
Trisia membawakan minuman untuk Sania dan Rio, seolah seperti nyonya di rumah Garret meyambut kedatangan para tamunya. Lirikannya sinis pada Sania, karakter Sania yang jutek menatap tajam Trisia, menantang gadis berambut coklat itu.
"Aku masak dulu ya," kata Trisia ke Garret. Tangannya mengusap pundak Garret, memperlihatkan sikap mesranya pada Sania dan Rio.
Sania menggigiti bibirnya sendiri, dia mengumpat dalam hati. Suami sahabatnya diperlakukan mesra oleh wanita lain, tentu ia tak terima itu.
"Jangan anggap serius, dia memang sering bercanda, tak ada spesial dari kami," sergah Garret. Dia ingin meredam kejengkelan Sania terhadap Trisia.
Sania menghela nafas, "Aku rasa kau bisa membayar sepuluh pengasuh, apa pentingnya gadis itu disini? Jika kau masih menginginkan Aliza, tentu tak akan membiarkan dia khawatir dengan kehadiran gadis itu disini," tutur Sania menyindir halus.
Rio mencubit tangan istrinya, sangat tidak enak dengan sikap spontanitas Sania yang blak-blakan. Sania tak menghiraukan itu, dia tetap meluapkan kekesalannya.
"Aku paham itu, Garret. Kau membutuhkan wanita sebagai hiburan, tapi bagaimana jika Aliza tahu? Apakah dia masih mencintai jika tahu ini?"
Garret tak bergeming, menyimak semua perkataan Sania yang ia yakini itu benar. Namun dia pun juga lelah bila harus terus-menerus mengusir Trisia, tetap saja gadis itu kembali dengan seribu cara kebaikan yang ia tawarkan. Di balik tembok, ada Trisia yang mendengar perkataan komplain Sania. Dai hanya tersenyum miring karena telah berhasil membuat kesal sahabat Aliza itu.
"Maafkan istriku, Garret. Dia memang seperti ini, terlalu kritis," kata Rio mencairkan suasana.
"Aku mengerti, Sania sangat menyayangi Aliza, aku tahu itu," sahut Garret.
Di ujung ruangan itu, Bayu dan Arif hanya jadi pengamat, makan sambil mendengarkan percakapan mereka, memilih diam tak ikut campur. Sulit bila berada diposisi Garret, di sisi lain dia hatur menghargai Trisia, namun ada hati Aliza dari jauh harus ia jaga.
Sania pit ke toilet, pengasuh itu menunjuk ke toilet belakang tepat di samping dapur, bagi Sania ini kesempatan untuk berbicara empat mata sejenak dengan Trisia. Dia mengamati keadaan luar, Garret sibuk mengobrol dengan Rio. Setelah merasa aman, Sania ingin menghampiri Trisia, nyali gadis keturunan Chinese itu memang selalu besar.
"Berhentilah berkhayal menjadi Nyonya besar di rumah sahabatku," ketus Sania seraya menyilang kan kedua tangannya.
Trisia berhenti memotong sayuran, dia tersenyum mengejek pada Sania.
__ADS_1
"Seharusnya kau yang berhenti mengkhayal Jiak sahabat lu bisa kembali lagi ke rumah ini, itu tidak akan mungkin," sahut Trisia.
Sania berdehem, tatapannya ingin menerkam Trisia, "Aku kira cuma di dunia manusia ada namanya pelakor, ternyata di dunia jin juga ada gadis gorong-gorong."
"Maksudmu?" tanya Trisia tak memahami maksud dari perkataan Sania. Istilah-istilah itu tak ada dipakai di dunia Canai.
Sania tertawa terbahak-bahak, "Gadis gorong-gorong," ucapnya berulang kali.
"Tertawa lah, sahabat mu juga tidak akan bisa kembali, namanya sudah masuk dalam catatan hitam Canai," papar Trisia. Untuk pertama kalinya rahasia itu diungkapkan pada seseorang, bahkan Garret pun tak mengetahui itu.
Sania tersentak, dia tidak mengerti sepenuhnya yang dikatakan Trisia, tapi nada serius Trisia menakutkannya. Melihat mimik wajah Sania, Trisia tersenyum miring.
