalinya dia ke dunia manusia.


"Mbah, jangan kayak gini," protes Bayu. Entah mengapa dia tak menyukai tradisi itu.


Mbah Kakung nya tertawa, "Ini bentuk kesyukuran, Nak."


Bayu dan Arif hanya tersenyum masam, seolah tak tertarik lagi dengan kehidupan manusia, separuh sukmanya seperti tertinggal di Canai. Mereka hanya ke dunia manusia untuk benar-benar pamit dari keluarganya, dan mencari keberadaan Aliza.


Mbah Kakung nya merasakan ada bau aneh dari tubuh kedua pemuda itu. Mbak Kakung Bayu mengendus-endus, mencari bau dari tubuh Bayu, cucunya itu tidak lagi berbau manusia pada umumnya, tetapi sudah berbau makhluk gaib.


"Kamu, tapi ..ini tidak mungkin, bagaimana kalian bisa seperti ini?" tanya Mbah Kakung.

__ADS_1


"Wajarlah, Mbah. Kami baru keluar dari kegelapan dimensi lain, tentulah aroma kami berbeda," kata Bayu berkelit lagi.


Mbah Kakung bergegas memegang ubun-ubun cucunya, ubun-ubun Bayu kembali lembek seperti bayi yang baru lahir, sangat jelas dari sentuh tangan Mbah Kakung bahwa cucunya sedang tidak baik-baik saja.


"Jangan membohongiku!" Mbah Kakung membentak cucunya.


Bayu dan Arif saling berpandangan, mereka mencari alasan untuk diberikan pada Mbah Kakung, bagaimanapun caranya mereka harus tetap menyembunyikan keadaan Canai. Mereka tak ingin dihalangi kembali ke Canai.


"Mbah tidak perlu menelusuri semuanya, cukup Mbah pahami saja, jadi tolong jangan buat kegaduhan, Mbah." Bayu memperingati Mbah Kakung nya.


Mbah Kakung terdiam, dia sudah memahami bahwa cucunya telah melakukan perjanjian dengan makhluk gaib, sangat jelas di raut wajah Bayu dan Arif, belum lagi aroma tubuhnya sangat menyengat bau pandan, hanya orang-orang tertentu yang dapat mencium aroma itu, termasuk Mbah Kakung.


Bayu dan Arif pamit dari keluarganya, mereka ingin menuju ke rumah Aliza, pihak keluarganya pun tak berani mencegah, semua pada turut. Mbah Kakung yang menepi begitu terpukul karena sebentar lagi, dia akan kehilangan cucunya untuk selama-lamanya.


"Semoga aja Kak Aliza ada dirumahnya, Rif."


Menggunakan taksi, mereka menuju ke rumah Aliza. Di rumah itu tampak sepi dari luar, Bayu dan Arif kebingungan untuk memulai dari mana. Hampir sejam menunggu di luar pagar, ada mobil yang akan memasuki halaman rumah Aliza, itu Ita yang baru saja pulang kuliah, dia terheran dengan dua pemuda yang terlihat mengintai rumahnya.


"Tenang, Mbak. Saya bukan orang jahat, nama saya Bayu," ucap Bayu dengan bahasa tubuh yang sangat sopan.


Ita mengangguk, dia menoleh kesana-kemari memastikan dia aman, tak sedang di kepung kawanan penjahat.


"Kalian mau apa?" tanyanya.


"Kami mau ketemu Kak Aliza, ini rumahnya 'kan?" tanya Arif.


"Iya, benar ini rumah Aliza, saya adiknya, kalian ada apa cari Kakakku?"


Bayu dan Arif saling berpandangan, keduanya menyunggingkan senyum satu sama lain. Di benak Ita malah menyimpan seribu kecurigaan bahwa pemuda seusianya itu memiliki maksud terselubung.

__ADS_1


"Kami.ingin bertemu Kak Aliza, tolong .." pinta Bayu.


"Untuk apa? Kalian siapa sih?" Ita tetap ngeyel ingin mengetahui identitas Bayu dan Arif.


Bayu dan Arif untuk saja membawa kartu identitas mereka sebagai mahasiswa semester akhir, itu akan jadi alasan utama mereka untuk menemui Aliza.


"Sebelumnya kami sudah buat janji dengan Kak Aliza, tapi mungkin dia lupa, dia salah satu penulis kolom yang ingin kami wawancarai, tolong pertemukan kami," kata Bayu memohon sangat.


Ita memutar mata malas, merasa kecurigaannya berlebihan, dia menghela nafas lalu mengizinkan Batu dan Arif masuk kerumahnya.


Bayu dan Arif di suruh menunggu di sofa, sementara Ita masuk menemui Aliza. Dia mengetuk-ngetuk pintu kamar Kakaknya terlebih dulu. Kunci kamar Aliza pun masih ia pegang.


"Kak, Kak Aliza sudah merasa lebih tenang? Kak?"


Aliza tak menyahut, dia sangat kesal dengan tingkah adiknya yang menguncikan dirinya pintu.


"Kak, di luar ada mahasiswa yan g cari Kakak, katanya dulu udah buat janji," sambung Ita.


Aliza tertegun, dipikirannya mengarah yang tepat bahwa bisa saja kedua mahasiswa itu membawa kabar baik untuknya. Aliza bergegas merapikan dirinya.


"Kau buka pintunya, aku akan keluar," pinta Aliza dari dalam kamar.


Ita membuka pintu itu, dia melihat Kakaknya sedang membenahi rambut, mengganti pakaian yang lebih sopan.Ita merasa Kakaknya kembali normal, tak masalah jika dia tak mengurung lagi Kakaknya di kamar.


"Kak, Maafkan Ita ya, ini Ita lakukan agar Kakak tidak kemana-mana lagi, kita bertiga harus selalu bersama-sama," ucap Ita.


Aliza mengerti kondisi hati kedua adiknya, tetapi ada seseorang yang paling membutuhkannya, yaitu Dominic.


"Aku lagi tidak ingin bahas itu," sergah Aliza.

__ADS_1


Dia keluar menemui tamunya, saat menyapa dari kejauhan, Bayu dan Arif membelalakkan mata karena melihat kecantikan Aliza. Kecantikan istri Garret itu berseri juga bercahaya, berbeda dari perempuan cantik pada umumnya, Aliza memiliki kecantikan khusus yang dimilikinya seorang.


__ADS_2