"Kau terkejut? Aku sudah bilang, sahabat mu tidak akan kembali, jadi apa salahnya jika aku disini sebagai penggantinya? Aku janji akan menyayangi Dominic," kata Trisia.
Sania tak mau kalah, dia tetap menyakini Jiak Aliza akan berkumpul kembali dengan anak dan suaminya. Dia merasa akan ada keajaiban yang dikaruniakan pada Aliza.
Trisia mengangkat pisau tajam itu, dia kalah dengan ucapan Sania, ucapan yang juga memberikannya peringatan bahwa ada kekuatan yang lebih besar ketimbang dari penguasa Canai. Sania tersenyum miring, merampas pisau itu dari Trisia, pisau di buang ke tempat sampah.
"Jadilah penghiburnya untuk sementara waktu, tapi jangan terlalu larut dalam perasaan mu," lanjut Sania mengejek.
Sania keluar dari dapur dengan perasaan campur aduk, ada rasa karena telah menggertak Trisia, namun ada rasa kekhawatiran bila yang dikatakan Trisia benar adanya. Dia tak ingin Aliza berpisah dari keluarga kecilnya, Sania ingin hidup bersama Aliza di Canai, menjalin hubungan persahabatan hingga akhir hayat keduanya.
"Sudah?" tanya Rio pada Sania.
Hanya anggukan yang mewakili jawabannya, Sania kembali berfokus pada Dominic, namun penuturan Trisia mengusik pikirannya, dia pun memberanikan diri bertanya itu pada Garret dan Rio.
"Apa yang di maksud oleh catatan hitam di Canai?"
__ADS_1
Garret dan Rio melongok, baru kali ini ada yang bertanya itu, tentu keduanya terkejut karena hanya beberapa orang saja yang dimasukkan di catatan hitam, yang masuk hanya orang yang benar-benar dinyatakan bersalah dan merugikan kehidupan Canai.
"Sama dengan di blacklist di dunia mu, yang berarti kamu tidak bisa lagi hidup di dunia Canai, apapun alasannya," jelas Rio.
Sania menelan ludahnya, dia kembali berfokus pada Dominic yang bermain dengan putrinya, mata Sania sembab, ingin rasanya dia membawa Dominic keluar dari Canai agar dapat hidup bersama Ibunya. Aturan Canai sungguh kejam, Aliza yang tak bersalah malah dijatuhkan hukuman yang teramat berat, batin Sania.
"Garret, apakah aku boleh membawa Dominic ke rumah kami? Sesekali tinggal bersama kami," pinta Sania penuh harap. Dian ingin berperan penting dalam merawat Dominic.
""Boleh saja, aku percaya kamu akan menyayanginya," sahut Garret. Berlaku demikian cara Garret melenyapkan sedikit kerinduan Dominic pada Ibunya, aura Sania cukup membuat Dominic tenang bila berada didekatnya.
***
Aliza mendengar keributan dirumahnya, dia bangun dengan terpaksa, beranjak membuka pintu, di ruang tamu ada banyak yang sedang mengelilingi Ita, adik bungsunya itu kesurupan seraya memanggil nama hutan Canai. Diantara kerumunan keluarga dan temannya, ada Benny yang menyelip mengkhawatirkan Ita.
"Dia kenapa?" tanya Aliza pada Ifa.
"Tiba-tiba Ita kayak gini, dia kesurupan, Kak."
Ita tak henti berteriak dengan menyebut nama hutan Canai, bahkan suaranya sesekali memekik, tertawa cekikikan, dan berubah menjadi bringas ingin mengigit teman-teman yang menahan tubuhnya kala itu.
"Apa hubungannya kau dengan Canai?" tanya Aliza penasaran. Dia penasaran dengan makhluk yang merasuki tubuh adiknya.
Iya menjerit-jerit, tertawa terbahak-bahak, bahkan dia mengumpat nama Aliza. Sebagai Kakak, Aliza terkejut dengan umpatan adiknya, selama ini kedua adiknya tak pernah mengeluarkan kata kasar sedikitpun.
"Kau siapa?" tanya Aliza.
Iya melirik tajam ke Aliza, "Aku istri barunya Garret," jawab Ita dengan suara menggelegar.
__ADS_1
Aliza melepas tangan dari adiknya, dia terkejut dengan penuturan Ita yang dianggap sesosok makhluk telah merasuk tubuh mungil itu.